40 Hari Terakhir

Nandreans
Chapter #34

Layaknya Sinetron

“Tumben sudah pulang?” Leon yang melihat kekasihnya pulang segera menyambut dengan semangkuk besar sup sayuran yang baru saja diangkat dari kompor. “Lho? Muka kamu kenapa? Kok lesu begitu? Ada masalah?”

Raina menggeleng lemah, lalu menjatuhkan bokongnya ke lantai. “Aku pikir kisah keluargaku doang yang kayak sinetron, ternyata ada yang lebih drama lagi.”

“Siapa? Randy?” tebak Leon. “Ya begitulah, Sayang. Makin kaya sebuah keluarga, makin banyak dramanya. Bukan berarti yang miskin kayak kita nggak ada drama, tapi apa sih yang direbutin orang miskin? Palingan cuma hutang, kalau nggak begitu warisan. Tapi buat orang kaya ..., selain itu semua masih ditambah percintaan berseason-season, itulah kenapa tokoh utama di sinetron kebanyakan atau malah hampir semua orang kaya.”

Raina tertawa mendengar omongan kekasihnya. “Kamu bisa saja. Kelihatan banget kalau suka nonton sinetron.”

“Ya bagaimana, televisi di kedai tayanginnya sinetron mulu. Mau nggak mau kan aku jadi ikutan nonton.” Leon membela diri. “Sudah! Sudah! Makan dulu, mumpung masih hangat.”

Raina merangkak mendekati meja makan, kemudian menerima sepaket nasi dan lauk-pauk yang sudah disiapkan oleh kekasihnya untuk dinikmati. “Masakan kamu selalu enak, tapi sayang, –“

“Sayangnya apa?”

“Jarang masak. Sering-seringin masak di rumah dong, Yang.”

“Ya, kalau nggak sibuk pasti aku masakin. Apa sih yang nggak buat kamu? Oh iya, kondisi Randy bagaimana? Katamu tadi siang sempat kritis.”

Raina menjawab dengan mulut penuh nasi. “Untungnya cepat ditangani. Lagian ini belum saatnya dia pergi. Belum empat puluh hari kan.”

Leon hanya mengangguk-anggukkan kepalanya, mencoba paham meskipun sebetulnya tidak begitu mengerti. Sebab menurut Leon, apa yang terjadi sekarang seperti drama fantasi. Terlalu sulit diterima oleh logika. “Jadi, Sayang, apakah itu berarti dia akan meninggal?”

“Tergantung.” Raina menghentikan aksi makannya, kemudian meletakkan sendok dan garpu ke pinggir piring. “Tapi ya, Yang, nggak tahu kenapa aku kasihan banget sama Randy. Padahal kami baru kenal pas dia sudah jadi arwah, tapi kok kesannya aku nggak rela kalau dia pergi.” Dia berdecih, menggeleng-gelengkan kepala cepat seolah tak mau menerima pikiran buruk di sana. “Semoga saja dia dapat maaf tambahan. Besok Kak Dion bakal coba melacak keberadaan mantan dan anaknya Randy. Doain ya?”

“Amin!” Leon mengusap kedua telapak tangannya ke muka. “Ayo, lanjutin lagi makannya. Nanti keburu dingin.”

*_*

“Selamat pagi.”

Raina yang baru membuka mata dan hendak keluar kamar langsung dibuat melek saat mendapati sosok Randy sudah nongol di depan pintu kamar. Pria itu tersenyum lebar, memamerkan deretan gigi putihnya yang berjajar rapi. Seolah tanpa lupa bahwa kemarin dia telah mengabaikan Raina. “Astaga! Hampir saja jantung gue copot!”

“Sori!” Randy menempelkan kedua telapak tangannya ke dada, membentuk simbol permohonan. “Oh iya, hari ini kamu sibuk, nggak?”

Sebelum menjawab, Raina terlebih dahulu melonggokkan lehernya, mencoba mengintip ke kamar Leon yang berada di sebelah. Kosong. Pria itu pasti sudah pergi bekerja. “Nggak sih. Gue kan sekarang pengangguran. Kenapa?”

“Eh, aku mau ngajak kamu jalan-jalan.”

“Ke mana?”

“Sudah! Siap-siap saja dulu!”

*_*

Antara heran sekaligus takjub, Raina hanya bisa tertawa saat Randy tiba-tiba mengajaknya pergi ke kebun binatang.

“Kan dulu lo pernah bilang kalau ingin pergi ke kebun binatang.”

Bukan karena tidak menghargai, justru sebaliknya, Raina tidak menyangka kalau apa yang dia ceritakan sekilas bisa membekas di ingatan Randy. Adalah saat setelah Raina menjebloskan ayahnya ke kantor polisi, gadis itu dilanda perasaan bersalah sekaligus kesedihan mendalam.

“Lo sedih?”

“Buat?”

“Sudah masukin bokap lo sendiri ke penjara?”

“Entahlah, Ran. Gue nggak tahu harus merasa apa seharusnya. Dan jujur, gue penasaran apa maksud Tuhan bikin takdir gue kayak begini?”

Randy yang pada saat itu tengah berdiri di depan deretan foto di dinding rumah Raina, kemudian menunjuk salah satu dari foto tersebut. Potret Raina dan kedua orang tuanya bersama seekor merak yang indah. “Lucu.”

“Itu foto liburan terakhir kami. Pas ulang tahun gue yang ke sepuluh.”

“Oh ya?”

Lihat selengkapnya