40 Hari Terakhir

Nandreans
Chapter #12

Seorang Ibu Bernama Rindu

Marah dan membiarkan sampai mati merupakan perkara yang berbeda, setidaknya begitulah menurut Mona. Meskipun untuk sampai di tahap ini tidaklah mudah, terlebih setelah apa yang dilakukan Randy padanya. Pun bukan hanya mengkhianati bisnis, pria itu juga telah menghancurkan cinta mereka.

“Lo yakin mau memaafkan dia?” reaksi tersebut ditanyakan oleh Tia saat Mona mengabarinya semalam, tepat sebelum pertemuan siang itu terjadi. Kebetulan, sang adik yang jarang pulang mendadak muncul di rumah, menghabiskan semangkuk es krim cokelat sambil menonton kakaknya bekerja via daring. “Itu cowok bajingan lho.”

Tanpa mengalihkan pandangan dari layar komputer jinjingnya, Mona mengangguk setuju. “Meski nggak begitu yakin, tapi nggak ada salahnya ngasih dia kesempatan. Siapa tahu setelah bangun dia bakal berubah.”

“Sayangnya, kayak yang lo bilang barusan, siapa yang tahu? Siapa yang bakal jamin dia bisa menjadi orang bener?” Tia menyendok isi mangkuk dengan kasar, lalu mengangkat bongkahan es krim sebelum memasukkan ke dalam mulut. “Bukan apa-apa, gue juga nggak mau nyetanin lo, tapi mengharapkan orang kayak mantan lo berubah dalam sekejap itu sama saja kayak bermimpi Indonesia bakal bisa lepas dari hal mistis.”

“Maksud lo?”

Tia kedinginan, bersusah payah mengunyah es krim di mulutnya. “Ya kayak yang lo lakukan sekarang ini. Di tengah zaman modern yang serba canggih, bisa-bisanya lo percaya sama arwah gentangan? Tapi karena ini Randy, gue agak percaya sih. Orang jahat biasanya kan memang nggak gampang mati. Malah, kalau di sinetron disertai azab dulu.”

“Mulut lo ya, Tia!” Mona memukul lengan sang adik gemas. “Dia memang sudah nipu gue, tapi mungkin lo lupa kalau saat menjalankan bisnis butik dulu gue sendiri nggak pernah benar-benar membantu dia menjalankan pekerjaan. Gue lebih banyak bersenang-senang karena merasa semua bakal aman. Sampai tanpa sadar Randy mengambil langkah sendiri. Gue akui dia punya inisiatif, meskipun nggak semua orang harusnya cukup percaya diri buat mengambil keputusan.”

“Jadi?”

“Jadi apanya?”

“Lo masih suka sama Randy?”

“Ngawur! Gue memang mau memaafkan dia tapi bukan berarti mau balikan sama dia. Kita nggak harus balikan sama mantan, kan, buat berbuat baik? Lagian kayaknya dari semua mantan yang dia punya, hanya gue yang bakal memaafkan kesalahannya.”

“Karena lo baik?”

Mona menggeleng. “Karena gue yang paling mendingan dalam artian nggak dia sakiti. Seenggak-enggaknya, kami pernah bahagia. Dan gue bisa dibilang satu-satunya perempuan yang nggak dia permainkan.”

“Dia selingkuh, ingat?”

“Kalau itu sih memang tabiatnya si Randy. Nggak bisa diubah.”

_*_

“Kalau perkembangannya terus begini, kami yakin dalam waktu dekat pasien bisa dipindahkan ke ruang perawatan biasa secepatnya.”

Randy melonjak kegirangan saat mendengar penjelasan dokter, menyusul senyum lebar dari kedua kawannya. Antara percaya tak percaya, yang saat pada saat itu dirasakan oleh Dion dan Maria tidak lain dan tidak bukan hanyalah rasa lega, senang dan terharu. Karena setelah berhari-hari kritis, Randy akhirnya ada perkembangan.

“Entah ini beneran ada hubungannya dengan yang cewek itu bilang atau nggak,” Maria menjeda ucapannya demi menyeka air mata di pipinya, “yang jelas, gue sampai nggak bisa berkata apa-apa. Kak Dion, Kak Randy bakal sembuh!”

Dion mengangguk-anggukkan kepalanya, sama seperti temannya itu dia pun ikut menangis. “Berarti lo setuju kalau misi itu dilanjutkan?”

“Kalau memang bisa bikin Kak Randy kembali, kenapa nggak?”

Namun, kegembiraan keduanya tidak serta merta dirasakan oleh Raina. Bukan karena dia tidak senang karena tubuh Randy memberikan respons baik, melainkan karena Raina sendiri punya masalah yang lebih besar. Mengingat, hingga hari itu Leon belum juga menghubunginya, bahkan panggilan-panggilan Raina juga tidak ada satu pun yang direspon. Seolah Leon sengaja menghilang, ditelan bumi.

*_*

“Rin ..., Rin ....”

Mendengar rintihan sang mertua, Rindu yang sedang berada di kamar mandi buru-buru menyudahi aktivitasnya. Dia mencuci tangannya sebentar sebelum akhirnya keluar dan menghampiri pria tua yang kini terbaring di atas ranjang rumah sakit dengan selang infus terpasang di pergelangan tangan kiri. Dengan lembut Rindu bertanya, “Kenapa, Pak? Ada yang sakit?”

Parjan menunjuk sebotol air di atas meja. “Minum. Haus.”

“Sebentar ya, saya ambilkan.” Rindu mengambil gelas plastik yang dia simpan di dalam tas, lalu mengisinya menggunakan air mineral tersebut sebelum akhirnya disuapkannya pada Parjan, namun baru saja sampai di dekat bibir, pria tua berkepala botak itu malah menutup mulutnya rapat-rapat. “Lho, kenapa? Tadi katanya haus.”

“Panas. Aku mau air panas.”

“Air panasnya tidak ada, Pak. Sekarang minum ini dulu ya? Nanti sore Nasya ke sini buat bawakan air panas.”

“Nggak mau! Aku mau air panas!”

Lihat selengkapnya