Saputra bukan orang yang gampang bercerita tentang dirinya sendiri. Bahkan setelah bertahun-tahun bersahabat dengan Faiz, Hendra, Rifky, dan Fadillah, dia hanya pernah menyebut alasan perceraiannya sekali—itu pun dengan kalimat pendek yang langsung ditutup rapat begitu selesai diucapkan: "Ada masalah lain. Bukan perselingkuhan." Setelah itu, tidak ada satu pun dari mereka yang berani mendesak lebih jauh, karena raut wajah Saputra saat mengucapkan kalimat itu cukup untuk membuat siapa pun mengerti bahwa itu bukan topik yang bisa dibahas santai sambil bercanda seperti topik-topik lainnya.
Pekerjaannya sebagai teknisi mesin di sebuah pabrik tekstil membuatnya terbiasa dengan mesin-mesin besar yang, kalau rusak, bisa langsung terlihat masalahnya dari suara yang tidak biasa atau komponen yang aus, lalu diperbaiki dengan cara yang sudah dia pelajari selama bertahun-tahun. Tapi hatinya bukan mesin. Ada bagian yang rusak di dalam dirinya, dan sampai sekarang dia sendiri belum tahu cara memperbaikinya, bahkan setelah tiga tahun berlalu sejak perceraiannya.
Hari itu, seperti biasa, Saputra pulang kerja lebih awal karena shift paginya selesai jam dua siang. Alih-alih langsung pulang ke rumah kontrakannya yang sepi dan hanya diisi oleh satu set meja kursi plastik serta televisi tabung tua peninggalan kontrakan sebelumnya, dia mampir ke taman kota, duduk di bangku yang sama seperti biasa—bangku ketiga dari pintu masuk, di bawah pohon trembesi yang rindang—menatap anak-anak kecil bermain bersama orang tua mereka sambil sesekali tersenyum tipis melihat tingkah lucu mereka.
Dulu, dia dan istrinya, Mira, sempat merencanakan punya anak dengan penuh harapan. Kamar kosong di rumah kontrakan lama mereka bahkan sudah mulai dicat warna kuning lembut, dibeli sepasang boneka kecil untuk menghiasi rak yang belum sempat terisi apa-apa. Tapi rencana itu tidak pernah terwujud—bukan karena mereka tidak berusaha keras, tapi karena kondisi kesehatan Mira yang membuat kehamilan berisiko tinggi bagi nyawanya sendiri. Setelah dua kali mengalami keguguran dalam rentang waktu satu setengah tahun, masing-masing di usia kandungan yang sudah cukup besar untuk membuat luka semakin dalam, Mira jatuh dalam masa-masa sulit yang perlahan membuat hubungan mereka retak—bukan karena Saputra tidak sabar atau tidak mendukung, tapi karena Mira merasa dirinya "gagal" sebagai istri dan sebagai calon ibu, dan tidak peduli seberapa keras Saputra meyakinkan sebaliknya setiap malam, Mira memilih untuk pergi demi—menurutnya sendiri—kebaikan Saputra.
"Kamu pantas dapat yang lebih baik," begitu kalimat terakhir Mira sebelum benar-benar pergi meninggalkan rumah kontrakan mereka dengan dua koper besar. Kalimat yang sampai sekarang masih terngiang jelas di kepala Saputra, karena menurutnya, Mira-lah yang sebenarnya "lebih baik" dari siapapun yang pernah dia kenal—hanya saja Mira tidak pernah bisa melihat dirinya sendiri seperti itu, terjebak dalam rasa bersalah yang tidak seharusnya dia tanggung sendirian.
Sore itu, saat langit mulai berubah jingga dan anak-anak di taman satu per satu dipanggil pulang oleh orang tua mereka, ponsel Saputra bergetar di saku celananya. Sebuah pesan dari nomor tak dikenal dengan kode area yang asing.
"Pak Saputra? Ini dari RS Harapan Bunda. Ibu Mira dirawat di sini sejak kemarin malam. Beliau menyebut nama Bapak berkali-kali saat setengah sadar."
Tangan Saputra gemetar membaca pesan itu, sampai ponselnya hampir terjatuh dari genggamannya. Sudah tiga tahun sejak perceraian mereka, dan ini pertama kalinya dia mendengar kabar tentang Mira lagi setelah sekian lama—bukan kabar baik, dan justru kabar yang membuat dadanya sesak seketika.
Dia duduk terpaku di bangku taman itu cukup lama, tidak tahu harus berbuat apa, sampai lampu-lampu taman mulai menyala satu per satu menandakan malam sudah tiba.
Malam itu di warung Bang Udin, Saputra datang lebih larut dari biasanya, wajahnya pucat, jauh lebih diam dari biasanya—yang sebenarnya sudah cukup diam dalam kondisi normal sekalipun. Dia duduk di kursinya seperti biasa, tapi tidak langsung memesan kopi seperti kebiasaannya.
"Lo kenapa?" tanya Rifky, yang paling peka soal perubahan raut wajah orang-orang di sekitarnya, meletakkan gorengan yang baru saja dia ambil.
Saputra menatap keempat sahabatnya bergantian—Faiz yang menatapnya khawatir, Hendra yang untuk sekali ini tidak melontarkan candaan, Rifky yang menunggu dengan sabar, dan Fadillah yang duduk tenang seperti biasa—lalu untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun persahabatan mereka, dia bercerita dengan lebih detail dari sekadar "ada masalah lain".
"Mira dirawat di rumah sakit," katanya pelan, suaranya nyaris tidak terdengar di tengah suara motor yang lewat. "Gue baru dikabarin tadi sore, pas lagi duduk di taman."