"Lihat, Tuan. Malam ini akan dilelang sebuah perhiasan kuno bernilai sangat tinggi. Tuan wajib memilikinya," ucap seorang anak buah dengan nada penuh keyakinan.
Pandangannya tertuju pada sosok di hadapannya—wajah tegas, tampan, namun memancarkan aura sedingin es, cukup membuat siapa saja menahan napas hanya dengan satu tatapan.
Itulah Emilio Ruggiero, 30 tahun. Pemimpin Famiglia Ruggiero—kelompok paling berpengaruh dan disegani di seluruh Sisilia hingga sebagian wilayah Napoli.
"Benar, Tuan. Kabarnya malam ini juga akan ada lelang khusus yang melibatkan beberapa wanita muda..." sambung orang lain, namun kalimatnya terhenti tanpa tanggapan.
Emilio sama sekali tidak merespons. Ia duduk tenang di kursi, jari-jemarinya menggenggam gelas kristal. Tanpa ekspresi, ia meneguk minumannya perlahan—seolah seluruh keramaian di sekitarnya tak lebih dari gangguan yang tak berarti.
Suara musik bergema kencang, lampu berkelip berlebih, suasana terasa riuh dan tak terkendali. Beberapa wanita dengan pakaian terbuka mulai mendekat, mengelilinginya dengan senyum menggoda dan gerakan tubuh yang memancing perhatian.
Namun Emilio tetap diam. Tatapannya kosong, dingin, tak tersentuh sedikit pun. Seolah tak ada satu pun yang layak mendapat tempat di pandangannya.
Hingga seorang pelayan muncul dari balik kerumunan, membawa nampan berisi minuman.
"Minuman Anda, Tuan," ucapnya sopan sambil menuangkan cairan berwarna keemasan ke gelas kosong Emilio.
Detik berikutnya, sikapnya berubah drastis. Gerakannya cepat, terlatih, dan berbahaya. Dari balik punggungnya, ia menarik senjata api dan langsung mengarahkannya tepat ke wajah Emilio.
Dor!
Suara ledakan memecah keramaian. Tapi peluru itu meleset—bukan kebetulan. Sesaat sebelum tembakan dilepas, Emilio sudah menggeser tubuhnya sedikit, cukup untuk membuat peluru hanya menembus langit‑langit ruangan.
Brakk!
Belum sempat penyerang itu sadar, tubuhnya sudah terlempar keras ke belakang, menabrak meja kaca hingga pecah berkeping‑keping. Senjata di tangannya kini sudah berpindah ke tangan Emilio.
Emilio berdiri perlahan. Tatapannya yang tadinya kosong kini berubah tajam, setajam bilah pisau yang siap mengiris. Ia mengarahkan senjata tepat ke kepala orang yang terkapar itu.
"Siapa yang menyuruhmu?" tanyanya rendah namun penuh tekanan, membuat udara ruangan terasa makin berat.
Di sekelilingnya, suasana berubah menjadi kacau balau. Para tamu berteriak panik dan berlarian menyelamatkan diri. Sementara itu, belasan pria berjas hitam mulai keluar dari sudut ruangan, mendekat dengan gerakan terukur—bukan tamu biasa, melainkan orang yang datang dengan satu tujuan: menghabisi nyawa.
Dua anak buah Emilio segera melangkah maju, berdiri tegak di depan pemimpinnya.
"Tuan, ini jebakan," bisik salah satu dengan waspada.
Emilio justru tersenyum tipis—senyum tanpa rasa takut sama sekali.
"Bagus," gumamnya pelan. Ia memiringkan kepala sedikit, menatap para pengepungnya. "Sudah lama aku tidak berlatih..."
Tatapannya menyapu seluruh lawan. Napas mereka berat, langkah pasti—jelas bukan orang sembarangan.
Lalu—
Klik.
Di luar dugaan, Emilio menurunkan senjata dan memasukkannya kembali ke dalam saku jas hitamnya.
Anak buahnya saling pandang kaget. "Tuan...?"
Emilio tak menjawab. Ia melangkah satu langkah ke depan, meregangkan otot lehernya pelan—seolah tubuhnya baru saja bangun dari istirahat panjang.
"Kalian terlalu berisik," ucapnya datar.
Salah satu penyerang menggeram marah. "Sialan! Serang dia!"
Mereka bergerak bersamaan—cepat, kasar, dan penuh kekuatan. Namun bagi Emilio, kecepatan itu masih terasa lambat.
Pria pertama melayangkan pukulan lurus ke wajahnya. Emilio tidak menghindar. Ia menangkap pergelangan tangan itu dengan cengkeraman kuat...
Krek!
Suara tulang patah terdengar jelas. Jeritan nyaring meledak dari mulut pria itu, namun Emilio belum berhenti. Ia menarik tangan lawan, memutar tubuhnya, lalu—
Bugh!
Sikutnya menghantam rahang dari arah bawah. Kepala pria itu terangkat paksa. Dengan gerakan dingin tanpa emosi, Emilio mencengkeram dagunya dan memutarnya.
KRAKK!!
Tubuh itu langsung lemas seolah boneka rusak.
Belum sempat jatuh sepenuhnya, Emilio sudah bergerak lagi. Dua orang maju dari kiri dan kanan, membawa senjata tajam yang berkilau.
Bukannya mundur, Emilio justru melangkah masuk ke jarak terdekat. Tangannya bergerak secepat bayangan—menepis pergelangan tangan kiri lawan.
Krak!
Tulang tertekuk ke arah yang tak wajar. Senjata terlepas.
Di saat yang sama, kakinya menghantam lutut lawan sebelah kanan.
Krak!
Lutut itu ambruk, pria itu jatuh sambil mengerang kesakitan.
Emilio menangkap kepala orang di kirinya dengan satu tangan, lalu tanpa ragu membenturkannya ke kepala orang di kanannya.
Bugh!
Noda merah memercik. Keduanya langsung tumbang.