4in1: Empat Duda, Satu Perjaka

Bobby Mahmud
Chapter #11

BAB 9 — KABAR DARI RUMAH SAKIT

Beberapa minggu setelah kunjungan pertamanya, Saputra semakin sering mengunjungi Mira di rumah sakit, meski hubungan mereka tetap dijaga dalam batas yang jelas—bukan sebagai pasangan yang mencoba kembali bersama, melainkan sebagai dua orang yang saling peduli setelah melewati banyak hal bersama di masa lalu.

Namun, suatu sore, kabar yang lebih berat datang. Dokter yang menangani Mira meminta bertemu dengan Saputra secara khusus, sesuatu yang membuat firasat buruk langsung menghantui pikirannya sepanjang perjalanan menuju rumah sakit.

"Pak Saputra," dokter itu memulai dengan nada hati-hati, "kondisi Ibu Mira ternyata lebih serius dari yang kami perkirakan sebelumnya. Ada komplikasi pada organ reproduksinya akibat dua kali keguguran yang tidak ditangani dengan tuntas di masa lalu. Kami perlu melakukan tindakan operasi secepatnya."

Saputra terdiam mendengar penjelasan itu, kepalanya dipenuhi rasa bersalah yang muncul kembali—andai dulu dia lebih memaksa Mira untuk memeriksakan diri secara menyeluruh setelah keguguran kedua, mungkin kondisinya tidak akan separah ini.

"Berapa biaya operasinya, Dok?" tanya Saputra, mencoba fokus pada hal yang bisa dia kendalikan.

Dokter menyebutkan angka yang cukup besar, jumlah yang jauh melebihi tabungan Saputra sebagai teknisi pabrik dengan gaji pas-pasan. Tapi tanpa berpikir panjang, Saputra langsung mengangguk mantap.

"Saya akan usahakan, Dok. Tolong segera jadwalkan operasinya."

Malam itu, Saputra datang ke warung Bang Udin dengan wajah yang jauh lebih tegang dari biasanya, bahkan lebih tegang dari malam ketika dia pertama kali menerima kabar Mira dirawat.

"Ada apa, Put?" tanya Faiz, langsung menyadari sesuatu yang tidak beres dari raut wajah sahabatnya itu.

Saputra menjelaskan situasinya dengan detail, tentang operasi yang harus segera dilakukan dan biaya yang jauh dari jangkauannya. Suasana meja langsung berubah serius, semua orang saling pandang, memikirkan cara untuk membantu.

"Berapa kekurangannya, Put?" tanya Hendra, langsung mengeluarkan ponselnya seperti hendak menghitung sesuatu.

Saputra menyebutkan angka yang masih kurang dari tabungannya, membuat keempat sahabatnya terdiam sejenak menghitung kemungkinan.

"Gue bisa bantu sebagian dari tabungan gue," kata Faiz tanpa ragu. "Nggak banyak, tapi lumayan buat nutupin kekurangan."

"Gue juga," Hendra menambahkan cepat. "Kebetulan bulan ini komisi penjualan gue lumayan gede."

Rifky, meski penghasilannya sebagai kurir tidak sebesar yang lain, tetap menawarkan bantuan. "Gue nggak punya banyak, tapi ada tabungan kecil buat modal usaha bareng Nadia nanti. Nggak apa-apa gue pinjemin dulu buat Bang Saputra."

Fadillah, yang sejak tadi diam mendengarkan, akhirnya angkat bicara dengan nada tegas. "Kekurangannya biar gue yang tanggung. Kalian nggak usah maksain diri, apalagi Rifky yang lagi nabung buat masa depan sendiri."

Lihat selengkapnya