4in1: Empat Duda, Satu Perjaka

Bobby Mahmud
Chapter #14

BAB 12 — CERITA YANG AKHIRNYA TERUNGKAP

Tiga hari setelah pertemuannya dengan Sri, Fadillah tidak muncul sama sekali di warung Bang Udin, sebuah hal yang sangat tidak biasa mengingat betapa konsistennya dia hadir setiap malam selama bertahun-tahun terakhir. Keempat sahabatnya mulai khawatir, terutama karena mereka tahu betapa beratnya beban yang sedang dipikul Fadillah setelah pertemuan mengejutkan dengan Sri.

"Udah tiga hari, nih," kata Hendra cemas, mengaduk kopinya tanpa nafsu meminum. "Biasanya Bang Dil selalu ada, walau cuma sebentar."

"Mungkin dia lagi butuh waktu sendiri," kata Faiz, mencoba bersikap pengertian meski dalam hatinya juga menyimpan kekhawatiran yang sama.

Saputra, yang biasanya paling tenang, kali ini mengusulkan sesuatu yang tidak biasa. "Menurut gue, kita samperin aja ke rumahnya. Bukan buat maksa dia cerita, tapi biar dia tau kita peduli, kita ada buat dia."

Rifky mengangguk setuju. "Bener, Bang Put. Daripada kita cuma nunggu-nunggu di sini sambil khawatir, mending langsung samperin."

Malam itu, keempat sahabat itu bersama-sama mendatangi rumah Fadillah, sebuah rumah sederhana yang selama ini jarang mereka kunjungi karena Fadillah lebih sering menghabiskan waktu di warung miliknya sendiri. Mereka mengetuk pintu dengan hati-hati, tidak yakin bagaimana reaksi Fadillah menerima kedatangan mereka yang tiba-tiba.

Fadillah membuka pintu dengan wajah lelah, matanya sembab seperti baru saja menangis atau kurang tidur selama berhari-hari. Melihat keempat sahabatnya berdiri di depan pintu dengan raut wajah penuh kekhawatiran, sesuatu di dalam dirinya seperti runtuh, dan untuk pertama kalinya di depan mereka, Fadillah menangis tanpa berusaha menyembunyikannya.

"Bang Dil," Faiz segera memeluknya, diikuti oleh ketiga sahabat lainnya yang ikut merangkul dalam pelukan kelompok yang canggung namun penuh ketulusan.

Mereka masuk ke dalam rumah, duduk di ruang tamu sederhana milik Fadillah. Setelah beberapa saat menenangkan diri, Fadillah akhirnya mulai bercerita, membuka semua rahasia yang selama ini dia simpan rapat-rapat, termasuk kebenaran mengejutkan tentang Sri, tentang orang tua yang membesarkannya yang ternyata adalah kakak dan iparnya sendiri, dan tentang ayah kandungnya yang menghilang tanpa jejak.

Keempat sahabatnya mendengarkan dengan seksama, tidak menyela sedikit pun, membiarkan Fadillah mengeluarkan semua beban yang selama bertahun-tahun dia pendam sendirian.

"Jadi," Fadillah mengakhiri ceritanya, suaranya masih bergetar, "selama ini gue nggak tau siapa diri gue sebenarnya. Gue dibesarkan dengan cinta yang tulus, tapi ternyata semuanya dibangun di atas rahasia yang disembunyikan demi menjaga nama baik keluarga."

Hening sejenak, keempat sahabatnya saling pandang, mencoba mencerna beratnya beban yang selama ini dipikul Fadillah sendirian.

"Bang Dil," Hendra akhirnya memecah keheningan, suaranya lebih lembut dari biasanya, "gue nggak tau harus ngomong apa yang bisa bikin lo ngerasa lebih baik. Tapi yang gue tau, siapapun orang tua kandung lo, gimanapun cara lo dibesarkan, lo tetep Fadillah yang kita kenal selama ini—orang paling bijak, paling sabar, dan paling peduli sama kita semua."

Faiz mengangguk setuju. "Bener, Bang. Identitas lo nggak ditentukan sama siapa yang ngelahirin atau siapa yang ngebesarin lo secara teknis. Identitas lo itu dibentuk dari semua pilihan dan tindakan yang udah lo buat sepanjang hidup lo, termasuk gimana lo selalu ada buat kita berempat."

Lihat selengkapnya