4in1: Empat Duda, Satu Perjaka

Bobby Mahmud
Chapter #9

BAB 7 — HENDRA, WULAN, DAN LAKI LAKI DI KANTOR WULAN

Kalau ada satu hal yang membuat Hendra sulit tidur belakangan ini, bukan soal pekerjaan atau target penjualan bulanan yang terus mengejar, melainkan sebuah informasi kecil yang secara tidak sengaja dia dengar dari salah satu teman lama Wulan yang kebetulan menjadi pelanggannya.

"Eh, Hen, denger-denger Wulan mau tunangan ya?" tanya Bu Tuti, pelanggan setianya yang baru saja membeli mesin cuci baru, sambil menandatangani nota pembelian.

Hendra, yang sedang menghitung kembalian, hampir menjatuhkan uang di tangannya. "Tunangan? Sama siapa, Bu?"

"Lho, kamu belum tau?" Bu Tuti mengangkat alis heran. "Katanya sama rekan kerjanya di kantor. Udah deket beberapa bulan ini, katanya."

Sepanjang sisa hari itu, Hendra tidak bisa fokus bekerja. Pikirannya terus dipenuhi pertanyaan-pertanyaan yang tidak seharusnya menjadi urusannya lagi, mengingat status mereka yang sudah bercerai selama tiga tahun. Tapi entah kenapa, berita itu tetap terasa seperti pukulan telak yang tidak dia duga.

Sore harinya, dia memberanikan diri menghubungi Wulan langsung, alih-alih menunggu pertemuan mereka yang biasanya hanya seputar urusan Kayla.

"Wulan, boleh nanya sesuatu?" Hendra memulai percakapan telepon dengan nada yang berusaha terdengar santai.

"Boleh, kenapa, Hen?"

"Gue denger dari orang, katanya kamu mau tunangan?"

Ada jeda cukup lama sebelum Wulan menjawab. "Iya, Hen. Namanya Bimo, kita udah deket sejak awal tahun ini. Kenapa? Ada masalah?"

Hendra terdiam sejenak, mencoba mencerna perasaannya sendiri sebelum menjawab. "Nggak ada masalah. Cuma... gue pengen tau, gimana nanti sama Kayla? Apa Bimo bakal jadi bagian dari hidup dia juga?"

"Tentu aja, Hen. Tapi tenang, posisi kamu sebagai ayah Kayla nggak akan pernah berubah. Bimo cuma bakal jadi bagian tambahan, bukan pengganti."

Percakapan itu berakhir dengan nada yang cukup baik, tapi tetap menyisakan perasaan aneh di dada Hendra sepanjang malam. Dia sendiri bingung, kenapa berita pertunangan mantan istrinya bisa membuatnya segelisah ini, padahal dia sendiri yang selalu bilang ke teman-temannya bahwa perceraian mereka murni karena masalah komunikasi, bukan karena masih ada perasaan yang tersisa.

Malam itu di warung Bang Udin, Hendra bercerita dengan nada yang campur aduk antara bingung dan sedikit kesal pada dirinya sendiri.

"Gue nggak ngerti kenapa gue segini gelisahnya," katanya, menghela napas panjang sambil mengaduk es tehnya tanpa alasan jelas. "Padahal gue udah ikhlas cerai sama Wulan, gue juga udah dukung dia move on. Tapi pas denger dia mau tunangan, kok rasanya... aneh gitu."

"Itu wajar, Hen," Fadillah menjawab dengan tenang. "Bukan berarti lo masih sayang sama Wulan secara romantis. Tapi karena Wulan itu udah jadi bagian penting dalam hidup lo selama bertahun-tahun, apalagi kalian punya anak bareng. Wajar kalau ada perasaan nggak nyaman waktu ada orang baru yang bakal ambil peran besar dalam hidupnya, meskipun lo sendiri udah nggak punya hak buat cemburu secara romantis."

Lihat selengkapnya