40 Hari Terakhir

Nandreans
Chapter #33

Hak Asuh

Perceraian tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan rasa sakit yang harus Mardian tahan ketika harus menyerahkan hak asuh putra semata wayang mereka kepada sang suami.

Padahal dua bulan lamanya, Mardian mengerahkan seluruh jiwa dan raganya untuk memenangkan pengadilan. Namun, semua harus dia lakukan demi kehidupan Randy yang lebih baik, setidaknya begitulah yang dia pikirkan saat itu.

Mardian belum lupa hari di mana dia mengetahui rahasia besar yang disembunyikan anaknya di gudang rumah mereka. Sama seperti sang ayah, Randy pun menyimpan segala kehidupannya di sana, termasuk bagaimana pemuda itu menarik paksa Rindu, anak pembantu mereka ke dalam gudang, di antara penuh barang serta lantai yang berdebu.

Randy menelanjangi masa depannya sendiri.

“Harusnya kamu tahu risiko ini,” gerutu Mardian pada pertemuan pertamanya dengan Sandy di sebuah restoran, tepat setelah mereka sah bercerai di depan gedung pengadilan. “Kenapa sih kamu harus selingkuh di rumah, Mas? Tidak bisakah kamu menyewa kamar hotel supaya tidak dilihat anakmu?”

“Aku benar-benar nggak menyangka kalau pada akhirnya akan jadi begini, Di.”

“Lalu, kamu berharap apa?” ketus Mardian. “Berzina di rumah, di depan anak, lalu kamu mau anakmu jadi anak saleh? Mimpi di siang bolong. Tuhan juga bakal tertawa.”

“Di, tolong jangan bicara begitu. Aku juga menyesal,” pinta Sandy. “Andaikan aku bisa memperbaiki semuanya.”

“Yang sudah pecah, sampai kapan pun akan pecah.”

“Dian.” Sandy hendak menengkup tangan mantan istrinya itu, tetapi Mardian yang menyadari langsung menarik tangannya dari meja. “Jika ada yang bisa kulakukan, katakan saja. Apa pun akan kulakukan demi anak kita.”

“Bawalah Randy bersamamu.”

“Apa?”

“Besarkan dia dengan baik.”

“Kau serius?”

“Apakah aku terlihat bercanda?” Meskipun dingin, tetapi Sandy paham betul bahwa Mardian sedang terluka saat itu. Berat. “Dan jangan pernah biarkan dia kembali apa pun yang terjadi.

“Dia tidak boleh bertemu lagi dengan Rindu. Kita harus memisahkan mereka sebelum terlalu jauh.”

Namun, ternyata Mardian salah karena ternyata hubungan Rindu dan putranya sudah terlalu jauh.

Dua bulan setelah tahu ajaran baru berlangsung, Mardian justru mendapat kabar mengejutkan, di mana Rindu dikabarkan jatuh pingsan di sekolah. Orang tuanya datang sambil menangis dan minta di antarkan Mardian ke rumah sakit, tentu sebagai majikan dia tidak menolak.

“Anak kami sakit apa, Dok?”

“Kondisinya akan baik-baik saja, kan?”

Tuti dan Joko menanyai dokter yang datang untuk memeriksa Rindu. Tubuh gadis itu dibaringkan di unit gawat darurat lengkap dengan infus yang tersambung di punggung tangan kirinya, sedangkan Mardian duduk mengamati dari kursi kayu yang ada di samping ranjang.

“Bapak dan Ibu tenang saja,” jawab Dokter lembut. “Adik Rindu tidak kenapa-kenapa, tetapi kami memiliki kabar yang kurang mengenakkan untuk kalian.”

“Apa, Dok?”

Dokter perempuan itu menarik napas panjang, menoleh ke arah Rindu dan Mardian, lalu kembali menatap Joko dan Tuti. Sepertinya, dia kesulitan merangkai kata. “Putri kalian sedang hamil tiga bulan.”

*_*

“DASAR ANAK KURANG AJAR! DISURUH SEKOLAH MALAH HAMIL! KALAU SUDAH BEGINI BAGAIMANA? KALAU ORANG-ORANG TAHU KAMU HAMIL, MAU DITARUH DI MANA MUKA BAPAK?”

Lihat selengkapnya