40 hari salatku tak diterima karena khamar

After Future
Chapter #10

Bab 10 - Kesialan Kayum

Aku tidak akan menceritakan bagian dimana aku dipukuli oleh ayah dan ibu yang berusaha melindungiku dari pedasnya sabetan ikat pinggang.

Intinya adalah aku dibuat mampus oleh ayah. Tapi setelah semuanya selesai ayah menepuk bahuku dan berkata kalau aku melakukan hal yang tepat.

“Ayah tidak meragukan pembelaan kamu, mungkin si Tara itu benar-benar ingin mengumbar aib kamu. Mengertilah, ayah kejam tadi karena terbawa suasana saja.”

Ada sedikit rasa kesal ketika mendengar penjelasan ayah. Badanku sudah sakit begini, untuk apa ayah minta maaf. Aku akan sangat menghargai jika ayah sadar sedikit lebih cepat.

Setelah dihajar, saatnya minum kopi. Bayangkan, dalam satu kali pertemuan dengan Tara, aku mendapat luka di pipi, benjol di ubun-ubun, dan sekarang banyak bekas pecutan di lengan dan kakiku. Luar biasa sial.

“Kayum, ke pasar bentar, beliin terong.” Pinta ibu.

“Beli terong dimana Bu?"

Kenapa aku marah bertanya lagi? Entahlah pikiranku sedang tidak baik-baik saja.

“Dimana aja boleh yang penting murah.”

“Murah tapi kurus memang ibu mau?”

“Kalau terlalu kurus nanti kurang puas.”

'Kurang puas' aku mengerlingkan mata. Apa yang dimaksud puas disini?

Tapi ibu tidak mau memperpanjang hal itu lagi, aku disuruh mencari dan membeli terong di tempat terbaik. Ada satu tempat yang muncul di benakku. Di Swalayan. Disana ada pemasok sayuran segar dan banyak pilihannya.

Masuk ke hari ke 22 – 27. Ada tragedi yang terjadi selama jangka waktu itu, dan tragedi itu disebabkan oleh terong.

Singkat cerita, siang hari itu aku mendatangi pasar swalayan untuk membeli terong. Saat mengendarai sepeda motor, entah kenapa penglihatan menjadi tidak jelas.

Lalu aku sadar, penyebabnya tidak lain adalah polusi udara yang sangat tebal.

Kondisi memaksaku untuk menepi. Namun pertama-tama aku harus melewati lampu merah ini.

Saat itu posisiku tepat di belakang si pengendara yang knalpotnya seperti gurita dan helm kaca helmku kebetulan sengaja tidak kututup. Knalpot orang itu menyembur seperti seekor gurita yang menyemburkan tintanya.

“Terima kasih,” ucapku pada si pemotor. Aku sengaja tancap gas saat Lampu hijau supaya bisa mendahuluinya.

Saat itulah tragedi terjadi. Dari arah kanan muncul sebuah truk yang langsung menyenggol ban depanku.

Percaya atau tidak, disaat akan terbentur aku sekilas melihat sosok bayangan gelap yang perawakannya sangat mirip dengan Tara.

Lihat selengkapnya