“APA?”
Kewarasan Sandy Bagaskara seolah hilang begitu mendengar penjelasan pria di hadapannya. Ponsel pintarnya jatuh ke atas lantai, beruntung tidak sampai pecah, yang kemudian segera diambil oleh Ali dan diletakkan kembali ke atas meja kerja atasannya tersebut.
“Saya tidak mungkin salah dengar karena ini langsung dari sumber terpercaya. Dan tampaknya perempuan itu sudah berada di sini sekarang.”
Sandy memajukan tangannya sebagai isyarat supaya pria di hadapannya diam. Lalu, dengan cepat menyambar ponsel pintarnya, sebelum meninggalkan ruangan.
“Dasar gila!” umpat Sandy. “Antar saya ke rumah sakit. Sekarang!” katanya pada Prabu, supir pribadinya begitu memasuki mobil.
Apakah Mardian sudah gila?
Dan memang begitulah menurut Sandy. Sejak mereka berpisah, tampaknya mantan istrinya itu telah kehilangan kewarasan.
Bisa-bisanya dia membawa Rindu datang ke sana? Untuk apa? Dan apa yang kira-kira akan dikatakan media bila mereka mencium berita ini? Terlebih nama Randy dan keluarga Bagaskara sedang tidak baik sekarang. Sudah bisa dipastikan mereka bakal jadi gorengan hangat para wartawan.
“Kamu langsung pulang saja, nanti kalau saya butuh akan kabari.” Kalimat itu dikatakan oleh Sandy pada Ali tepat sebelum dia keluar dari mobil, di halaman parkir depan rumah sakit yang sesak oleh lautan kendaraan. “Dan satu lagi, jangan bilang apa-apa ke Ibu. Kalau dia tanya, bilang saja saya masih di kantor.”
“Baik, Pak.”
Tanpa menunggu mobil berputar, Sandy segera masuk ke gedung rumah sakit, namun baru beberapa meter sebelum sampai ke mulut pintu, langkahnya terhenti saat seorang gadis mengabrak bahunya, dan hampir saja membuat lansia itu terjengkang. “Astaga!”
“Maaf, Pak! Saya nggak sengaja,” ucap si gadis sambil menangis.
Melihat pemandangan memilukan di tempat seperti ini, Sandy langsung mengambil kesimpulan bahwa gadis tersebut baru saja mendapat kabar buruk. Itulah kenapa dia tak mau menambahi kesedihannya. “Tidak apa-apa. Hati-hati kalau jalan ya?”
“Terima kasih.”
“Sayang!” Dari kejauhan seorang pria berlari, memanggil gadis itu. Namun, karena terburu-buru dan tak ada urusan denganya juga, Sandy segera berlari menuju lift.
*_*
“Kamu sudah gila?” Adalah pertanyaan yang keluar pertama kali dari mulut Sandy begitu bertemu dengan Mardian.
Mardian melepaskan cengkeraman tangan mantan suaminya kasar. “Iya. Aku memang gila. Kenapa?”
“Dian, dengar! Aku tidak ingin berdebat denganmu, jadi tolong jangan membuat semuanya menjadi rumit. Kau sadar apa yang sudah kau lakukan? Seharusnya kau mengajakku berunding dulu sebelum mengambil keputusan.”
“Jika aku mengatakannya, apakah kau akan setuju?” balas Mardian. “Bukankah yang ada di kepalamu hanya bisnis, bisnis dan bisnis? Kau saja tidak pernah peduli pada Randy.”
“Kata siapa aku tidak peduli?”
“Kau mengabaikannya!”
“Kau pikir siapa yang selama ini menutup semua skandal anakmu?” tuntut Sandy. “Asal kau tahu, Dian. Anak kesayanganmu itu tidak sebaik yang kau pikir. Dia membuatku gila dengan kelakuannya, dan kau bilang aku mengabaikannya? Jika aku tidak peduli padanya, sudah kubiarkan dia hancur sejak dulu, tapi tidak! Aku tidak melakukannya.”
Mardian bergeming, menatap Sandy penuh arti.
“Baiklah!” Sandy menghela napas pendek. “Karena sudah telanjur ..., di mana Ririn? Aku ingin bertemu dengannya.”
“Untuk apa?”
“Tentu saja memberinya uang. Bukankah itu yang dia inginkan?”
Mardian mencegah dengan memegang tangan kiri Sandy. “Jangan, Sandy!” Yang langsung mendapat tatapan bingung dari pria itu. “Aku mohon jangan lakukan itu. Kita yang butuh Ririn, bukan sebaliknya.”
“Kau bicara apa?”
“Anak itu dilahirkan!”