"Kenapa?”
Adalah pertanyaan pertama sekaligus tidak berhenti diulang oleh kedua orang tuanya sejak Joana secara sepihak mencampakan Randy. Maklum saja sebab selama lebih dari dua tahun berkencan, hubungan Joana dengan pria itu termasuk baik-baik saja, malah bisa dikatakan harmonis.
Meskipun dikenal sebagai pria brengsek yang sering berganti-ganti perempuan, tetapi semenjak bersama Joana hampir semua orang sepakat jika Randy telah berubah. Malah, menurut Ronald dan Wina, dari berbagai macam pria yang pernah mengencani bungsu mereka, baru Randylah yang tidak neko-neko, untuk ukuran orang sepertinya yang dilimpahi wajah tampan, karier gemilang, kepopuleran dan harta kekayaan.
Randy juga tidak pernah mengajak Joana kencan berdua, selalu ada Lusiana yang siap sedia diajak menemani. Bahkan di hari di mana Randy seharusnya melamarnya itu pun, Joana –yang seharusnya diberi kejutan dan tidak tahu akan ada orang tua serta wartawan –mereka sebenarnya sedang pergi berlibur bertiga.
Rencana Randy waktu itu, dia dan Joana akan makan malam berdua di tepi pantai hingga larut, menunggu jam dua belas malam untuk sekalian merayakan hari ulang tahun Randy yang ke tiga puluh enam. Sementara Lusiana seperti biasa akan bersenang-senang dengan anak-anaknya, dua keponakan kembar Joana yang juga akan mengekor ke mana pun ibu dan bibinya berada.
“Lo serius?”
Joana yang sedang bersiap menoleh sebentar ke arah Lusiana, lalu tersenyum. “Kenapa, nggak? Kita sudah sejauh ini?”
“Yakin lo nggak bakal nyesel?”
“Gue? Menyesal? Oh, ayolah, Lus! Jangan ngomong yang nggak-nggak!” desis Joana.
“Kalau nyokap dan bokap tanya, bagaimana?”
“Ya jawab saja kalau kami nggak cocok.”
“Tapi lo tahu kan konsekuensinya?” Lusiana beranjak dari ranjang hotel tempat kedua anaknya terlelap, lalu menghampiri Joana. Dia meletakkan kedua tangannya ke pundak gadis itu, menatap pantulan diri mereka di cermin. “Semua orang bakal ngomongin lo.”
“Bukannya memang sudah biasa?”
Jawaban Joana sontak membuat Lusi tertawa. “Bisa saja lo. Iya, iya, yang terkenal.” Dia mencubit pipi tirus adiknya pelan, dan membuat empunya mengaduh, namun sebelum gadis itu bisa protes, Lusi segera menyambar peralatan make up yang ada di atas meja. “Sini biar gue yang dandanin. Biar si Randy makin klepek-klepek.”
*_*
Namun, seperti yang dicemaskan Lusi, menghadapi kedua orang tua mereka nyatanya tidak semudah membalikkan telapak tangan.
“Joana, dengarkan Mama! Randy itu anak yang baik! Kamu nggak kasihan sama dia? Semua orang sekarang membicarakan hal tidak-tidak tentangnya! Paling nggak sekarang kamu harus bikin klarifikasi biar gosip itu tak semakin menjadi.”
“Mamamu benar, Jo.” Ronald Dane menyambung. “Papa tidak enak pada Pak Bagaskara kalau seperti ini. Mau ditaruh di mana muka Papa?”
“Sudahlah, Pa. Biarkan Joana memilih jalan hidupnya sendiri.” Untungnya, Lusi selalu ada di sisinya. “Lagi pula apa yang dibilang orang-orang kan benar. Randy memang pernah brengsek dan nggak ada jaminan juga kalau suatu saat nanti dia nggak bakal kumat.
“Justru bagus kalau Jo berani mengambil langkah sekarang, sebelum semuanya bertambah runyam di masa depan. Memangnya Mama dan Papa mau kalau Jo jadi janda kayak aku gara-gara salah pilih suami?”
Ronald hanya menghela napas panjang, tapi tidak dengan Wina. Wanita paruh baya tersebut justru menegaskan, “Jangan bandingkan Randy dan pacarmu yang tidak jelas itu. Randy jelas-jelas datang ke rumah untuk melamar Joana, sementara suamimu? Kalian menikah tanpa restu.” Kalimat pamungkas yang seketika membuat Lusi bungkam seribu bahasa, sebelum akhirnya menyusul Joana masuk ke kamar.
Sebagai single mother, Lusi paham betul bahwa dia telah mengambil langkah yang salah di masa mudanya. Di usianya yang baru dua puluh tahun, Lusi berhenti kuliah demi mengejar pria yang dicintainya. Namun, dia tahu persis kalau itu bukan murni kesalahannya. Orang tua mereka pun abai padanya dan Joana, sebab hidup mereka hanya sepenuhnya ada untuk sang kakak.
Meskipun Lusi dan Joana pernah iri pada kakaknya yang punya mimpi dan selalu didukung oleh keluarga, dan bahkan sering berpikir untuk mengalahkannya, namun kedua gadis itu tetap tak rela bila hal buruk menimpa kakak mereka. Dan tidak segan untuk melakukan apa saja guna membalaskan dendamnya.
Di sisi lain, Joana yang baru saja sampai di kamar melompat ke atas kasur lalu membuka kembali akun media sosialnya, yang telah dibanjiri ribuan komentar dari warganet. Ucapan penyemangat, titipan makian untuk Randy, sampai perdebatan antara penggemarnya dan penggemar mantan pacarnya –yang lebih banyak mendapat rujakan –meramaikan kolom komentar, yang secara tidak langsung telah menaikkan namanya.
“Kemarin gue dapat tawaran wawancara di televisi,” kata Lusiana sambil membuka pintu.
“Lo terima?”
“Nggaklah. Gila.” Lusi duduk di pinggiran kasur. “Jangan cepat-cepat tampil, nanti beritanya cepat meredup. Sekarang, nikmati saja dulu semuanya. Omong-omong, yang gue dengar sekarang si Randy depresi tuh, apalagi setelah potongaan live lo di-IG viral. Makin mumet kayaknya doi.”
Joana melirik sang kakak sambil tersenym tipis, kemudian kembali mengfokuskan pandangan ke layar ponsel. “Bagus deh. Itu kan yang kita mau. Paling nggak, dia harus merasakan apa yang pantas dia rasakan. Biar nggak tuman.”
“Terus, kapan lo mau ngajak dia ketemu?”
“Kalau menurut lo, enaknya kapan?”
“Besok?”
“Apa nggak kecepatan?”
“Bukankah kalau makin cepat semakin bagus? Anggap saja ini hadiah untuk ulang tahun Kakak, Jo.”
*_*
“APA? RANDY KECELAKAAN?”
Joana yang mendapati berita itu muncul di televisi hanya bisa melongo, sebab baru beberapa menit sebelumnya dia berbicara dengan pria itu.