Kendati setengah hati, tetapi Maria tetap berangkat bersama Dion mencari keberadaan Ririn.
Namun, sebagaimana yang telah dikatakan oleh Mardian, ketika keduanya sampai di alamat yang dituju, alih-alih mendapati sebuah rumah, mereka justru hanya menemukan lahan persawahan, lengkap dengan para warga yang tengah bekerja menanam padi.
“Maaf, Mas, saya lihat kok kebingungan?” Seorang pria tua bercaping mendekat, menanyai mereka yang kebingungan di pinggir jalan. “Apa terjadi sesuatu dengan mobilnya?
Dion dengan bersemangat menjawab, “Tidak, Pak!”
“Lalu, kenapa Mas dan Mbak berhenti di jalanan sepi ini? Panas lho.”
“Kalau tidak salah di sini dulu ada rumahnya Pak Joko ya?”
Pria yang kemudian mengaku Wagiman itu lah kemudian memberi tahu mereka alamat baru Joko. “Dulu dia memang tinggal di sini, Mas, tapi sudah lama sekali pindah. Sejak anaknya menikah, Joko pindah ikut menantunya. Tapi, dia masih sering datang ke warung ujung desa, tempat orang-orang biasa main kartu.”
“Oh.” Dion manggut-manggut.
“Kalian kalau mau ketemu Joko bisa langsung ke sana. Dia jarang di rumah. Tapi saran saya, lebih baik langsung ke rumahnya saja. Soalnya, Joko itu orangnya agak bermasalah. Ngapunten lho ini, Mas. Bukannya saya menjelek-jelekkan.”
“Iya, tidak apa, Pak. Kalau begitu saya langsung saja ya? Terima kasih.” Tidak lupa Dion menyalami pria itu, lalu membawa mobilnya pergi ke alamat yang dimaksud.
Jika dulu sewaktu datang bersama Raina keduanya lewat jalan kecil, kini mereka melintasi jalanan utama desa yang lebih lenggang. Hanya saja, lebih sepi. Sebab di desa kecil seperti ini, kebanyakan warganya merupakan petani itulah kenapa tidak ada di rumah saat siang hari. Akan tetapi, begitu sampai di belokan yang sangat tak asing, Maria berkata, “Ini bukannya jalan ke rumah Raina?”
*_*
“Jadi, Ririn itu Mbak Rindu?”
Di dalam ruang tamu rumah yang sepi –karena anak-anak sedang pergi ke sekolah –Rindu menyambut kedua teman anaknya yang kini justru datang untuk menginterogasi.
Meskipun masih perutnya masih diperban, tetapi kondisi Rindu sudah jauh lebih sehat. Malah, dia sudah bisa menyeduhkan teh tawar untuk kedua tamunya itu. Kalau saja Rindu tahu maksud kedatangan mereka, tentu saja dia tak akan menyambutnya. Sebab bagaimanapun juga, dia telah melupakan semua kenangan masa lalunya.
“Yang sudah terjadi biarlah terjadi. Tidak perlu diingat-ingat lagi.” Setelah cukup lama bungkam, Rindu akhirnya buka suara. Tanpa menatap balik lawan bicaranya.
Maria yang memegang gelas berisi teh hangat di atas meja dengan kedua tangannya, berkata, “Tapi ini nggak adil, Mbak.”
“Adil? Untuk siapa? Bukankah sejak awal memang tidak ada yang adil di sini,” jawab Rindu sinis. “Toh, apa lagi yang mau dicari? Randy punya hidupnya sendiri di sana, jadi tolong biarkan saya dan anak saya menjalani hidup kami dengan tenang.
“Saya tahu kalian berteman dengan Raina, tapi sekali lagi saya minta tolong jangan ikut campur urusan keluarga kami.”
“Mbak Rindu.” Dion yang sejak tadi diam akhirnya menyahut. “Bukan maksud kami ingin mengganggu kehidupan keluarga Mbak. Kami pun paham bahwa ini masalah yang sangat rumit. Kami juga tidak meminta Mbak untuk memberitahu Raina.
“Karena tujuan kami datang ke sini sebenarnya hanya ingin menyampaikan permintaan maaf Randy.” Napas Dion terasa berat, lebih tepatnya sesak. “Dia sangat menyesal karena terlambat mengetahui semuanya.”
Rindu menoleh cepat, matanya terbelalak kaget. “Randy tahu?” Dion dan Maria bergeming, tetapi itu cukup untuk membuat bahu Rindu melorot. “Ya Allah!” ucapnya putus asa. “Bisa saya bicara dengannya?”