40 Hari Terakhir

Nandreans
Chapter #27

Hari Audisi

The Next Singger.

Raina merasa sekujur tubuhnya merinding saat membaca tulisan yang tertera sepanjang lorong. Terlebih dengan banyaknya peserta audisi yang berada di ruang tunggu. Bukan hanya semangat untuk berkompetisi, rasa takut dan insecure pun turut tumbuh di dalam dirinya. Sebab sebagaimana yang selama ini dia ketahui, TNS bukan hanya kompetisi biasa melainkan salah satu kompetisi menyanyi paling bergengsi di Indonesia, di mana banyak jebolannya yang berhasil menembus pasar dan menjadi penyanyi papan atas.

Bahkan Randy yang sejak tadi duduk di sebelahnya itu pun alumsi TNS, dan seharusnya, bila tidak mengalami kecelakaan, dia pun akan menjadi juri bersama Natalia Frinda, Yoga Swadana dan Juliana Rosa, yang juga merupakan lulusan TNS season pertama, menggantikan empat juri utama yang telah resmi pensiun di season sebelumnya.

“Tenang,” kata Randy. “Yang penting nanti lo kalau nyanyi nggak usah gugup. Karena di kompetisi kayak begini, alasan orang kalah sering kali bukan karena suaranya jelek melainkan karena gugup. Jadi, santai saja. Oke?”

Raina memilih tidak menanggapi, dan hanya mengangguk-anggukkan kepalanya.   

Tidak lama, pintu besar di ujung lorong terbuka, sontak saja semua orang menoleh, menatap wajah lesu peserta yang baru saja keluar dari ruangan audisi.

“Langsung saja, peserta selanjutnya!” ujar kru dengan tag nama Agustinus dengan bersemangat. Yang seketika membuat perut Raina seperti diremas-remas. “Silakan masuk, Kak!” lanjut pria itu sembari membukakan pintu, memaksa Raina mau tak mau harus berdiri.

Gadis mulai merasakan kedua tangannya berkeringat, dia menoleh ke kanan dan ke kiri, sebelum akhirnya menoleh ke arah Randy.

“Te-nang!” Tangan Randy menepuk udara, lengkap dengan senyuman lembut yang sangat menenangkan. Yang anehnya, segera memberi Raina keberanian.

 Dengan mantap Raina berjalan memasuki ruangan tempat para juri berada, namun semangatnya segera runtuh saat mendapati siapa yang duduk di kursi yang seharusnya ditempati oleh Randy.

*_*

Meski dikenal sebagai seorang selebriti internet, tetapi kemampuan Joana Dane dalam dunia tarik suara juga tak bisa dianggap enteng. Terlebih sejak dirinya menjalin hubungan dengan Randy Bagaskara. Keduanya bahkan memiliki sebuah album yang ditulis dan nyanyikan berdua, yang mana lebih dari setengah lagu di dalamnya menduduki lima teratas dalam tangga lagu di berbagai platform musik.

Namun, Joana juga tidak mengelak bila dipilihnya dia sebagai juri di TNS lebih dipengaruhi faktor lain, yaitu hubungannya dengan Randy.

 Semua orang melihat Joana sebagai perempuan yang tersakiti, dan itu membuat prestasinya semakin sempurna. Pasar menyukai kisah gadis cantik dengan drama ketimbang apa pun juga, yang jelas dapat menarik minat penonton baru.

Sebagus TNS, tanpa penggemar baru akan percuma. Terlebih penonton masa kini lebih mudah bosan. Dan untuk membawa mereka masuk perlu gebrakan baru yang harus diambil, salah satunya dengan menjadikan Joana juri baru.

“Bagaimanapun juga ini kesempatan yang bagus.” Itulah yang dikatakan oleh kakak sekaligus manager Joana, Lusiana, saat tawaran itu datang kepada mereka dua minggu lalu. “Kita harus memanfaatkannya sebaik mungkin, karena tidak akan tahu kapan Randy akan benar-benar mati.

“Tapi, Jo, kamu juga tidak perlu terlalu khawatir. Dia mati atau hidup, Randy adalah alat yang bisa kita gunakan untuk mengangkat keriermu.” Wanita kepala tiga itu tersenyum lebar, lalu menyandarkan pundaknya ke sofa, menatap langit-langit rumah mereka yang tinggi. “Rasanya seperti mimpi. Akhirnya, setelah bertahun-tahun lamanya kita bisa membalas perbuatannya, meskipun tidak pernah benar-benar setimpal.”

Joana yang sejak tadi diam dan mendengarkan kakaknya menyerocos akhirnya buka mulut. “Entahlah, Kak, tak tahu kenapa aku merasa bahwa apa yang kita lakukan sekarang ini ..., salah.”

Alih-alih marah, Lusiana justru terkekeh. Lalu, mengusap rambut indah Joana dengan lembut. “Apakah ini karena gadis itu?” Melihat ekspresi sang adik, Lusiana segera menyambung kalimatnya, “Kamu tidak perlu khawatir. Toh, kita sudah pernah menjawabnya, bukan?

“Buang jauh-jauh pikiran mistis dari kepalamu. Mereka hanya mencoba menipumu. Lagi pula, tanpa perlu diramal, semua orang juga sudah tahu kalau Randy cepat atau lambat akan segera mati.”

Joana menggigit kuku tangan kanannya, lantas melirik kakaknya tak nyaman.

“Tunggu! Apakah jangan-jangan kamu benar-benar mencintai Randy?”

Terus terang Joana tidak tahu apakah yang dia rasakan kepada pria itu ialah cinta sebagaimana yang dikatakan oleh orang-orang, sebab seumur hidupnya, Joana belum pernah merasakan cinta. Yang dia tahu, cinta merupakan pengaruh buruk yang bisa membuat orang menjadi gila. Dan kalau ditanya apakah ada senjata paling ampuh untuk membunuh tanpa penyentuh, Joana tidak akan ragu untuk mengatakan bahwa cintalah senjata itu, bukan santet atau sejenisnya. Sebab dengan cinta, seseorang bisa melakukan apa saja, persis seperti yang dia dan kakaknya lakukan selama beberapa tahun terakhir.

*_*

Joana tahu bahwa Randy pria yang buruk dan karena itu jugalah dia ingin memberi lelaki itu pelajaran, namun bukan berarti Joana ingin melihatnya mati.

“..., dia hanya ingin memanta maaf.” Meskipun telah hampir sebulan berlalu, nyatanya Joana tidak pernah sanggup membuang bayang-bayang gadis asing yang datang ke studio pribadinya itu. Gadis yang dengan penuh kesungguhan membawa kabar mengejutkan itu. “Aku nggak bohong. Aku beneran bisa lihat Randy.”

Lihat selengkapnya