Beberapa hari setelah pengumpulan dana untuk operasi Mira, suasana di warung Bang Udin kembali ke ritme normalnya—penuh candaan, obrolan ringan, dan kehangatan khas kelima sahabat itu. Namun, suatu malam, sesuatu yang tidak terduga terjadi dan mengubah arah cerita mereka secara drastis.
Seorang perempuan berusia sekitar enam puluh dua tahun, rambutnya sudah memutih di beberapa bagian, masuk ke warung dengan langkah ragu-ragu, matanya menjelajahi setiap sudut ruangan seolah mencari sesuatu—atau seseorang. Bang Udin, yang biasa melayani pelanggan, segera menghampirinya.
"Mau pesan apa, Bu?" tanya Bang Udin ramah.
Perempuan itu tidak langsung menjawab, matanya masih menjelajahi ruangan sampai akhirnya berhenti di meja tempat kelima sahabat itu sedang duduk mengobrol. Wajahnya seketika berubah pucat, tangannya sedikit gemetar.
"Maaf," perempuan itu berkata pelan, suaranya bergetar, "apa benar ini warungnya Fadillah?"
Fadillah, yang mendengar namanya disebut, menoleh dengan santai—tapi begitu matanya bertemu dengan sosok perempuan itu, ekspresinya berubah drastis. Wajahnya yang biasanya tenang mendadak pucat pasi, cangkir kopi di tangannya nyaris terjatuh.
"Ibu... Sri?" suara Fadillah terdengar bergetar, jauh berbeda dari nada tenangnya yang biasa.
Keempat sahabatnya yang lain langsung terdiam, saling pandang bingung melihat reaksi Fadillah yang begitu tidak biasa. Ini pertama kalinya mereka melihat sosok yang selama ini begitu tenang dan penuh kendali, tiba-tiba terlihat gugup bahkan hampir ketakutan.
"Fadillah," perempuan yang dipanggil Sri itu mendekat, matanya mulai berkaca-kaca. "Akhirnya... akhirnya Ibu nemuin kamu. Udah dua puluh tahun, Nak."
Kata "Nak" yang terlontar dari mulut perempuan itu membuat keempat sahabat Fadillah semakin bingung dan penasaran. Selama ini, Fadillah tidak pernah sekalipun menyebut memiliki hubungan keluarga yang masih hidup, apalagi seorang ibu yang tiba-tiba muncul di warung mereka.
"Sri..." Fadillah berdiri dari kursinya, tangannya gemetar hebat. "Kenapa Ibu bisa nemuin gue di sini?"
"Bang Dil," Hendra akhirnya memberanikan diri bertanya, memecah ketegangan yang menyelimuti meja itu, "ini... siapa?"
Fadillah tidak langsung menjawab, matanya masih terpaku pada sosok perempuan di depannya, seolah melihat hantu dari masa lalu yang selama ini berhasil dia kubur dalam-dalam. Keheningan yang canggung menyelimuti seluruh warung, bahkan Bang Udin yang biasanya sibuk melayani pelanggan lain, ikut terdiam menyaksikan momen yang jelas terlihat sangat personal itu.
"Ini..." Fadillah akhirnya membuka suara, suaranya masih bergetar, "ini orang yang selama ini kalian tanyain. Alasan kenapa gue nggak pernah nikah."