Setelah beberapa minggu menjalani pendekatan yang pelan dan hati-hati sesuai nasihat Fadillah, hubungan Rifky dan Nadia semakin berkembang. Mereka sudah beberapa kali menghabiskan waktu bersama di luar jam kerja—menonton film, jalan-jalan sore di taman kota, bahkan sesekali Nadia mengajari Rifky cara membuat kopi latte art sederhana di waktu senggangnya di kafe.
Suatu malam, setelah merasa cukup yakin dengan hubungan mereka yang semakin dekat, Rifky memutuskan untuk memberanikan diri mengajak Nadia bertemu dengan keempat sahabatnya di warung Bang Udin—sebuah langkah besar yang menandakan keseriusan yang berbeda dari hubungannya dengan Sarah dulu, yang terlalu terburu-buru tanpa proses pengenalan yang cukup.
"Kamu yakin mau kenalin aku ke temen-temen kamu?" tanya Nadia sedikit gugup saat mereka berjalan menuju warung.
"Yakin banget," jawab Rifky sambil tersenyum lebar. "Tapi gue peringatin dulu, mereka rada berisik, terutama yang namanya Hendra. Jangan kaget kalau langsung dibombardir pertanyaan aneh-aneh."
Benar saja, begitu mereka sampai di warung dan Rifky memperkenalkan Nadia, Hendra langsung menyerbu dengan berbagai pertanyaan.
"Nadia, ya? Salam kenal! Btw, serius nih pacaran sama Rifky? Nggak salah pilih? Dia tuh tukang ngiler kalau tidur lho," celetuk Hendra tanpa basa-basi, membuat Rifky langsung protes keras sementara Nadia tertawa geli mendengarnya.
"HENDRA! Nggak usah bocorin aib gue dong!" Rifky memukul lengan Hendra pelan, wajahnya memerah malu.
"Loh, kan biar Nadia tau apa yang bakal dia hadapin ke depannya," Hendra menyeringai jahil, tidak menyesal sedikit pun.
Faiz, yang lebih sopan dari Hendra, menyalami Nadia dengan ramah. "Selamat datang, Nadia. Jangan dengerin Hendra, dia emang begitu ke semua orang baru, lama-lama juga terbiasa."
Saputra hanya mengangguk singkat sambil tersenyum tipis, caranya sendiri untuk menyambut orang baru tanpa banyak kata. Fadillah, yang duduk di ujung meja, menyapa dengan lebih hangat.
"Selamat datang, Nadia. Semoga betah nongkrong di sini, walau kadang berisik banget kalau si Hendra udah mulai," kata Fadillah sambil tersenyum, membuat Nadia semakin merasa diterima di lingkungan baru itu.
Sepanjang malam, obrolan berjalan hangat dan penuh tawa. Nadia bercerita tentang mimpinya membuka usaha roti sendiri, yang langsung disambut antusias oleh Faiz yang menawarkan bantuan analisis bisnis sederhana dari pengalamannya di bidang logistik. Hendra terus melontarkan candaan yang membuat Nadia tertawa lepas, sementara Saputra sesekali menambahkan komentar singkat yang selalu berhasil mengundang tawa karena ketepatannya yang tidak terduga.
Di tengah obrolan, Fadillah sempat mengamati interaksi Rifky dan Nadia dengan seksama, melihat cara mereka saling menatap dan tertawa bersama, jauh berbeda dari cerita Rifky tentang hubungannya dengan Sarah dulu yang penuh ketergesaan.
"Rifky," bisik Fadillah pelan saat Nadia sedang asyik mengobrol dengan Faiz soal bisnis roti, "gue liat progress lo bagus banget sama Nadia. Kelihatan lebih natural, nggak kayak dulu."
"Makasih, Bang," Rifky tersenyum tulus. "Semua berkat nasihat abang waktu itu, soal nggak buru-buru."
"Bukan cuma nasihat gue," Fadillah menepuk pundak Rifky. "Tapi karena lo sendiri yang mau belajar dari kesalahan lo. Itu yang paling penting."