Empat bulan kami menempati rumah baru ini.
Siang yang panas. Matahari bertengger kokoh membakar bumi dengan teriknya. Langit membiru tanpa awan. Daun‑daun kering jatuh satu per satu berserakan di tanah. Ranting‑ranting pohon bergoyang diterpa angin musim kemarau, angin yang sedikiti menolongku dari sengatan terik matahari.
Jalanan agak sepi. Tak banyak kendaraan berlalu lalang, tak ada pejalan kaki. Orang‑orang lebih memilih untuk bersabar menunggu sore bila akan pergi ke suatu tempat dengan berjalan kaki, apalagi jika harus melewati jalanan ini. Tetapi bila keadaan memaksa, banyak pula yang menyewa ojek untuk mengantar ke mana pun tujuan mereka.
Jalanan yang bergelombang membuatku terangguk‑angguk pada sebuah jok belakang sepeda motor tukang ojek. Sepeda motor tua merayap tersek‑seok dan harus mengalah pada kondisi jalan yang kami lalui. Beberapa kali kami hampir tergelincir karena roda sepeda motor yang karetnya sudah botak menghantam batu‑batu yang banyak menumpuk di pinggir jalan.
Tukang ojek terkesan ragu membawa motornya. Kalau dia belum seberapa mahir memegang kendaraannya ini, atau barangkali memang belum terbiasa dengan jalannya. Begitu pelan dia memacu motornya, meracau salah yang rata dari banyaknya lubang dan gelombang di sepanjang jalan yang kami lalui.
Lama kami merayap dalam situasi yang kurang menyenangkan. Kalau saja mobil dan sepeda motor itu tidak sedang rusak seperti hari ini, tentu saja aku tidak akan memilih ojek untuk perjalanan jarak jauh. Kalau saja aku tak terlanjur berjanji pada seseorang, tentunya aku lebih memilih untuk bersama menghabiskan waktu bersama keluarga di rumah.
Agak jauh di depan kami, belasan orang tampak berkerumun di pertigaan. Sepertinya ada sesuatu yang sedang menjadi pusat perhatian orang‑orang tersebut. Di antara mereka ada yang berdiri, ada pula yang membungkukkan badannya. Beberapa orang bahkan tampak berjongkok.
Tukang ojek yang memegang kendali penuh pada sepeda motornya itu kulihat semakin melambatkan laju sepeda motornya. Sejenak kemudian dia menoleh ke belakang lalu berkata pelan kepadaku.
“Kelihatannya sih kecelakaan.”
“Kita berhenti sebentar ya.” Pintaku saat kami sudah di dekat kerumunan itu. Setelah motor berhenti, aku lalu meloncat turun dari jok belakang sepeda motornya.
Kulihat belasan orang mengerumuni tubuh seorang laki‑laki yang tergeletak di pinggir jalan. Dua orang di antara mereka tampak sedang memberikan pertolongan kecil pada laki‑laki yang tergeletak itu. Mereka mengguncang‑guncangkan tubuh laki‑laki tersebut berharap dia dapat segera terbangun dari pingsannya. Laki‑laki yang pingsan itu masih muda, kelihatannya usianya terpaut jauh di bawah usiaku.
“Orang pingsan di sini sudah sering terjadi, berkali‑kali.” Terdengar bisikan seseorang yang berdiri di dekatku pada orang di sebelahnya.
“Kejadian lagi rupanya.” Sahut seseorang lainnya.
Aku memperhatikan mereka, terlebih pada pemuda yang terdiam kaku itu. Aku sendiri tak mengerti apa maksud perkataan mereka.
Kuperhatikan tubuh pemuda yang tergeletak itu masih tampak begitu segar dan mulus tanpa luka. Hanya wajahnya saja yang terlihat sangat pucat, membedakan dia dengan orang‑orang sehat di sekitarnya. Sementara tak begitu jauh dari tubuh pemuda itu, tersandar rapi sepeda motor bebek yang juga tanpa tanda‑tanda bekas benturan ataupun habis terjatuh.
Kata orang di sebelahku, sepeda motor itu milik pemuda itu. Kebetulan orang itu mengenal si pemuda yang pingsan tersebut. Mereka sama‑sama tinggal di kampung sebelah, cukup jauh jaraknya dari lokasi kejadian.
Tubuh dan pakaiannya yang terlihat bersih tanpa noda darah maupun kotoran sama sekali tak terlihat seperti korban kecelakaan. Dan ini membuatku cukup heran. Beberapa orang saling berbisik, sesekali menunjuk‑nunjuk pada pemuda itu. Entah apa yang mereka bisikkan.
Tubuh pemuda itu tetap kaku. Tak henti‑henti dua orang di dekatnya terus berusaha membangunkannya. Wajah orang‑orang di lokasi itu terlihat begitu cemas menyaksikan pemandangan tersebut. Semua larut dalam suasana yang hiruk tetapi penuh dengan tanda tanya. Aku ikut terpaku di sana, menjadi cemas dan khawatir tiba‑tiba.
“Kenapa dia?” Tanyaku pada salah satu dari mereka.
“Kami menemukan dia sudah pingsan, mas.” Jawabnya dengan suara datar.
Aku mendekat pada tubuh si pemuda. Kudengar dengus napasnya yang memburu meskipun dia dalam kondisi tak sadarkan diri. Aku membungkukkan badan, lalu kusentuh…
“Kenapa pak?” Tanyaku lagi.
Tukang ojek memutar tubuhnya, kemudian memandang ke sekeliling seolah ada yang dia cari. Beberapa saat kemudian dia berucap lirih, “Si Merah…”
“Si Merah?” Tanyaku penasaran. Aku merasakan seperti ada sesuatu yang disembunyikan oleh tukang ojek itu.
“Ah, saya nggak bisa ngomong di sini pak. Nggak enak!”
Seseorang membawakan satu botol besar minyak angin, kemudian melumuri hidung dan mulut pemuda tersebut dengan minyak angin tersebut, namun dia tetap tak bergerak, kaku seperti mayat. Aku merasakan membayangkan bila cairan itu membangkitkan hidungku yang sensitif. Pasti sangat panas dan membuatku tersiksa!