Keesokan harinya, pemakaman Mary dilangsungkan dalam kesunyian yang menyesakkan dada.
Setelah pertimbangan panjang, Ferno akhirnya memutuskan untuk memakamkan sang kakak di Smara—tepat di belakang rumah warisan ibu kandung Mary yang sudah direnovasi. Rumah itu seharusnya menjadi tempat tinggal Mary setelah Ferno lulus tahun ini. Gadis itu bahkan telah lebih dulu membeli beberapa perabot, menatanya dengan penuh semangat, dan menyimpan banyak barang penting di sana—seolah ingin memastikan rumah itu benar-benar siap menyambut hidup barunya.
Namun takdir tidak pernah memberinya kesempatan.
Sebelum benar-benar menetap di rumah itu, nyawanya direnggut dengan cara yang tak pernah diduga siapapun.
Atas alasan itulah, keempat sahabatnya sepakat Mary dimakamkan di belakang rumah tersebut. Makamnya dikelilingi hamparan bunga matahari berwarna kuning cerah—bunga kesukaannya. Bunga-bunga itu berdiri mengitari makam Mary seperti pagar cahaya, menjadikannya tempat persemayaman paling indah yang pernah dilihat oleh lima pria itu. Sebuah lambang cinta untuk ikatan mereka dengan Mary.
Pemakaman itu berlangsung sederhana.
Tak banyak orang yang hadir. Selain mereka, hanya beberapa warga Smara yang dahulu mengenal Mary. Pandu datang—pria yang pernah mengurus panti asuhan milik keluarga Mary sekaligus membantu mengurus warisan dan penginapannya. Beberapa pekerja kebun milik keluarga Mary juga ikut membantu prosesi pemakaman gadis itu.
Bukan karena Mary tidak disayangi. Bukan pula karena ia tidak memiliki siapa-siapa, seperti teman kuliah atau sekolah. Justru karena Mary sendiri tak pernah menginginkan keramaian. Baginya, kehadiran empat sahabat dan adik laki-lakinya—-satu-satunya keluarga yang ia miliki—sudah lebih dari cukup.
Itulah yang dulu pernah ia katakan pada Ferno.
Saat itu, Ferno mengira ucapan kakaknya hanya sekedar candaan. Siapa sangka, di antara mereka berenam, justru Mary yang lebih dulu pergi. Seolah-olah sang kakak telah mengetahui bahwa hidupnya tak akan pernah sepanjang usia kelima pria itu.
Setelah prosesi pemakaman selesai dan papan nama Mary diletakkan di atas makamnya, satu persatu orang yang hadir mulai pergi. Tinggallah empat sahabat Mary dan adik laki-lakinya di sana.
Menyadari betapa sang kakak sangat menyayangi sahabat-sahabatnya, Ferno sengaja menjauh. Ia memberi ruang bagi keempat pria itu untuk berdoa.
Dari kejauhan, ia memandangi empat punggung yang kini kehilangan dunianya. Tubuh-tubuh itu berdiri kaku, rapuh, dan hancur dalam diam.
“Mary …” Shin membuka suara lebih dulu. Suaranya bergetar oleh tangis yang tertahan. “Kamu baik-baik di sana, ya. Jangan lupakan kami. Kami di sini juga enggak akan melupakan kamu.” Ia menarik napas panjang sebelum melanjutkan. “Janjiku buat jadi aktor terkenal pasti akan aku wujudkan. Tunggu aku. Nanti, kalau aku sudah terkenal, aku bakal datang lagi ke sini dan nunjukkin semuanya ke kamu. Biar kamu bangga. Sebagai penggemar pertamaku … itu hadiah yang bisa aku kasih.”
“Mary …” Leo menyusul. “Maaf. Aku jadi dokter karena ingin jadi orang yang bisa mengobati kalian kalau sakit. Tapi aku gagal, Mary. Aku tidak bisa memakai apa yang aku punya untuk menyelamatkanmu … untuk menyembuhkanmu.”
Ia menghapus air mata yang jatuh di balik kacamatanya.
“Tapi … aku janji. Di masa depan …” suaranya terputus sesaat, “... aku akan jadi dokter yang hebat.”