40 Hari Terakhir

Nandreans
Chapter #31

Kebaikan Hati

“Gue benar-benar nggak habis pikir kalau Randy bisa berbuat sejauh itu.” Dion yang sudah memegang sendok tidak menyentuh nasi dan potongan ayam berbumbu potongan daun jeruk di hadapannya. Tatapannya lurus ke depan, seolah tengah menerawang sesuatu yang jauh pada gedung kantor kepolisian yang ada di seberang jalan.

Lelah, tentu saja. Matahari bahkan sudah sepenuhnya tenggelam saat mereka keluar dari kantor polisi, dan untuk menetralkan kembali energi yang telah terbuang seharian, Dion mengajak Maria dan Milly menikmati makan malam di restoran cepat saji depan polsek, sementara Raina –yang sejak tadi sudah diteleponin terus-terusan oleh Leon –tak bisa bergabung dan memilih balik duluan naik angkutan kota,

“Kak Randy bahkan nggak pernah membicarakan hal ini ke kita,” sambung Maria, kemudian dihelanya napas panjang lewat mulut. “Ngerasa kecolongan banget.”

“Itu berarti kalian nggak benar-benar mengenal Randy.” Dengan suara tidak begitu jelas dan lebih mirip orang berkumur-kumur, Milly menjawab. Namun, sebelum menyambung perkataannya, dia terlebih dahulu menelan potongan ayam goreng keju di mulutnya. “Karena berbeda dengan kalian, hal ini justru nggak mengherankan sama sekali buatku.

“Jujur, sebetulnya menurutku Randy orang yang baik. Sangat baik, malah. Sayangnya, seperti yang kita semua ketahui ..., dia playboy. Jadi, sering disalah pahami.”

Maria dan Dion tersenyum mendengar pengakuan mantan kekasih Randy yang satu itu. Selain karena tahu betapa bucinnya wanita ini pada Randy, mereka pun paham betul kalau apa yang dikatakan Milly sama sekali tidak berlebihan. Dan salah satu alasan dia bisa mendapatkan hati banyak perempuan pun juga karena kebaikan hatinya. Sebuah kemampuan yang rasa-rasanya memang hampir dimiliki oleh setiap ‘buaya’ macam Randy.

“Itu mah sudah tabiatnya, Kak. Nggak bisa diubah.”

“Dia begitu juga bukan karena mau,” sergah Milly. “Setidaknya, pada awalnya.” Dia mengambil segelas kola di atas meja dan meneguk isinya. “Bukan maksudku ingin membelanya, tetapi kalian harus tahu bahwa Randy bisa tumbuh menjadi pria yang ..., karena trauma masa lalunya.” Dia melempar tatapan sendu pada Maria dan Dion secara bergantian. “Perceraian orang tuanya tidak mudah.”

“Kami tahu.”

Milly menggeleng. “Kalian tidak tahu. Kalau kalian tahu, tidak mungkin kalian sangsi padanya. Katakan saja, kalian sempat berpikir dia menjadi pelaku juga, kan? Sama seperti yang dituduhkan oleh Joana dan kakaknya, bukan?”

“Kami –“

“Dion, Maria,” sela Milly. “Ada sesuatu yang harus kalian ketahui tentang Randy ..., selama aku berpacaran dengannya, tidak sekalipun aku pernah bosan meminta Randy berobat.

“Dia bukan tidak mau, justru dia sudah semangat melakukan pengobatan. Termasuk untuk mulai bertahan pada satu perempuan. Kalian pikir, Randy berubah murni karena Joana?” Melihat kedua kawannya kebingungan, Milly segela menggeleng. “Nggak mudah buat Randy mengubah kebiasaannya.

“Aku masih ingat dengan jelas di saat dia menceritakan betapa buruk hubungannya dengan sang ayah. Randy membenci kelakuan papanya, tapi makin hari dia justru tumbuh seperti beliau.

“Jangan kalian pikir dia tidak tersiksa karenanya. Justru, Randy banyak mengalami ketakutan. Untuk itulah, aku memintanya datang ke psikolog.

“Setidaknya, kalaupun kami tidak bisa bersama, aku ingin mendampinginya pulih. Sekalipun sudah menjadi mantan, kami tetap bisa berteman, bukan?”

*_*

“SEMOGA KAK RAINA BISA DAPAT JUARA!” Kinan, keponakan Leon berteriak dengan kencang sebelum nasi kuning buatan ayahnya yang berada di tengah ruangan dipotong oleh empunya acara.

Tidak seperti rencana, perayaan justru diadakan di restoran ayam goreng dengan dihadiri oleh seluruh karyawan. Selain karena awal pekan tak banyak pesanan, Yunus dan Lia juga ingin berbagi kesenangan dengan pegawai mereka. Pun Raina juga cukup dekat dengan Ida dan Yoga, tidak ada salahnya mencari banyak dukungan.

“Jangan lupa minta keluarga kalian untuk ikutan voting Raina.” Yunus memperingati kedua karyawannya.

“Gampang.” Mbak Ida menyanggupi. “Tenang saja, Rain, aku bakal minta ayah, ibu dan adik-adikku buat mendukungmu. Kalau perlu semua orang di gang tempat tinggalku, aku minta juga.”

“Yang penting lo harus kasih performa terbaik, Rain!” Yoga tak mau kalah ikut menimpali. “Jangan sampai kita di sini sudah dukung lo semaksimal mungkin, malah lo sendiri yang nggak semangat.”

Lihat selengkapnya