4in1: Empat Duda, Satu Perjaka

Bobby Mahmud
Chapter #7

BAB 5 — RETAKAN PERTAMA

Seminggu setelah malam-malam penuh cerita itu, kelima sahabat berkumpul lagi di warung Bang Udin seperti biasa, kali ini dengan suasana yang sedikit berbeda—lebih hangat, lebih akrab, seperti ada ikatan baru yang terjalin setelah masing-masing membuka sedikit lebih banyak tentang diri mereka dalam beberapa hari terakhir.

Faiz bercerita dengan wajah berbinar tentang sore harinya bersama Alea, makan es krim rasa cokelat-stroberi sambil bercanda seperti dulu, bahkan Alea sempat memeluknya erat sebelum berpisah dan bilang "Ayah jangan lama-lama nggak ketemu lagi ya". Hendra menunjukkan foto dirinya menghadiri lomba mewarnai Kayla dengan penuh kebanggaan, meski Kayla hanya mendapat juara harapan tiga, tetap saja Hendra bercerita seolah anaknya memenangkan lomba tingkat nasional. Rifky bercerita malu-malu tentang obrolan singkatnya dengan Nadia yang sudah berlanjut lewat pesan singkat setiap malam, walau baru sebatas obrolan ringan seputar film dan makanan favorit. Bahkan Saputra, walau tidak banyak bicara seperti biasa, tampak sedikit lebih ringan dari sebelumnya—kunjungannya ke rumah sakit berjalan lebih baik dari yang dia bayangkan, Mira sudah stabil kondisinya walau masih perlu observasi lebih lanjut, dan mereka sempat berbicara sebentar dengan suasana yang tidak seburuk yang Saputra takutkan, meski masih ada jalan panjang untuk memperbaiki hubungan mereka sebagai sesama manusia.

Di tengah suasana hangat itu, dengan gorengan yang terus berdatangan dari dapur Bang Udin dan asap rokok yang mengepul santai di udara malam, Hendra—yang tidak pernah bisa menahan rasa penasarannya lebih dari beberapa hari—kembali melontarkan pertanyaan yang sama seperti biasa, tapi kali ini dengan nada yang jauh lebih serius dari sebelumnya, tanpa nada bercanda sedikit pun yang biasa menyelipi setiap pertanyaannya ke Fadillah.

"Bang Dil," katanya, meletakkan gelasnya perlahan di atas meja, matanya menatap Fadillah lurus-lurus. "Gue serius nanya kali ini. Bukan buat bercanda kayak biasanya."

Fadillah menoleh, mengangkat alis sedikit merasa aneh dengan nada Hendra yang tidak biasa. "Nanya apa, Hen?"

"Kenapa lo belum pernah nikah? Beneran, gue pengen tau yang sebenarnya," Hendra menatap Fadillah dengan sungguh-sungguh. "Kita berempat udah cerita semua tentang masa lalu kita masing-masing ke lo, tanpa ada yang ditutup-tutupi. Lo tau semua cerita gue soal Wulan dan Kayla, cerita Faiz soal Ratna dan Alea, cerita Saputra soal Mira, cerita Rifky soal Sarah dan sekarang soal Nadia. Tapi kita berempat nggak tau apa-apa soal lo, Bang. Padahal lo yang paling sering dengerin curhatan kita, paling sering ngasih nasihat. Rasanya nggak adil aja kalau kita terus-terusan cuma nerima tanpa pernah bener-bener kenal lo."

Suasana meja tiba-tiba berubah drastis. Faiz, Saputra, dan Rifky yang tadinya asyik dengan cerita masing-masing dan sesekali tertawa, ikut menoleh serempak ke arah Fadillah, menunggu jawaban yang selama bertahun-tahun ini selalu berhasil dihindari dengan berbagai cara oleh sahabat mereka yang satu ini.

Fadillah terdiam cukup lama, jauh lebih lama dari biasanya. Untuk pertama kalinya sepanjang persahabatan mereka, dia tidak langsung menjawab dengan kalimat template "belum waktunya" atau lelucon pengalih perhatian seperti yang selalu dia lakukan setiap kali topik ini muncul di tengah obrolan.

"Kalian mau tau beneran?" tanya Fadillah akhirnya, suaranya lebih pelan dari biasanya, matanya menerawang jauh seolah sedang menimbang-nimbang sesuatu yang besar.

"Mau," jawab keempatnya hampir bersamaan, serempak dan penuh kesungguhan, tidak ada satu pun yang tertawa atau bercanda seperti biasa.

Fadillah menatap kopinya yang sudah setengah dingin, memutar-mutar cangkirnya perlahan, lalu menghela napas panjang yang terdengar berat. "Ceritanya panjang. Dan... nggak semudah cerita kalian, mungkin nggak akan bisa gue selesain dalam satu malam."

"Kita punya waktu, Bang," kata Faiz, menyandarkan punggungnya ke kursi, siap mendengarkan sepanjang malam kalau perlu.

Lihat selengkapnya