Jam sepuluh malam, dan warung kopi Bang Udin masih ramai oleh nyamuk, asap rokok, dan lima laki-laki yang duduk melingkar seperti sedang rapat RT, padahal yang dibahas cuma satu topik abadi: kenapa hidup mereka bisa seberantakan ini.
"Coba deh," Hendra membuka obrolan sambil menyalakan rokok yang entah sudah batang keberapa, "kalau ada olimpiade gagal rumah tangga, kita berlima pasti bawa pulang medali. Emas, perak, perunggu, sama... piala partisipasi."
"Piala partisipasi siapa?" tanya Rifky, si bungsu, sambil menyeruput es teh—satu-satunya orang di meja itu yang tidak merokok atau minum kopi pahit, karena menurutnya hidup sudah cukup pahit tanpa tambahan kafein.
"Fadillah," jawab Hendra santai. "Dia kan nggak pernah ikut lombanya. Tapi tetap dikasih piala karena hadir terus tiap malam nemenin kita yang kalah."
Fadillah, yang sejak tadi cuma diam menyeruput kopi hitamnya, mengangkat alis. "Piala partisipasi itu biasanya dikasih ke anak-anak biar nggak nangis. Jadi maksudmu aku ini anak kecil?"
"Bukan," Hendra menyeringai, "maksudku kamu ini pengecualian. Kita berempat gagal ujian. Kamu malah nggak pernah daftar."
Meja itu langsung riuh oleh tawa. Faiz, yang biasanya paling tenang, sampai terbatuk-batuk saking gelinya, sementara Saputra—laki-laki paling pendiam di antara mereka—hanya menggelengkan kepala pelan sambil menyembunyikan senyum di balik cangkir kopi.
Begitulah biasanya malam-malam mereka berakhir. Bukan di rumah masing-masing yang sepi, tapi di warung kopi pinggir jalan milik Bang Udin, tempat yang sudah seperti markas tidak resmi buat lima laki-laki yang, entah kenapa, selalu merasa lebih di rumah di sini dibanding di rumah mereka sendiri.