Kalau ada yang bilang rumah adalah tempat terbaik untuk pulang, berarti dia belum pernah mati.
Karena percayalah, pulang ke rumah sendiri setelah meninggal itu rasanya nyesek setengah mampus. Apalagi kalau rumah itu dibangun dari sebelas tahun pernikahan, dua orang anak yang super berisik, dan satu suami yang sampai hari ini masih suka nyari dompet sambil ngomel karena dompetnya "hilang", padahal dia sendiri yang simpan di atas kulkas.
Iya, Leo memang sepercaya diri itu dengan kemampuan dirinya untuk menaruh barang di tempat yang tidak seharusnya.
Aku berdiri di depan pagar rumahku.
Rumah dua lantai dengan cat putih dan jendela besar yang sengaja kupilih karena bagus kalau kena sinar matahari sore. Di terasnya masih ada tanaman monstera yang belum lama ku tanam, tapi hampir mati minggu lalu karena Leo menyiramnya pakai air rebusan mi instan.
Jangan ditanya kenapa. Aku juga sudah lelah mencari jawaban selama sebelas tahun pernikahan kami.
Pintu rumah terbuka.
Leo masuk sambil menggendong Luna yang tertidur di pundaknya setelah mengurus jenazahku di rumah sakit. Lucky ikut berjalan di belakang kami. Aku mengikuti mereka tanpa bisa mereka lihat lagi.
Rumahku tidak berisik hari ini.
Tidak ada suara Luna yang teriak minta digendong Mama.
Tidak ada suara Lucky yang mengadu karena Luna mengambil stik PS miliknya.
Tidak ada suara aku yang berteriak dari dapur karena Leo diam-diam mengambil ayam goreng yang paling besar.
Sunyi.