Ditemani es teh dalam gelas plastik Raina berjalan menuju rusun, lengkap dengan sebungkus nasi goreng di tangan kiri, yang dibelikan oleh Maria sebelum dia pamit pulang tadi. Lumayan, setidaknya makanan ini bisa dihangatkan untuk sarapan esok hari sehingga Raina bisa menghemat pengeluaran. Dengan kondisi keuangannya sekarang tentu dia harus menekan biaya hidup sebaik mungkin, supaya uang yang dia punya setidaknya cukup sebelum hari gajian tiba. Pun sekarang dia tinggal sendirian, tidak ada Leon yang akan berbagi makanan dengannya.
“Harusnya tadi lo nggak hanya minta nasi goreng.” Ucapan Randy hanya direspon tatapan malas oleh Raina.
Sejak tadi pria itu memang tidak berhenti mengoceh. Meskipun hanya arwah nyatanya Randy tak pernah kehabisan energi. “Sekalian minta belikan lauk kayak ikan, daging atau sea food. Biar badan lo nggak kekurangan gizi. Karena asalkan lo tahu ya, Rain, orang Indonesia ini banyak yang gizi buruk bukan karena lapar tetapi karena makanan yang dimakan nggak ada nutrisinya, kebanyakan karbo doang.”
Masih bergeming, Raina yang sampai rusun langsung membuang gelas kosong di tangannya ke dalam tempat sampah. Beberapa kali dia menyapa warga yang kebetulan huniannya dia lalui, sebagai tanda ramah tamah.
“Besok-besok, gue bilangin ya, kalau ketemu sama Dion dan Maria, sebisa mungkin lo pesan makanan yang enak. Kasihan gue tiap hari lihat lo makan kalau nggak mi ya nasi goreng. Lama-lama keriting itu usus lo.”
Raina menghentikan langkah tepat di tengah-tengah tangga terakhir sebelum sampai di lantai tempatnya tinggal, menatap Randy yang juga langsung berhenti. “Bisa diam, nggak?”
“Bisa!”
“Ya sudah, diam.”
“Nggak mau.”
“Benar-benar lo ya!” gerutu Raina. “Untung transparan, kalau nggak sudah gue tutup pakai plaster itu mulut. Capek gue dengarnya.” Lantas, dia melanjutkan perjalanan, namun baru beberapa jengkal dia melangkah, kaki Raina kembali terhenti. Bedanya, kali ini bukan karena Randy melainkan akibat melihat seseorang yang sangat dia kenali berjongkok di depan pintu rumah, menunggunya pulang. “Leon?”
Yang dimaksud mengangkat kepala, membuat mata keduanya sontak beradu tatap. “Sayang?”
Seolah seperti scene dalam drama Korea tontonan Maria, detik berikutnya sepasang anak manusia itu saling menghambur satu sama lain. Membuat Randy yang menyaksikannya entah bagaimana merinding sendiri. Kalau saja dia bisa, sudah pasti dia akan langsung memisahkan kedua sejoli itu.
Sebenarnya Randy sendiri sering melakukannya dengan perempuan-perempuan yang dia pacari, bahkan mungkin lebih ekstrem dari ini. Dalam hatinya Randy bertanya-tanya, mungkinkah ini yang dirasakan orang-orang saat melihatnya beradegan mesra dengan para mantan di kamera?
“Kamu ke mana saja?” Raina menyentuh wajah kusam Leon dengan kedua tangannya, erat. “Aku khawatir nyariin kamu.”
Pria muda itu balas mengelus kepala sang kekasih dengan lembut. “Maafin aku ya.”
“Aku pikir kamu nggak akan balik lagi.”
“Nggak, Rain. Aku nggak akan pernah ninggalin kamu.” Leon menarik tubuh Raina dalam pelukannya. “Apa pun yang terjadi aku akan selalu kembali.”
“Terus kenapa kamu nggak ngasih kabar? Nomormu nggak aktif. Hampir saja aku lapor polisi karena takut kamu kenapa-kenapa.”
Leon melepaskan pelukannya, menatap wajah Raina dengan penuh keteduhan. “Aku kecopetan.”
“Hah?” Mata Raina membulat. “Kok bisa?”
“Beberapa hari belakangan ini aku keliling cari pinjaman ke teman-teman.” Leon merogoh saku jaket dan mengeluarkan amplop cokelat yang langsung diberikannya kepada Raina. “Tapi karena nggak ada yang bisa bantu uang, akhirnya aku ikut kerja bongkar muat barang di tempatnya om dari temanku. Tapi pas mau ngabarin kamu, aku baru sadar kalau ponselku hilang.”
“Terus kenapa nggak hubungin aku pakai ponsel teman kamu?”
Leon menggaruk-garuk tengkuknya sendiri. “Kamu kan tahu, jangankan nomor kamu, nomorku sendiri saja aku nggak hafal.”
Raina memukul dada Leon pelan. “Kamu ini, bikin aku panik saja. Kamu harusnya nggak usah begini.”
“Nggak apa-apa,” tegas Leon. “Ini terima ya. Memang nggak banyak, tapi paling nggak bisa buat nyicil bunganya dulu.”
“Sayang.” Mata Raina berkaca-kaca.
Melihat sang kekasih hampir menangis, Leon segera mengajaknya masuk. “Jangan nangis di sini. Malu dilihatin orang. Oh iya, kamu masak apa? Aku lapar.” Sambil mengusap-usap perut.
*_*
Randy akui Leon merupakan pria yang bertanggung jawab. Terlepas usianya yang masih sangat muda, Leon agaknya jauh lebih dewasa ketimbang dirinya terutama dalam hal memperlakukan perempuan yang mencintainya.
Saat melihat kebersamaan Leon dan Raina, Randy diam-diam tersenyum. Sebab kedua anak muda itu lebih romantis ketimbang film romansa apa pun yang Randy pernah saksikan sebelumnya. Padahal sebelum ini Randy pikir kisah pasangan miskin nun bahagia hanya ada dalam drama, ternyata kini dia malah melihat sendiri dengan mata kepalanya.
“Bagaimana? Enak nggak nasi gorengnya?” tanya Raina.
Leon mengangguk, dengan suara berkumur-kumur antara bicara dan mengunyah dia menjawab, “Enak tapi masih enakan masakan kamu. Beli di mana? Ini pasti nggak beli di tempat Mang Darsan, kan?”