40 Hari Terakhir

Nandreans
Chapter #24

Rasa Rindu pada Orang Tua

Mardian muda berjalan menuruni anak tangga dan melihat meja makan di bawah sudah terisi.

“Ibu sudah bangun?” Pariyem yang sedang mengelap piring menyapa, basa-basi.

Mardian mengangguk kecil. “Kan saya sudah bilang, kamu tidak perlu memasak makanan yang tidak perlu,” ujarnya saat melihat sepotong roti isi daging di tengah meja. “Kamu pasti lelah karena harus mengurus rumah sebesar ini sendirian. Maafkan saya ya, Yem.”

Sejak bercerai, kondisi ekonomi Mardian merosot drastis. Dia bukan hanya kehilangan anak dan suaminya, melainkan juga semangat hidupnya. Itulah mengapa, dengan sangat terpaksa dia harus mengurangi jumlah pegawai, termasuk para pengurus rumah dan tukang kebun.

Namun, sebagai pembantu yang sudah lama ikut dengan keluarga ini, bahkan sejak orang tua Mardian masih ada, Pariyem secara suka rela bertahan, menerima berapa pun upah yang wanita itu bayarkan setiap bulannya. Pun dia tidak tega jika harus membiarkan Mardian sendirian.

“Ibu tidak punya salah apa-apa. Ibu orang baik. Justru saya yang harus berterima kasih karena selama bekerja di sini selalu diperlakukan dengan baik. Kalau bukan karena Ibu, anak saya tidak mungkin bisa bersekolah sampai sarjana.” Pariyem menarik salah satu dari deretan kursi berbahan kayu jati tersebut seraya berkata, “Silakan, Bu. Mumpung makanannya masih hangat semua.”

Mardian menurut, mengambil beberapa sendok nasi goreng ke dalam piringnya, lengkap dengan ayam goreng dan sambal. “Kamu juga ikut makan ya, Yem.”

Wanita tua berbadan agak bungkuk itu mengangguk. “Oh iya, sebentar. Saya hampir lupa. Tadi pagi ada Pak Pos datang mengantar surat.”

“Surat? Surat apa?”

Pariyem tidak menjawab, dia justru berlari kecil ke ruang tamu untuk mengambilkan amplop putih yang dimaksud. “Dari Mas Randy.” Sayangnya, alih-alih disambut, Mardian justru menoleh memandang benda tersebut. “Baiklah. Saya akan menaruhnya di laci saja. Kalau Ibu nanti mau baca, silakan ambil sendiri ya. Kita makan dulu.”

Sebagai orang terdekat Mardian, Pariyem tahu persis bahwa majikannya tidak pernah benar-benar membenci Randy. Meskipun hampir selalu memasang wajar cuek, akan tetapi surat dari Randy adalah satu-satunya hal yang paling Mardian tunggu setiap bulannya.

Walau tak pernah membalas, tetapi Mardian selalu membacanya berulang-ulang serta menyimpan semua tulisan tangan anaknya di dalam kotak kayu yang dia letakkan di dalam kamar. Kadang kala, bila surat tidak datang, dan sudah kadung rindu, Mardian akan tidur di kamar Randy, merasakan aroma tubuh anaknya yang tertinggal di sana.

Namun, seperti kebanyakan hal di dunia, Randy pun akhirnya bosan. Dia berhenti berkabar setelah lulus sekolah menengah. Lalu, tahu-tahu muncul di televisi sebagai peserta kompetisi menyanyi.

Mardian mengikuti dan mendukung anaknya, baik lewat doa maupun vote yang dikirim melalui SMS. Yang sayangnya, dia harus menelan pil pahit saat kemenangan diraih oleh sang putra, ialah malam terakhir di mana keluarga para finalis di datangkan ke panggung. Orang yang mendapat sambutan dan ucapan terima kasih, dan dengan lantang disebut sebagai ibu oleh Randy bukanlah Mardian, melainkan Asri, perempuan yang sudah menghancurkan pernikahan Mardian dengan Sandy.

Sejak saat itu pulalah Mardian menutup diri. Dia meninggalkan semua kenangan tentang anaknya. Dia bahkan berpikir Randy mungkin sudah melupakannya. Itulah kenapa, saat dia kedatangan tamu yang mengaku sebagai kawan-kawan Randy hatinya bungah. Sayangnya, yang mereka bawa bukanlah kabar gembira melainkan sebuah berita duka.

“Raina, katakan apa pesan Randy untuk Ibu.” Sekali lagi Mardian mendesak.

Raina tidak langsung menjawab, melainkan menoleh kepada teman-temannya terlebih dahulu. “Anu ….”

“Katakan saja, Nak. Ibu tidak apa-apa.”

Raina kembali berjongkok, menengkup tangan Mardian. “Randy sayang banget sama Ibu dan dia ingin minta maaf atas semua yang sudah terjadi selama ini. Dia sebenarnya sudah lama pingin pulang dan jemput Ibu buat tinggal bareng, tapi sayangnya, belum kesampaian.

“Dia bahkan sudah mau nikah, tapi seperti yang ada di media, cintanya ditolak oleh Joana. Dia kecelakaan sebelum sempat ke sini.”

“Astaga!” Menarik tangan kanannya untuk menutupi mulut. “Ya Tuhan.”

“Ibu mau kan maafin, Randy?”

Mardian mengangguk perih. “Tentu. Ibu akan selalu memaafkan dia. Ibu sudah memaafkan dia tanpa perlu diminta. Tolong bawa ke Jakarta. Ibu mau ketemu anak ibu.”

*_*

Dikarenakan sudah terlalu larut dan tidak memungkinkan, pasangan itu pun memutuskan menginap di kediaman Mardian. Seperti sebelumnya, Raina menempati ruangan di atas sedangkan Leon kebagian tidur dengan Dion di bawah. Tadinya, Raina hendak sekamar dengan Maria, tetapi seperti sebelumnya, Maria menolak.

“Gue nggak bisa tidur sama orang lain, maaf ya, Rain.”

“Iya, nggak apa-apa kok, Kak.”

Pun, kamar yang ditempati Dion punya ranjang besar. Cukup untuk tidur dua orang. Kalau mau ditukar, kasur di kamar masa kecil Randy tak bakal muat menampung dua pria dewasa itu.

Baru saja tubuh Raina berbaring, matanya langsung tertuju pada pemandangan tidak biasa di balkon. Ada bayangan seseorang di sana, duduk membelakangi jendela.

“Ran?” Raina memanggil, menghampiri. “Sejak kapan lo di sini?” lanjutnya sembari membuka pintu balkon yang terbuat dari kayu dan agak macet.

Yang dimaksud tidak menoleh, dan justru kelihatan menyeka air mata di wajahnya. “Kok belum tidur, Rain? Ini sudah malam lho. Dari kemarin lo juga nggak tidur, kan? Tidur sana.”

Raina menghela napas panjang, geleng-geleng sebentar, lalu duduk di samping Randy. “Sorry ya, Ran, tapi tindakan lo marah-marah kayak tadi …,” dia menjeda kalimatnya. “Masalah keluarga kalian memang bukan urusan gue, tapi bisa nggak sih jangan marah-marah? Oke, nyokap lo memang nggak bisa dengar, hanya saja tujuan utama kita ke sini buat minta maaf.

“Oh iya, berhubung tadi lo sudah dimaafkan. Tabungnya nambah, nggak?”

Randy langsung merogoh saku celananya, menunjukkan nilai yang tertera di sana, 60 persen. Peningakatan luar biasa.

Lihat selengkapnya