Keesokan harinya, sesuai janji, Fadillah pergi menemui Sri di alamat yang telah dikirimkan semalam. Sepanjang perjalanan menuju rumah kecil sederhana di ujung gang sempit itu, pikirannya dipenuhi ribuan pertanyaan yang tidak pernah sempat dia ajukan selama ini—pertanyaan yang selama bertahun-tahun sengaja dia kubur dalam-dalam karena takut jawabannya akan mengguncang fondasi hidupnya sendiri.
Rumah itu sederhana, dengan cat dinding yang mulai memudar dan pagar besi kecil yang berkarat di beberapa bagian. Fadillah berdiri sejenak di depan pintu, menarik napas dalam-dalam sebelum akhirnya mengetuk pelan.
Sri membuka pintu dengan wajah yang terlihat lebih tenang dibanding malam sebelumnya, meski garis-garis kelelahan akibat sakit yang dideritanya masih terlihat jelas di wajahnya.
"Masuk, Nak," kata Sri lembut, mempersilakan Fadillah masuk ke ruang tamu kecil yang tertata rapi meski sederhana.
Mereka duduk berhadapan, secangkir teh hangat tersaji di antara mereka yang tidak disentuh sama sekali. Fadillah menatap Sri lama, mencoba mencari kemiripan wajah yang mungkin selama ini dia lewatkan tanpa sadar.
"Ibu janji bakal certain semuanya," kata Sri akhirnya, memecah keheningan yang menegangkan. "Jadi, dengerin baik-baik ya, Nak."
Fadillah mengangguk, mempersiapkan hatinya untuk apapun yang akan dia dengar.
"Dulu, waktu Ibu masih muda, sekitar umur tujuh belas tahun, Ibu jatuh cinta sama seorang laki-laki bernama Bagus. Dia anak dari keluarga terpandang di kampung Ibu, sementara keluarga Ibu cuma keluarga sederhana. Hubungan kita ditentang keras sama keluarga Bagus, karena mereka nggak mau anaknya nikah sama perempuan dari keluarga biasa," Sri memulai ceritanya, suaranya bergetar mengenang masa lalu yang menyakitkan.
"Terus?" Fadillah bertanya pelan, tidak sabar mendengar kelanjutannya.
"Ibu hamil sebelum kita sempat menikah," Sri melanjutkan, air matanya mulai menetes. "Keluarga Bagus langsung memisahkan kita begitu tau. Bagus dipaksa pindah ke luar kota buat kuliah, dan Ibu ditinggalkan sendirian dengan kandungan yang semakin membesar, penuh rasa malu di depan keluarga dan tetangga."
Fadillah terdiam, mencerna setiap kata yang keluar dari mulut Sri, dadanya terasa semakin sesak.