Setelah malam penuh air mata dan pelukan itu, keempat sahabat Fadillah bertekad untuk membantu mencari jejak Bagus, ayah kandung Fadillah yang telah menghilang selama lebih dari empat puluh tahun. Meski Fadillah sendiri masih bergulat dengan perasaan campur aduk tentang apakah dia benar-benar ingin bertemu dengan sosok yang telah "meninggalkannya" bahkan sebelum dia lahir, rasa penasaran tentang identitas dan asal-usulnya tetap mendorongnya untuk mencari kejelasan.
"Kita mulai dari mana, Bang?" tanya Rifky, yang paling bersemangat di antara mereka semua untuk membantu proses pencarian ini, seolah ingin membalas semua kebaikan yang telah Fadillah berikan selama ini.
"Sri masih inget nama lengkap Bagus sama asal daerahnya," jawab Fadillah, menunjukkan secarik kertas berisi informasi yang telah dia kumpulkan dari pertemuan terakhirnya dengan Sri. "Katanya keluarganya cukup terpandang di daerah itu, jadi mungkin masih ada yang inget."
Faiz, dengan pengalamannya di bidang logistik yang sering membutuhkan pelacakan data dan informasi, menawarkan bantuan. "Gue bisa coba cari informasi lewat internet dulu, siapa tau ada jejak digital yang bisa ditemuin. Nama lengkap kayak gitu biasanya ninggalin jejak di dokumen-dokumen resmi."
Hendra, yang selama bertahun-tahun bekerja sebagai sales dan sering bepergian ke berbagai daerah untuk keperluan bisnis, juga menawarkan diri. "Gue punya beberapa kenalan di daerah situ, mantan klien yang lumayan berpengaruh di kampungnya. Bisa gue coba tanya-tanya siapa tau mereka kenal atau minimal tau keluarganya."
Selama beberapa minggu berikutnya, pencarian itu berjalan dengan berbagai lika-liku. Faiz berhasil menemukan beberapa informasi dasar melalui pencarian online, termasuk kemungkinan alamat lama keluarga Bagus yang ternyata sudah pindah beberapa kali. Hendra, melalui jaringan kenalannya, berhasil mendapatkan nomor kontak seorang tetua kampung yang masih mengingat keluarga Bagus.
"Pak," Hendra berbicara melalui telepon dengan tetua kampung tersebut, mewakili pencarian mereka, "kami lagi nyari informasi soal keluarga Pak Bagus yang dulu tinggal di kampung Bapak. Apa Bapak masih inget keberadaan mereka sekarang?"
Suara di seberang telepon terdengar berpikir sejenak sebelum menjawab. "Bagus? Oh, saya inget keluarga itu. Tapi mereka udah lama pindah dari sini, sejak anaknya menikah. Kalau nggak salah, mereka pindah ke Surabaya."
Informasi itu menjadi titik terang pertama dalam pencarian mereka, meski masih jauh dari kepastian apakah Bagus masih tinggal di sana atau sudah pindah lagi ke tempat lain, mengingat sudah puluhan tahun berlalu sejak informasi terakhir itu.
Malam itu di warung Bang Udin, keempat sahabat itu berkumpul dengan semangat baru, mendiskusikan langkah selanjutnya dalam pencarian mereka.
"Surabaya itu kota besar, Bang," kata Saputra, mengingatkan tantangan yang masih harus mereka hadapi. "Nyari satu orang di kota sebesar itu, apalagi tanpa alamat pasti, bakal susah banget."
Fadillah, yang sejak awal proses pencarian ini menunjukkan sikap ambivalen, akhirnya angkat bicara dengan jujur. "Sebenernya, gue sendiri masih bingung, apa gue beneran mau ketemu dia atau nggak. Di satu sisi, gue penasaran gimana rupanya, gimana orangnya. Tapi di sisi lain, gue juga takut kecewa, takut ternyata dia orang yang nggak peduli sama sekali sama keberadaan gue."
Keempat sahabatnya terdiam mendengar kejujuran itu, memahami betapa rumitnya perasaan yang sedang dihadapi Fadillah.