4in1: Empat Duda, Satu Perjaka

Bobby Mahmud
Chapter #3

BAB 1 — FAIZ DAN KOPI YANG SELALU DINGIN

Faiz punya kebiasaan aneh yang bahkan dia sendiri tidak sadari sampai suatu hari Hendra menunjuknya dengan gemas: setiap kali memesan kopi, dia hampir selalu lupa meminumnya sampai dingin. Bukan karena dia terlalu sibuk mengobrol—walaupun itu juga sering terjadi—tapi karena setiap kali cangkir hitam pekat itu mengepul di depannya, pikirannya selalu melayang ke satu tempat yang sama: rumah lamanya, sebuah bangunan dua lantai dengan cat hijau pastel di ujung gang, tempat sekarang anaknya, Alea, tinggal bersama Ratna, mantan istrinya.

Pagi itu langit masih abu-abu, sisa gerimis semalam masih menempel di dedaunan pohon mangga depan kosnya. Faiz baru saja selesai menyetrika kemeja kerjanya ketika ponselnya bergetar di atas meja. Sebuah pesan singkat, tapi cukup untuk membuat gerakan tangannya berhenti sejenak.

"Alea nanya kapan Ayah jemput dia. Katanya kangen."

Dari Ratna.

Faiz membaca pesan itu tiga kali, seolah mengulangnya bisa mengubah perasaan yang muncul di dadanya—campuran antara rindu, bersalah, dan sesuatu yang lebih rumit yang bahkan sulit dia beri nama. Dia menaruh setrika, duduk di pinggir kasur lipat kosnya, dan menatap layar ponsel lama sebelum akhirnya mengunci layar tanpa membalas.

Rumah kos itu masih terasa asing, walaupun sudah hampir setahun dia tinggali. Kamar berukuran empat kali empat meter dengan satu jendela kecil menghadap tembok tetangga, jauh berbeda dari rumah yang dulu dia bangun bersama Ratna—rumah dengan halaman kecil tempat Alea belajar naik sepeda, dengan dapur yang selalu berbau kopi setiap pagi karena Ratna suka menyeduhnya sebelum berangkat kerja.

Di kantor, Faiz adalah sosok yang sangat dihormati. Sebagai manajer operasional di sebuah perusahaan logistik menengah, dia dikenal tenang, jarang menaikkan suara, dan selalu punya solusi ketika tim menghadapi masalah pengiriman yang rumit. Anak buahnya sering bilang, "Kalau ada masalah, samperin Pak Faiz aja, pasti tenang jawabnya." Tapi mereka tidak tahu, di balik meja kerjanya yang selalu rapi, tersimpan satu folder di laptop yang sengaja diberi nama membosankan—"Dokumen Kerja 2024"—padahal isinya adalah ratusan foto lama keluarga kecilnya sebelum semuanya runtuh perlahan-lahan, seperti bangunan yang keroposnya tidak terlihat dari luar.

Siang itu, di sela jam istirahat, Faiz duduk sendirian di kantin kantor, menusuk-nusuk nasi gorengnya tanpa nafsu makan yang jelas. Rekan kerjanya, Dimas, duduk di seberang meja sambil bercerita tentang rencana liburan akhir tahun bersama keluarganya. Faiz hanya mengangguk-angguk, sesekali tersenyum, tapi pikirannya masih melayang ke pesan pagi itu.

"Lo kenapa, Faiz? Dari tadi kayak orang mikirin utang," celetuk Dimas.

"Nggak apa-apa," jawab Faiz singkat, tersenyum tipis. "Cuma lagi mikirin jadwal jemput anak."

Dimas mengangguk paham—hampir semua orang di kantor tahu tentang perceraian Faiz, walau dia sendiri jarang membicarakannya secara terbuka.

Malam harinya, seperti kebiasaan yang sudah terbentuk selama setahun terakhir, Faiz menyambangi warung kopi Bang Udin. Kali ini dia datang lebih awal dari biasanya, sekitar setengah delapan, duduk sendirian di meja pojok dengan segelas kopi yang—lagi-lagi—akan dingin sebelum sempat dia habiskan.

"Lho, kok udah di sini? Belum jam sembilan," sapa Hendra yang baru datang dengan motor bebek tuanya, helm masih tergantung di lengan kanan, keringat masih terlihat di dahinya karena macet sore itu.

"Nggak mood pulang cepat," jawab Faiz singkat, tanpa menoleh.

Lihat selengkapnya