Kalau kalian pikir kehilangan seorang ibu hanya membuat rumah menjadi lebih sepi, kalian salah.
Rumahku nyatanya tidak sepi. Justru sebaliknya, rumahku sedang mengalami gangguan sistem.
Penyebabnya? CEO rumah tangga kami meninggal dua hari yang lalu.
Pukul 05.30 pagi, alarm Leo berbunyi cukup keras untuk membangunkan satu RT. Masalahnya, alarm itu berbunyi selama lima menit penuh karena pemiliknya masih tidur dengan posisi memeluk guling dan selimut yang melilit kakinya seperti ulat bulu.
Aku melirik jam dinding.
Biasanya di jam seperti ini aku sudah selesai mandi, sedang menyiapkan bekal Lucky, sambil membangunkan Leo yang tidur terlalu cantik sampai matahari mulai menyusup lewat jendela.
Hari ini tidak ada yang membangunkannya. Atau mungkin dia lupa kalau tidak ada aku lagi yang membangunkannya?
Yang lebih lucu lagi, Leo ternyata termasuk manusia yang baru bangun tidur setelah dipanggil lebih dari tiga kali.
"Yah! Bangun!"
Lucky mulai mengguncang bahu ayahnya.
Tidak bangun.
"Yah! Jam enam!"
Masih belum bangun.
"YAH!"
"YAH!!! LUNA PIPIS DI KASUR!"
Leo langsung bangun sambil lompat dari tempat tidur.
Baiklah. Mulai hari ini Lucky mendapatkan ilmu baru tentang cara membangunkan ayahnya.
Pagi itu rumahku terasa seperti lomba lari estafet. Luna menangis karena tidak mau memakai seragam olahraga. Katanya hari ini dia ingin memakai gaun Elsa ke sekolah. Lucky lupa mengerjakan PR Matematika. Sementara suamiku sibuk mencari dasi sekolah Lucky sambil membawa remote televisi di tangannya.