4in1: Empat Duda, Satu Perjaka

Bobby Mahmud
Chapter #6

BAB 4 — RIFKY DAN CINTA YANG DATANG TERLALU CEPAT

Di antara kelima sahabat itu, Rifky adalah satu-satunya yang masih punya semangat mencari cinta baru—walau sering ditutupi dengan alasan "belum siap" setiap kali ditanya soal itu oleh Hendra yang gemar sekali menjodoh-jodohkannya dengan siapa saja yang dia temui.

Usianya baru 28 tahun, tapi statusnya sebagai duda membuatnya merasa seperti berjalan lebih cepat dari teman-teman seusianya yang bahkan sebagian besar belum menikah, apalagi bercerai. Perceraiannya dengan Sarah terjadi setelah pernikahan yang hanya bertahan delapan bulan—terlalu cepat menikah, kata orang-orang di sekitarnya waktu itu, dan mungkin mereka benar sepenuhnya. Rifky dan Sarah menikah karena "kecelakaan" dalam artian kiasan—bukan dalam arti harfiah seperti kehamilan di luar nikah, tapi karena keduanya terlalu terburu-buru mengira cinta yang menggebu-gebu di usia muda pasti cukup kuat untuk membangun sebuah rumah tangga, tanpa pernah benar-benar mengenal kebiasaan dan prinsip hidup satu sama lain.

Pagi itu, Rifky bertugas mengantar barang ke sebuah kafe kecil di dekat kantornya—pekerjaannya sebagai kurir logistik untuk sebuah toko roti sering membawanya ke berbagai tempat baru setiap harinya, dari toko kelontong sampai kafe-kafe kekinian yang baru buka. Di kafe kecil itu, dia bertemu Nadia, barista yang baru bekerja di sana selama sebulan, dengan senyum ramah yang entah kenapa langsung membuat suasana pagi Rifky yang biasa-biasa saja terasa sedikit berbeda.

"Pesenannya siapa nih, Bang?" tanya Nadia sambil memeriksa daftar kiriman di kertas nota, rambutnya diikat rapi ke belakang dengan seragam kafe berwarna hijau tua.

"Atas nama toko roti Sinar Jaya," jawab Rifky, sedikit gugup tanpa alasan yang jelas, tangannya sampai salah menyerahkan nota dua kali.

Nadia tersenyum melihat kecanggungan kecil itu. "Oh, buat bahan baku croissant ya? Kalian sering kirim ke sini soalnya, hampir tiap dua hari sekali."

"Iya, betul," Rifky mengangguk cepat, mencoba terlihat santai walau jantungnya berdegup sedikit lebih kencang dari biasanya. "Sering banget malah, mungkin nanti-nanti kita bakal sering ketemu lagi."

"Boleh tuh," jawab Nadia ringan sambil menandatangani tanda terima, tanpa menyadari kalimat sederhana itu terus terngiang di kepala Rifky sepanjang sisa harinya bekerja.

Percakapan singkat itu entah kenapa terus terngiang di kepala Rifky sepanjang hari, bahkan saat dia sedang mengantar paket ke tempat lain yang jauh dari kafe itu. Bukan karena ada yang spesial dari percakapan itu sendiri—toh isinya cuma basa-basi soal croissant dan jadwal pengiriman—tapi karena sudah lama sekali dia tidak merasakan debaran sesederhana itu, debaran yang dulu sering dia rasakan sebelum semuanya jadi rumit bersama Sarah.

Sepulang kerja, dia sempat mampir sebentar ke rumah orang tuanya untuk makan malam, seperti kebiasaannya beberapa kali dalam seminggu sejak bercerai dan memilih tinggal sendiri di kontrakan kecil dekat kantor. Ibunya, seperti biasa, menyempatkan bertanya kapan Rifky akan "move on dan cari yang baru", pertanyaan yang selalu dijawab Rifky dengan senyum canggung dan alasan sedang fokus kerja.

Malam harinya di warung Bang Udin, Rifky bercerita dengan semangat yang tidak biasa, matanya berbinar-binar seperti anak kecil yang baru dapat mainan baru.

"Eh, tadi gue ketemu cewek baru di kafe deket kantor," katanya sambil nyengir lebar, hampir menumpahkan es tehnya sendiri saking bersemangatnya.

"Wih, si bungsu udah move on ternyata," Hendra langsung menggoda, menyenggol lengan Rifky dengan sikutnya. "Cerita, cerita! Namanya siapa? Cantik nggak? Udah minta nomor WA belum?"

"Bukan move on, cuma... nggak tau deh, jantung gue kayak deg-degan aja gitu pas ngomong sama dia," jawab Rifky sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal, mencoba menyembunyikan senyum yang terus muncul.

Lihat selengkapnya