Seminggu kemudian.
Shin sebenarnya ingin tinggal lebih lama di Prema. Baginya, kota itu masih menyimpan terlalu banyak kenangan tentang Mary—tentang masa muda mereka, tentang tawa, debat kecil, dan persahabatan yang tumbuh bersama gadis itu. Namun, kenyataan tak memberinya banyak pilihan. Ada pekerjaan yang menunggu dan tak bisa ditunda. Meski jadwal syuting filmnya diundur, beberapa kontrak iklan sudah menanti. Itu berarti satu langkah lagi menuju janji yang pernah ia ucapkan pada Mary.
“Kabari kalau sudah sampai di Antarlina,” ujar Leo sambil menepuk bahu Shin.
Shin memilih penerbangan pagi dari Prema ke Antarlina. Pesawatnya berangkat pukul enam, dan dua jam sebelumnya ia sudah berdiri di bandara, ditemani oleh tiga sahabatnya—Reiner, Glen, dan Leo.
Shin mengangguk pelan. “Yeah,” jawabnya lesu.
“Jaga diri baik-baik,” ujar Glen.
“Pasti.”
Reiner tak berkata apa-apa. Ia hanya tersenyum kecil. Senyum tipis itu sudah cukup bagi Shin—tanda bahwa sahabat yang paling sering berdebat dengannya itu tetap peduli.
“Kalian juga …” Shin menatap mereka satu persatu. “Jaga diri. Jangan lupa makan dan istirahat. Terutama kamu, Rei.”
Sejak kepergian Mary, tak ada seorangpun dari mereka yang benar-benar baik-baik saja. Reiner, Glen, dan Leo memang kembali pada pekerjaan masing-masing, tetapi ada sesuatu yang hilang dari mereka. Shin sendiri sempat membantu Ferno mengurus penginapan peninggalan Mary. Namun suasananya berubah. Kehangatan yang dulu mengisi setiap sudut bangunan itu seakan ikut pergi bersama pemiliknya.
Mary pergi membawa serta cahaya yang dulu membuat hidup mereka terasa lebih hangat. Senyum cerah yang biasa menghiasi wajah mereka kini menghilang, lenyap bersama kepergian gadis itu.
Reiner mengangguk singkat. “Ehm.”
Shin seharusnya segera masuk untuk check-in. Namun baru saja ia berbalik, langkahnya terhenti. Ia menoleh lagi, lalu mendekat dan memeluk ketiga sahabatnya sekaligus.
Reiner dan Glen hanya terdiam. Leo menatapnya heran.
“Kenapa, Shin?” tanya Leo.
Shin melepaskan pelukannya, lalu menunduk. Ia ingin menangis. Seminggu berlalu sejak kematian Mary, tapi hatinya masih menolak menerima kenyataan itu. Air matanya kerap jatuh tanpa aba-aba.
“Sekarang …” suaranya bergetar. “Kita cuma berempat. Aku balik ke Antarlina, kalian di sini. Persahabatan kita … enggak akan putus, kan?”
Reiner terkekeh kecil. Tangannya terangkat dan memukul kepala Shin pelan. “Kamu ini ngomong apa?”
Shin meringis dan langsung memegang kepalanya. Matanya melotot tajam ke arah Reiner. “Kenapa mukul kepalaku?” protesnya. “Gimana kalo aku tambah bodoh karena pukulanmu, Rei?”
“Sebelum aku pukul juga, kamu sudah tambah bodoh,” balas Reiner dingin.
“Rei!” teriak Shin sambil mengangkat tangan hendak membalas.
“Cukup,” ujar Leo cepat, menahan tangan Shin sebelum keributan berlanjut.
Tiba-tiba Glen memeluk mereka bertiga sekaligus, membuat semuanya terkejut.
“Glen!” Reiner mengernyit. “Kenapa kamu juga ikut-ikutan?”
Glen tersenyum tipis. “Cuma ingin saja.” Ia terdiam sejenak sebelum melepaskan pelukan itu. “Demi Mary … persahabatan kita enggak boleh terputus apapun yang terjadi. Mary pasti enggak suka kalau kita terpisah hanya karena jarak.”
Tak ada yang membantah. Reiner, Shin, dan Leo hanya diam, menyetujui tanpa kata.
Hening menggantung di antara mereka. Bandara memang tak terlalu ramai, tetapi suara pengumuman dan langkah kaki orang-orang tetap terdengar. Namun bagi keempat pria itu, semua kebisingan terasa jauh—tak mampu menutupi kekosongan yang mengendap di dada mereka.
“Gini …” Reiner akhirnya membuka suara. “Karena Mary sudah enggak ada, kita enggak akan lupain dia, kan?”
“Tentu saja,” jawab Shin cepat.
“Iya,” sahut Leo dan Glen hampir bersamaan.
“Dua hari dalam setahun,” lanjut Reiner ragu-ragu, “kita luangkan waktu untuk Mary. Di manapun kita berada, setiap tanggal 27 Januari dan 20 Juni, kita harus datang ke Smara. Mengunjungi Mary.”
Mereka saling berpandangan, lalu mengangguk pelan.
Tanpa perlu dijelaskan, mereka mengerti. Dua tanggal itu penting: satu adalah hari yang pernah dianggap Mary sebagai hari persahabatan mereka, dan satu lagi adalah hari kelahiran sekaligus kepergiannya. Dua hari yang akan menjaga kenangan Mary tetap hidup.