4 tahun tinggal di rumah hantu

Maghfira Izani
Chapter #5

Katering Bu Kardi

Matahari sudah condong ke timur ketika kami sampai di Banjaran. Angin berhembus merayapi pori‑pori kulit tubuhku yang tak berlapis lagi selain kemeja tipis. Seandainya aku membawa jaket dari rumah, aku tak harus menahan dingin udara petang seperti ini. Aku menggigil di belakang tubuh Pak Sarta yang gempal.


Jalanan temaram yang kami lalui tinggal beberapa saat lagi mencapai tempat tujuan. Kami memasuki sebuah pekarangan yang cukup luas. Tampak hiruk‑pikuk puluhan orang sedang menjalankan aktivitasnya di depan sebuah bangunan besar yang dijadikan sebagai tempat memasak. Tempat itu lebih mirip dapur umum. Di sana‑sini bertebaran alat memasak dan rantang‑rantang biru pembungkus nasi bersusun‑susun.


Sebuah papan merk terpampang gagah di atas pintu utama, dengan tulisan "WISMA KATERING", sebuah brand usaha tata boga di tempat ini. Sekilas keramaian yang ada layaknya keramaian sebuah hajatan atau dapur besar orang kawinan. Sekitar tiga puluh orang karyawan bekerja sesuai bagian masing‑masing, laki‑laki dan perempuan.


Tiga orang karyawan laki‑laki tampak sibuk mengepak kotak‑kotak nasi dari bahan karton putih, sebagian lagi sedang mengaduk masakan berkuah yang tampak bergolak mendidih di atas tiga panci besar. Wajah mereka berkilat‑kilat karena keringat yang memantulkan cahaya api tungku.


Beberapa meter dari pintu utama tampak lima orang sedang mengelilingi tikar yang digelar memanjang. Di atas tikar itu tertampar sayur‑mayur dan buah‑buahan segar bermacam‑macam. Mereka sedang memilah‑milah sayur‑mayur dan buah‑buahan sesuai dengan jenisnya. Ada yang bertugas memasukkannya ke dalam plastik lalu menaruhnya ke atas tikar, yang selanjutnya akan diambil oleh dua orang lainnya. Mereka lalu menekan ujung plastik itu dengan staples. Semua tampak sistematis meskipun dikerjakan secara manual. Diam‑diam aku mengagumi cara kerja mereka yang begitu cepat dan spontan.


Kedatanganku ke tempat ini adalah untuk memenuhi janji beberapa hari sebelumnya pada Bu Kardi, bahwa aku akan mendengarkan penjelasan lengkap soal ajakan untuk bergabung dalam bisnis katering miliknya.


Beberapa saat kemudian tampak dua orang, laki‑laki dan perempuan, menyambut kedatangan kami dengan wajah ceria. Pakaian mereka tampak rapi dan mahal, sangat berbeda antara kedua orang itu dengan para karyawan di sekitar mereka. Siapapun yang melihatnya pastinya bisa langsung menebak bahwa kedua orang itu adalah bos dan para karyawan tadi.


"Selamat sore pak," laki‑laki muda tersebut menyapa kami. Di sebelahnya tampak seorang perempuan empuk puluh tahunan namun masih terlihat cantik. Dialah yang bernama Bu Kardi.


Bu Kardi adalah pemilik Wisma Katering. Si pemuda itu, Hendri namanya, meskipun usianya baru sekitar dua puluhan, tetapi dialah suami Bu Kardi saat ini. Temanku bilang, Bu Kardi menikah dengan Hendri karena ada masalah dengan suaminya yang pertama, yaitu Pak Kardi, seorang laki‑laki yang usianya 15 tahun lebih tua dari usia Bu Kardi. Entah apa sebabnya meskipun Bu Kardi sudah berganti suami tetapi sampai saat ini orang‑orang tetap memanggilnya dengan sebutan Bu Kardi, tidak Bu Hendri.


"Selamat sore." Suaraku hampir berbarengan dengan suara Pak Sarta, membalas sapaan Hendri.


Bu Kardi tersenyum kepada kami, kemudian menyambut kami satu persatu. Aku dan Pak Sarta mengikuti mereka ke sebuah ruangan di ujung bangunan besar itu. Ruangan lebar yang menurut Hendri biasa digunakan sebagai tempat meeting perusahaan mereka.


Kami duduk berjajar lesehan beralas karpet warna merah. Inilah ruang meeting Wisma Katering. Menurut mereka, ruangan dibuat susunan seperti ini agar terasa lebih santai dan tidak terlalu formal. Setelah kami semua duduk, Bu Kardi pun memulai.


"Jadi begini pak, prospek kesuksesan kita nanti akan sangat besar. Kontrak‑kontrak yang akan kita jalankan sudah banyak mengantri, bahkan sebentar lagi kita akan menyepakati PT Jati Sumara. Silakan bapak periksa proposal ini." Bu Kardi menyodorkan satu map berwarna biru kepadaku.


"Wah." Gumamku. Kuperiksa sekilas saja.


Map itu berisi proposal penawaran kerja sama dengan PT Jati Sumara berikut persetujuan perusahaan tersebut untuk kebutuhan konsumsi lima ribu karyawan yang akan disuplai oleh Wisma Katering. Jangka waktu kontrak cukup lama, dua tahun untuk kontrak pertama.


"Secara hitung‑hitungan, laba yang akan kita dapatkan nanti cukup besar Pak Jaka. Kita mendapatkan dua ribu rupiah per porsi. Kita akan menyuplai dua kali dalam sehari, yaitu pagi dan sore. Jadi bila dikalikan jumlah porsi untuk keseluruhan lima ribu karyawan, akan didapatkan laba dua puluh juta per harinya saja, dan itu hanya dari satu pabrik saja." Bu Kardi menerangkan kami berapi‑api.


"Terus bagaimana dengan masalah keuntungan itu nantinya? Maaf, saya akan mendapat berapa bagian bila nanti jadi bergabung?" Tanyaku, masih belum terlalu paham akan penjelasan Bu Kardi.


"Begini pak, kita akan menjadi tim yang terdiri dari tiga orang di sini. Kita komisaris, kita juga karyawan di sini. Pak Jaka invest 30 %, saya 50 %, dan Pak Agung 20 %."


"Oh begitu ya," sahutku mulai bersemangat.


Tak sampai setengah jam kemudian seseorang datang menyusul ke ruang besar itu. Dia langsung bergabung dan menyapa kami satu per satu. Dialah Pak Agung, orang yang disebut‑sebut Bu Kardi sebagai investor 20 %. Dari wajahnya yang tampak tebal itu terkesan Pak Agung adalah orang yang sabar tetapi kuat dalam mengejar ambisinya. Aku dapat merasakannya ketika dia menjabat tanganku dengan genggaman kuat penuh percaya diri. Sebenarnya kami sudah pernah bertemu dua minggu sebelumnya, dikenalkan oleh temanku. Kemudian Pak Agung inilah yang memperkenalkanku dengan Bu Kardi beberapa hari setelahnya.


Pak Agung langsung mengambil posisi, bergabung bersama kami. Dia duduk persis di sebelah kanan Pak Sarta yang kosong. Kemudian beliau berkata,


"Maaf rekan‑rekan, saya terlambat mengikuti pertemuan ini."


"Tak apa Pak Agung, kami ucapkan selamat datang. Lagi pula ini belum pertemuan resmi." Jawab Bu Kardi gembira.


Pertemuan dilanjutkan kembali.


Semangat mereka tampak begitu kuat untuk maju, tentu saja semangatku juga terikut melihat mereka berapi‑api dalam memberikan penjelasan.


Santi, seorang gadis muda yang menjadi karyawan bagian administrasi, ikut bergabung dalam pertemuan tersebut dan memberikan penjelasan mengenai keuangan perusahaan. Aku pun percaya begitu saja pemaparan yang menelan mentah‑mentah semua perkataan mereka di pertemuan itu.


Santi membeberkan bukti‑bukti transaksi perusahaan berupa kwitansi pembelian maupun surat penerimaan pembayaran dari klien perusahaan, termasuk giro dan cek.


"Bagaimana Pak Jaka, apakah bapak tetap berminat untuk bergabung bersama kami?" Bu Kardi berkata dengan nada merayu. Matanya yang bulat hitam itu seakan menembus alam bawah sadarku hingga aku tak mampu memandangnya. Meskipun usianya sudah berkepala empat, Bu Kardi masih tampak cantik dengan bentuk wajah oriental dan sedikit misterius. Tak heran bila pemuda seusia Hendri yang lebih pantas menjadi anaknya, bahkan lebih muda tiga tahun dari anak pertama Bu Kardi, bisa jatuh cinta dan menikahi Bu Kardi.


"Betul Pak Jaka, ini kesempatan emas untuk kita." Pak Agung meyakinkanku akan prospek dari katering ini. Pak Agung begitu yakin bahwa katering ini bisa menjadi sumber penghidupan cerah nantinya.


Karena memang aku ingin memperoleh tambahan penghasilan lebih, akupun terjebak juga. Aku hanya mengangguk mengiyakan Pak Agung. Terbayang dalam anganku akan kesuksesan yang sudah di depan mata. Toh aku tinggal mengikuti saja tanpa harus merintisnya dari awal.


"Kapan lagi ada peluang bisnis yang begitu bagus dan mudah? Kesempatan tak akan datang dua kali." Batinku memompa semangatku sendiri.


"Sepertinya ini bagus. Jika saya punya modal, saya pasti juga ikut pak." Bisik Pak Sarta kepadaku.


Kembali aku mengangguk dan tersenyum. Mungkin benar juga ucapan Pak Sarta itu.


Pertemuan berlangsung tak terlalu lama, tak lebih dari dua jam. Setelah pertemuan selesai kami beranjak pulang. Bu Kardi mengantar kami ke pintu keluar, lalu kami berpamitan.


Kami melanjutkan perjalanan dengan pembicaraan‑pembicaraan yang beragam di sepanjang perjalanan pulang. Tak ada yang terasa aneh, semuanya tampak wajar dan menyenangkan.


Di luar masih tampak ramai oleh kesibukan para karyawan. Dari kaca jendela besar itu kulihat mereka masih sibuk dengan kegiatannya. Tiba‑tiba aku merasakan desiran yang menjalar dari jalan dan jendela itu, seolah hanya seorang perempuan yang tadi dilihatku, tampak aneh. Lagi‑lagi aku dihadapkan pada tatapan mata yang aneh. Tatapan mata seorang perempuan yang hanya menjaga di luar jendela itu. Tatapan matanya tajam dan penuh tanya.


Perempuan itu terus mengawasi kami yang asyik dengan makanan‑makanan lezat di atas meja. Tatapan matanya sungguh tajam menusuk. Entah apa yang membuatnya salah tingkah saat perempuan itu tersenyum tipis ke arahku. Tetap saja aku berusaha memandangi wajahnya itu.


Dia terlihat cantik jelita di bawah sinar bulan, berbaur dengan beberapa karyawan lain yang tampak dalam kesibukannya, sementara perempuan itu hanya diam mematung saja. Wajahnya putih tetapi sayang tatapan matanya dingin dan membuatku sungguh tak nyaman. Bahkan aku merasa seperti tersinggung ditatap dengan tatapan mata itu, tatapan yang begitu dingin.


Kulihat pandanganku, tak mau berlama‑lama.


"Dilihat dari jumlah karyawannya saja sudah memperlihatkan seberapa hebatnya Wisma Katering ya Pak Jaka." Suara Pak Agung mengagetkanku.


"Eh... eh... iya pak." Aku tergagap.


Pak Agung melihat ke luar jendela, dia juga tampak mengamati para karyawan yang sedang bekerja. Tetapi tak kulihat ada kegetapan atau kejanggalan apapun saat Pak Agung melihat keramaian di luar jendela itu. Kuarahkan pandanganku ke arah jendela lagi, tetapi perempuan itu sudah tidak ada di tempat dia berdiri tadi.


Lihat selengkapnya