4in1: Empat Duda, Satu Perjaka

Bobby Mahmud
Chapter #4

BAB 2 — HENDRA DAN HANTU MASA LALU

Kalau ada penghargaan tahunan untuk kategori "orang paling berisik tapi diam-diam paling kesepian", Hendra pasti juara satu tanpa saingan berarti, dan mungkin dia sendiri yang akan paling semangat menerima piala itu sambil bercanda di atas panggung.

Sehari-hari, Hendra bekerja sebagai sales di sebuah perusahaan alat elektronik rumah tangga, pekerjaan yang cocok banget dengan mulutnya yang tidak pernah berhenti bergerak. Dia bisa menjual kulkas ke orang yang bahkan belum berencana beli kulkas, hanya bermodalkan obrolan ringan dan lelucon yang entah kenapa selalu berhasil mencairkan suasana pelanggan yang tadinya cuek. Tapi di balik semua candaan dan kelakarnya yang seolah tidak ada habisnya, Hendra menyimpan satu luka yang paling sering dia tutupi dengan tawa: perceraiannya dengan Wulan, yang terjadi bukan karena perselingkuhan atau kekerasan seperti sangkaan orang-orang, tapi karena hal yang menurutnya sendiri paling konyol untuk diakui—komunikasi yang buruk.

"Kita berdua sama-sama keras kepala," begitu Hendra biasanya menjelaskan kalau ditanya alasan cerai, biasanya sambil tertawa seolah itu bukan masalah besar. "Dia nggak mau ngalah, gue juga nggak mau ngalah. Berantem soal hal-hal kecil jadi berantem soal segalanya. Akhirnya yang ngalah cuma pernikahannya, karena kita berdua sama-sama nggak mau."

Pagi itu, sesuatu yang tidak pernah dia duga terjadi. Ponselnya berdering saat dia sedang menyiapkan sampel produk untuk presentasi ke klien. Sebuah pesan dari nomor yang sudah lama tidak muncul di layar teleponnya—Wulan, mantan istrinya, setelah hampir dua tahun tanpa kabar sama sekali.

"Hen, kita perlu ngobrol. Soal Kayla."

Kayla adalah anak semata wayang mereka, sekarang berusia enam tahun, tinggal bersama Wulan sejak perceraian resmi mereka tiga tahun lalu.

Hendra membaca pesan itu berkali-kali sambil duduk di kursi kerjanya yang berputar, jantungnya berdebar seperti remaja yang baru dapat chat balasan dari gebetan setelah menunggu berhari-hari—bedanya, ini bukan debaran bahagia yang menyenangkan, tapi debaran cemas yang membuat perutnya terasa mual.

Sepanjang pagi, dia tidak fokus bekerja. Presentasinya ke klien jadi berantakan, salah menyebut spesifikasi produk sampai dua kali, membuat atasannya menegur dengan tatapan heran—biasanya Hendra adalah sales paling lancar di timnya.

Sore harinya, sepulang kerja, dia menemui Wulan di sebuah kafe sederhana dekat kantor Wulan. Pertemuan pertama mereka setelah dua tahun terasa canggung, penuh jeda yang diisi dengan tatapan yang saling menghindar, sesekali diselingi basa-basi kaku tentang cuaca dan kemacetan jalan.

"Kayla mau ikut lomba mewarnai di sekolah minggu depan," Wulan akhirnya membuka pembicaraan setelah pesanan kopi mereka datang. "Dia nanya bisa nggak ayahnya dateng nonton."

Hendra terdiam, tangannya berhenti mengaduk kopi yang baru saja dipesan. Ini bukan tentang "balikan demi anak" seperti yang dulu sempat dia takutkan waktu membaca pesan pertama Wulan pagi tadi—ini jauh lebih sederhana dan sekaligus jauh lebih berat: anaknya sendiri ingin ayahnya hadir dalam momen kecil hidupnya.

"Gue... pasti dateng," jawab Hendra, suaranya jauh lebih pelan dari biasanya, tidak ada nada bercanda sedikit pun.

Wulan menatapnya lama, seolah mencoba mencari sosok Hendra yang dulu dia kenal di balik wajah yang sama itu. "Kamu berubah, Hen."

"Berubah gimana?" Hendra mengangkat alis, bingung.

"Dulu, tiap gue ngomong soal Kayla, atau soal apa aja yang serius, kamu selalu bawa bercanda. Kayak nggak sanggup ngadepin hal serius secara langsung. Sekarang kamu diem, terus jawab serius. Nggak kayak Hendra yang dulu."

Lihat selengkapnya