40 Hari Terakhir

Nandreans
Chapter #37

Bukankah Hidup Merupakan Pilihan?

Lebih baik gue nggak lahir ketimbang hidup nyokap harus berantakan.

Adalah tweet netizen yang sempat viral di platform media sosial X beberapa hari lalu, yang langsung menyulut api berdebatan di antara warganet lainnya, termasuk Raina sendiri.

Namun, jika pada awalnya dia menganggap kalimat tersebut terlalu jahat, seolah mengerdilkan perjuangan orang tuanya, maka kini berbeda. Raina merasa seperti kedua pipinya ditampar bolak-balik dengan sangat keras. Apalagi saat dia mengetahui bahwa kelahirannya bukan hanya tidak direncanakan, tetapi juga telah menjadi sumber kehancuran mimpi-mimpi ibunya.

Kilas balik masa kecilnya muncul bagai potongan film, menampilkan betapa kejam dunia menghantam sang ibu. Yang langsung disambung pengandaian-pengandaian lain; andaikan saja Rindu tidak hamil, andaikan Rindu mau mengaborsinya, andaikan Rindu tidak memilih menikahi Siswoyo. Bukan tidak mungkin Rindu sedang duduk di rumah besar, punya karier yang bagus dan bertemu pria baik, kemudian membangun keluarga yang bahagia.

Rindu tidak perlu menghabiskan seumur hidup dalam kemiskinan, pengabdian semu pada lelaki jahat –yang entah kenapa kini justru membuat Raina kasihan –dan mengalami KDRT. Luka di perut ibunya tidak mungkin ada. Paling mentok berganti luka operasi sesar.

“Kenapa?” Di atas kasur kamarnya Raina terbaring, memeluk guling. Isak tangis membuat napasnya pendek dan sesak. “Kenapa, ya Allah? Kenapa harus aku? Ini nggak adil.”

Sebagai anak yang tumbuh dalam keluarga beracun, Raina kecil memang pernah berdoa jikalau Tuhan mau menukar ayahnya dengan ayah lain. Yang tidak jahat, yang tidak gemar memukul dan mau mengajak dia dan adik-adiknya pergi ke pasar malam setiap akhir pekan, sama seperti ayah teman-temannya. Namun, jelas bukan ini yang Raina mau.

*_*

Sementara itu, di balik pintu Rindu hanya bisa membujuk putrinya keluar dengan penuh kesabaran. “Sayang? Nak? Raina? Buka pintunya sebentar ya? Kita bicara dulu.”

“Nggak ada yang perlu dibicarakan lagi, Bu!”

Mendengar suara serak sang anak, hati Rindu semakin pilu. “Maafkan Ibu ya, Sayang. Ini semua salah Ibu.

“Ibu sama sekali tidak menduga kalau semua akan jadi begini. Ibu hanya ingin kamu punya kehidupan normal, tapi Ibu malah memberimu keluarga yang seperti ini. Sekali lagi maafkan Ibu ya, Rain.”

“Ini bukan salah Ibu!” Raina kembali menyahut, meski belum ada tanda-tanda kalau pintu akan dibuka. “Aku yang salah. Harusnya aku nggak ada. Harusnya aku nggak usah lahir, Bu.”

“Nggak! Nggak!” Rindu menggeleng cepat, menempelkan tangannya ke permukaan pintu. “Kamu nggak boleh bicara seperti itu, Sayang! Ibu menginginkanmu! Kamu harta Ibu yang paling berharga.

“Kamu mungkin dihadirkan terlalu cepat, tapi Ibu nggak pernah menganggap kamu kesalahan. Kalau mau dicari siapa yang salah, maka itu Ibu orangnya.”

Klek.

Rindu terkejut saat detik berikutnya Raina muncul dari dalam kamar, lengkap dengan rambut acak-acakan kan selimut yang menutup badan. Dia menghambur, memeluk Rindu sebelum akhirnya kembal tersedu-sedu. Sangat pahit.

“Oh, Sayangku!” Rindu menyambut, mengelus rambut keriting Raina sambil menciuminya beberapa kali. “Rainaku. Jangan nangis ya, Sayang.”

Raina mengguk dengan muka masih menempel di pelukan ibunya, membuat kaos yang dikenakan sang ibu basah oleh ingus dan air mata.

*_*

“Lo serius?” Kaget, Malaikat Maut yang tidak percaya mengulang pertanyaannya, mengonfirmasi tahu-tahu kalau seandainya pria itu hendak mengubah jawabannya. “Ini tinggal tiga hari lho.”

Daripada menjawab, Randy justru memilih mengalihkan pandangannya ke arah gedung perkotaan di kejauhan. Kedua ujung bibirnya tertarik ke atas, kontras dengan air matanya yang menggenang. “Seenggaknya gue mau mati tanpa penyesalan.”

“Oke!” Malaikat Maut menjentikkan tangannya ke udara, lalu berkata, “Kalau begitu sampai bertemu lagi. Gue masih banyak pekerjaan. Dah!” Lalu, dalam sekali jentikan dia menghilang.

*_*

Setelah bersusah payah mencari tumpangan, Randy akhirnya bisa tiba di kontrakan Raina. Akan tetapi, begitu dia sampai di mulut pintu yang menyambutnya adalah Rindu. Wanita itu tengah menyapu, sementara di atas kompor tampak pula panci yang sedang merebus sesuatu.

Suasana di sana cukup sepi. Leon sudah dipastikan pergi bekerja, sedangkan Raina tengah meringkuk di atas ranjang, yang bisa langsung Randy lihat dari pintu kamar yang dibiarkan terbuka. Di kening Raina terlihat juga sebuah lap basah sebagai kompres.

“Raina?” Randy berlari menghampiri, spontan hendak menyentuh kepala gadis itu tetapi sia-sia. “Kamu kenapa? Sakit?”

Tidak ada jawaban, mata Raina terpejam.

“Ya Tuhan,” sesal Randy.

Tidak bisa dimungkiri, situasi ini pastilah akan sangat sulit untuk Raina hadapi.

Sesuai dugaan Randy, putrinya terguncang. Inilah alasan mengapa dia tidak mau jujur sejak awal. Karena dosa yang Randy lakukan sudah kelewat besar. Kata maaf jelas tidak akan cukup untuk menghapusnya. Dan dia pun sadar betul kalau sampai kapanpun dosanya tak akan pernah diampuni.

Namun di sisa waktunya, setidak-tidaknya, Randy hanya ingin berada di sisi Raina dan memastikan bahwa gadis itu baik-baik saja.

Mungkinkah ini dorongan sindrom menjadi orang tua?

Tidak lama, Rindu datang membawa nampan yang kemudian diletakkannya di atas meja kecil di depat pintu, sebelum akhirnya menghampiri putri mereka. “Bangun, Rain. Sarapan dulu. Ini Ibu buatkan kamu sup jagung.”

“Aku nggak lapar, Bu!” Raina merintih.

Rindu mengambil kain kompres, lantas menempelkan punggung tangaannya untuk mengecek suhu tubuh Raina. “Sudah agak mendingan. Makan sedikit saja. Biar kamu bisa minum obat. Ya?”

Lihat selengkapnya