4 tahun tinggal di rumah hantu

Maghfira Izani
Chapter #3

Rumah yang asri

Daerah tempat tinggal kami dulu termasuk kawasan yang sepi terutama pada malam hari, meskipun tak begitu jauh dari keramaian kota Depok, salah satu kota di provinsi Jawa Barat. Konon, orang bilang Depok adalah tempat jin buang anak. Namun tak sedikitpun aku mempercayai cerita‑cerita semacam itu.


Sekilas daerah tempat kami tinggal, kampung Singgarlaya, terlihat begitu damai dengan kesahajaan sebuah kampung yang asri. Pohon‑pohon dan rerumputan tampak menghijau di setiap sudut kampung, menjadikannya pemandangan menakjubkan yang seolah menentramkan hati.


Tak begitu jauh dari batas kampung, tampak sungai kecil mengalir tenang mengairi sawah dan ladang para petani. Sungai tersebut memanjang dan bermuara pada empang‑empang yang banyak dikelola para warga. Pada siang hari, empang‑empang itu hampir selalu didatangi pengunjung untuk memancing. Biasanya para pengunjung betah berlama‑lama memancing di sana. Satu empang yang paling besar, berada tak jauh dari rumah kami.


Belum ada angkot yang melewati daerah kami. Untuk ke rumah kami, harus menggunakan jasa tukang ojek atau membawa kendaraan sendiri. Jarak dari jalan raya Jakarta‑Bogor ke tempat kami masih terlalu jauh untuk dicapai dengan jalan kaki. Jika melewati jalan ini menggunakan motor, dengan leluasa akan terlihat keindahan pemandangan di sepanjang kanan kiri jalan. Menyusuri jalan kecil berliku yang belum tersentuh aspal, lalu melewati dua buah tanjakan yang curam.


Tepat di atas tanjakan yang tampak kekar inilah tempat kami bernaung kurang lebih empat tahun lamanya. Rumah kami sebenarnya terdiri dari dua lantai, namun lantai atas hanya difungsikan sebagai jemuran. Jadi kebanyakan aktivitas kehidupan berada di lantai satu.


Rumah dengan kiri kanan kesunyian. Sebelah kanan tampak hamparan sawah dan sebuah lapangan golf yang belum difungsikan, sehingga lahannya digarap oleh penduduk sekitar. Hijau dan dau yang khas benar‑benar telah memikat hati kami. Kesunyian semakin lengkap dengan jurang terjal dan empang besar yang bila dilihat dengan seksama akan lebih menyerupai sebuah telaga dan bila malam hari tiba, tampak seperti bayangan hitam pekat.


Di sisi depan kiri dan samping rumah adalah tanah kosong. Tepat di sebelah kiri dipenuhi rimbun belukar. Dulu, lahan ini digunakan untuk peternakan ayam ras. Entah kenapa hingga kini peternakan itu dibiarkan mati begitu saja, menyisakan tonggak‑tonggak dan puing bekas kandang yang hampir tak terlihat karena tertutup oleh tingginya rerumputan belukar.


Ketika malam hari melewati jalan di depan rumah kami, yang terlihat hanya kesunyian yang menindih bulu roma, ditemani desau angin dan gesekan rumput ilalang.


Tepat di depan rumah kami, jangan harap ada penerangan jalan. Meskipun ada beberapa stop lampu dan bekas lampu penerang di teras rumah, lampu‑lampu itu tak pernah kami nyalakan. Mungkin orang akan menduga betapa peliknya kami sampai‑sampai orang saja tak mau kami ketahui. Namun bagi penduduk sekitar kampung kami, hal ini sudah tak asing lagi. Sengaja aku kunyalakan lampu‑lampu itu karena aku sudah terlalu bosan untuk menyala‑nyalakannya.


Mengapa bosan? Kelak Anda akan mengetahui dengan sendirinya.


Aku sungguh bersemangat melanjutkan kehidupanku dengan gairahn baru di tempat itu. Begitu juga Yanti, perempuan cantik yang telah kunikahi dua tahun lalu. Dia berumur dua puluh satu tahun ketika kami baru menempati rumah itu. Kebahagiaan juga bertambah kehadiran Pijar, buah hati yang sedang lucu‑lucunya. Saat itu, Pijar baru mulai belajar berjalan.


Kami pindah ke rumah ini sekitar pertengahan tahun 2005. Awalnya aku begitu bangga menempati rumah dengan desain yang unik dan terletak di dataran yang lebih tinggi dibandingkan sekitar. Jika dilihat dari bawah, rumah ini tampak seperti vila di atas bukit.


Rumah itu kubeli dari seorang pegawai perkebunan. Konon mereka pindah karena akan menempati rumah yang lebih besar. Tak pernah terlintas di pikiranku sedikitpun, bahwa rumah menjadi rumah ini karena hal yang lain. Sebagai orang yang merasakan kebahagiaan semata‑mata, aku sangat bersyukur bisa memiliki rumah ini.


Hari pertama kami menempati rumah ini, sepertinya tak ada yang mengganggu ketenangan kami. Kemudian malamnya keanehan itu mulai terasa. Udara dingin yang kurasa lebih dari biasanya, bahkan terasa menggigilkan tulang. Sore itu kami merasa sangat lelah dan segera beristirahat.

Lihat selengkapnya