40 Hari Terakhir

Nandreans
Chapter #20

Darah Seorang Ayah

Maria buru-buru berdiri saat menyadari mobil kuningnya telah sampai, memasuki halaman rumah keluarga Mawardi. Dan tanpa menunggu pengemudinya turun, gadis berambut dikuncir kuda itu telah terlebih dahulu berlari menghampiri.

“Gimana, Kak?”

“Kondisi nyokapnya Rain sudah stabil.”

“Syukurlah, tapi bukan itu!” tegas Maria dengan air muka panik. “Ini soal Joana. Kakak sudah baca beritanya, kan?”

Dion mengangguk, lalu memberikan kunci berbandul Komodo kembali ke pemiliknya. “Sejujurnya, gue nggak nyangka kalau Joana bisa melakukan hal sejauh itu.”

“Bisa-bisanya dia ke rumah sakit nggak ngasih tahu ke kita dulu?” Omelan Maria bukan tanpa alasan, sebab kalau Joana datang untuk menengok tentu saja dia dan Dion tidak akan mempermasalahkan sama sekali, malah bagus untuk Randy, terlebih bila Joana bisa membantu mengisi tabung permintaan maaf milik pria itu. Hanya saja, tidak begitu. “Lagian, ngapain dia pakai bawa-bawa kru segala? Itu niat jenguk atau bikin video? Mentang-mentang youtuber, begitu banget caranya dapat traffic di medsos.”

“Sudah!” Dion menepuk bahu Maria pelan. “Kayak nggak kenal Joana saja.”

“’Setiap momen berharga’,” Maria meniru gaya Joana setiap kali mengucapkan jargon di video vlognya. “Berharga sih berharga, tapi nggak begitu juga dong. Orang koma disyuting,” lanjutnya mengomel. “Gue yakin banget kalau dia nggak beneran nangis. Itu cewek pasti pakai obat tetes mata.”

Dion memijit kening sebelum akhirnya memutuskan masuk ke dalam rumah. Menemui Mardian yang sedang menata sarapan di meja makan. “Selamat pagi, Tante,” sapanya basa-basi.

Mardian menoleh. “Pagi juga. Oh, kamu? Temanmu yang satu lagi, tidak ikut?”

“Dia langsung balik ke rumahnya.”

“Oh.” Mardian tersenyum prihatin. “Saya sudah dengar dari Nak Maria. Kejadian ini pasti membuat teman kalian sangat terpukul.”

“Kalau begitu saya izin mandi ya, Tan.”

“Silakan! Sekalian saya tunggu untuk sarapan.”

Walaupun baru mengenal Raina kurang dari setengah hari, Mardian sudah bisa melihat bahwa gadis itu adalah anak yang baik.

Tidak seperti Dion dan Maria, Raina memiliki sorot mata yang hangat. Caranya memandang orang tua tidak hanya dibarengi kelembutan, tetapi juga kasih sayang. Bahkan gadis itu bersikeras membantu Marian mencuci piring setelah makan, tidak peduli seberapa keras Mardian melarangnya.

“Nggak apa-apa, Bu, saya sudah terbiasa kok!” kukuh Raina.

“Benarkah?” Menyadari kalau pertanyaannya membuat gadis itu tak nyaman, Mardian buru-buru memberi penjelasan, “Bukan maksud saya meragukan kemampuanmu, tapi rasanya sudah jarang anak muda seperti kalian mau mencuci piring sendiri.”

Raina terkekeh. “Kalau nggak nyuci piring sendiri, memang siapa yang mau mencucikan, Bu?”

“Pembantu? Apa di rumahmu tidak ada asisten rumah tangga?”

“Jangankan pembantu, yang mau dicuci saja nggak ada, Bu, lha piringnya saja cuma dua biji.”

“Maksudnya?” tanya Mardian bingung. “Keluarga kalian menerapkan gaya hidup minimalis?”

“Bukan minimalis lagi. Miskin!” Raina tertawa sembari mengelap permukaan piring kotor di wastafel dengan cekatan. “Lagi pula bersih-bersih sudah jadi hobi saja kok, Bu. Maka dari itu saya milih jadi cleaning servis.”

Mendengar penjelasan Raina, mata Mardian melolot. dengan sikap Randy yang dia kenal, agaknya tidak mungkin kalau dia akan memiliki teman seorang tukang bersih-bersih. “Maaf, bukannya saya meremehkan profesi kamu, tapi kamu dan Randy betulan berteman?”

Raina bergeming, menyadari bahwa dirinya baru saja salah bicara. Di sisi lain, Mardian yang melihat itu justru tersenyum, senang bahwa dugaannya terhadap Randy selama ini salah. Putranya bukan lagi anak manja yang suka meremehkan orang lain. “Aku lupa bahwa dia sudah dewasa.”

*_*

Leon baru saja hendak tidur saat pintu kontrakannya digedor cukup keras dari luar.

“Kak Lia sama Bang Yunus ngapain sih malam-malam ke sini? Perasaan tadi gue sudah ngasih kunci kedai ke Mbak Ida deh. Bukan gue yang bawa!” kata Leon setengah mengantuk, lengkap dengan kuap besar.  

“Ini bukan soal kunci, ege!” Lia merogoh tas jinjing, lalu memberikan telepon pintarnya kepada sang adik. “Gue barusan dapat kiriman berita dari orang-orang di kampung. Ibu dibawa ke rumah sakit gara-gara ditikam oleh Pak Sis.”

“HAH?” Mata kantuk Randy seketika terbuka lebar.

Dan, begitulah pada akhirnya dia bisa muncul di depan pintu rumah Raina siang itu.

Tanpa banyak bicara, Leon menghamburkan pelukannya kepada sang kekasih. Yang langsung membuat Raina menangis, tersedu-sedu. Bukan apa-apa, sejak semalam sebenarnya Raina sendiri sudah ingin berteriak, hanya saja dia sendirian. Tidak ada tempat yang lebih nyaman menumpahkan resah baginya selain dada Leon.

“Aku takut, Yon.”

Lihat selengkapnya