40 Hari Terakhir

Nandreans
Chapter #26

Lagu yang Indah

“Apakah sampai sekarang kamu belum bisa bertemu dengannya?” Dinda Widyasari, pembawa acara gosip terkenal di salah satu stasiun televisi mengajukan pertanyaan kepada Joana Dane yang menjadi bintang tamu malam itu. “Karena yang saya dengar, keluarga Randy melarang kamu masuk saat kunjungan terakhir kali. Mereka menganggapmu sebagai penyebab Randy kecelakaan dan akan membawa kasus ini ke jalur hukum, apakah itu benar?”

“Aku,” Joana menjawab, “bisa paham dengan perasaan mereka, dan wajar bila menganggapku di sini orang jahat. Namun, aku benar-benar ingin bertemu dengan Randy sekali lagi. Masih banyak hal yang ingin aku katakan padanya.

“Kakak pasti mengerti kan perasaanku?” Dia mendapat anggukan dari si pewawancara. “Kami sudah bersama hampir tiga tahun, sudah banyak banget hal yang kami lewati bersama. Kalau mantan-mantannya yang lain, yang sudah nggak komunikasi lama dengan Randy saja boleh ketemu, malah dicariin, lalu kenapa aku nggak boleh?” Joana mengusap air yang jatuh di ujung hidungnya dengan tisu. “Aku sayang banget sama Randy, Kak. Seburuk-buruknya Randy, aku nggak akan tega melihatnya menderita.

“Lalu, soal tuntutan hukum, atas dasar apa mereka mau melaporkan aku? Kak Dinda harus tahu, hukuman kayak bagaimanapun nggak akan bisa bikin aku bebas dari rasa bersalah. Karena yang benar-benar membuatku tersiksa adalah hukuman dari Tuhan dan netizen yang nggak berhenti mengolok-olok aku di media.”

Klik.

Maria mematikan sambungan, kemudian membanting remot televisi ke atas sofa dengan cukup keras, sampai-sampai membuat Karin yang sejak tadi berada di dapur terkejut. Akan tetapi, wanita cantik berambut cepak itu tidak menganggapi, dia memutuskan melanjutkan kegiatannya memasak sup.

Sudah bukan rahasia umum bila para selebriti akan melakukan apa saja demi mempertahankan namanya tetap di atas, termasuk dengan sensasi.

Namun, Karin tidak menduga bahwa Joana yang sejauh itu dia kenal sebagai gadis baik tega melakukan semua ini kepada Randy. Memang, Randy brengsek –Karin tidak bisa menyangkalnya –tapi Joana secara terang-terangan mengeksploitasi musibah yang menimpa Randy.

Gimmick yang dibuat Joana telah menarik simpati banyak orang, membuatnya semakin dipuja. Padahal, jangankan datang ke rumah sakit, ditawari saja dia tak mau –hanya karena dilarang membawa kamera.

Pintu depan rumah terbuka, menampilkan Dion yang baru saja kembali dari mengantar anak-anaknya ke sekolah. Dia agak terkejut karena menemukan Maria sudah ada di rumahnya. “Lo kok di sini? Tante Mardian lo tinggal sendirian di rumah?”

“Dia masih di rumah sakit,” jawab Maria lemas.

Sejak tiba di Jakarta Mardian menolak meninggalkan rumah sakit. Dia ingin terus berada di sisi tubuh putranya.

“Terus, kenapa lo ke sini? Bukannya menemaninya.”

Karin menyahut, “Maria minta aku buatin sup untuk Bu Mardian, Sayang. Katanya, beliau sedang nggak enak badan.”

“Kenapa nggak telepon saja biar gue antarin?”

“Pertanyaan lo seolah nggak senang lihat gue datang,” gerutu Maria. “Gue sini sekalian buat ketemu sama lo. Ada yang mau gue omongin.”

“Soal apa?”

Maria mengangkat punggungnya dari sandaran sofa, lalu memberikan isyarat supaya Dion ikut duduk bersamanya. “Lo ingat kan apa yang dibilang Raina di telepon kemarin?”

“Yang mana? Soal dia nggak bakal kembali ke Jakarta atau mengenai ‘tabung kehidupan’-nya Randy?”

“Dua-duanya.” Maria menghela napas panjang. “Waktu kita tinggal beberapa hari doang, Kak Dion.”

“Iya, gue juga tahu itu.”

“Kita nggak bisa diam saja, Kak.” Maria menggeser posisi duduknya, mendekati Dion.

“Masalahnya, kita bukan indigo.”

“Lo pikir gue nggak tahu?” Maria tampak sebal. “Jadi, sebenarnya, semalam Kak Milly baru saja dapat pesan dari Inara.”

Dion mencoba mengingat sosok yang dimaksud. “Inara selingkuhannya Randy waktu masih pacaran sama Milly?”

Maria menjentikkan jarinya di depan muka ayam dua anak itu. “Tepat.”

“Bukannya dia sudah bilang bakal ngasih maaf ke Randy dua minggu lalu? Kenapa? Dia minta kita ke rumahnya?”

“Bukan. Justru dia bawa kabar baik. Lo ingat Luna, nggak?”

“Luna? Luna?” Dio memiringkan kepalanya, mencoba menggali dari ingatannya. “Luna yang mana ini? Luna Isnaini kan sudah nikah. Dan dia juga sudah telepon kita minggu lalu kalau bakal maafin Randy.”

“Bukan yang itu.”

“Atau, Luna Bimantara?”

“Dia mah sudah janji bakal mampir kalau ke Jakarta.”

“Terus, yang mana?”

“Peserta The Next Singer season ke 3, Sayang.” Karin menyahut. “Yang pernah berada di asuhan Randy.” Dia mendekat, lalu meletakkan pisang goreng ke atas meja. “Makan dulu, mumpung hangat.”

“Lalu, apa hubungannya sama Inara?”

Maria memutar matanya sebal.  “Mereka kan satu tim dulu.”

Lihat selengkapnya