Setelah menemukan petunjuk melalui grup Facebook alumni tersebut, Rifky dengan hati-hati menghubungi anggota grup yang menyebut nama Bagus, menjelaskan situasi secara umum tanpa mengungkapkan detail sensitif tentang hubungan keluarga yang sebenarnya. Setelah beberapa hari berkomunikasi bolak-balik, mereka akhirnya mendapatkan nomor telepon seorang kerabat Bagus yang bersedia menjadi perantara.
Fadillah memutuskan untuk tidak langsung menelepon, melainkan menulis surat terlebih dahulu—sebuah keputusan yang menurutnya lebih pantas mengingat beratnya isi pesan yang harus disampaikan setelah lebih dari empat puluh tahun keheningan antara mereka.
Malam itu, di rumahnya, ditemani secangkir kopi yang untuk sekali ini sengaja dia biarkan dingin karena terlalu fokus menulis, Fadillah mulai menuliskan surat yang telah dia pikirkan berulang kali dalam benaknya.
Kepada Bapak Bagus,
Perkenalkan, nama saya Fadillah. Saya menulis surat ini dengan hati yang berdebar, karena apa yang ingin saya sampaikan mungkin akan mengejutkan Bapak.
Saya adalah anak dari seorang perempuan bernama Sri, yang mungkin Bapak kenal dari masa muda Bapak dulu. Saya baru mengetahui kebenaran ini beberapa minggu lalu, setelah empat puluh lima tahun hidup tanpa mengetahui identitas ayah kandung saya yang sebenarnya.
Saya menulis surat ini bukan untuk menuntut apa pun dari Bapak, atau untuk mengganggu kehidupan yang mungkin sudah Bapak bangun selama ini. Saya hanya ingin, jika Bapak berkenan, kita bisa bertemu sekali saja, untuk saling mengenal, untuk saya mendapatkan sedikit kejelasan tentang bagian dari diri saya yang selama ini menjadi misteri.
Jika Bapak tidak berkenan, saya akan menghormati keputusan itu sepenuhnya. Tapi jika Bapak bersedia, saya akan sangat berterima kasih atas kesempatan itu.
Hormat saya,
Fadillah
Setelah menyelesaikan surat itu, Fadillah membacanya berulang kali, memastikan setiap kata yang tertulis benar-benar mewakili perasaannya tanpa terkesan menuntut atau menyalahkan. Keesokan harinya, dia mengirimkan surat itu melalui kerabat Bagus yang telah bersedia menjadi perantara.
Hari-hari setelah pengiriman surat itu terasa sangat panjang bagi Fadillah. Setiap kali ponselnya berdering, jantungnya berdebar kencang, berharap itu adalah kabar dari Bagus. Keempat sahabatnya, menyadari kegelisahan itu, berusaha menemani dan mengalihkan perhatian Fadillah dengan berbagai kegiatan ringan di warung Bang Udin.
"Bang Dil, jangan terlalu berharap tinggi dulu," kata Faiz suatu malam, mencoba menenangkan kegelisahan sahabatnya. "Apapun jawabannya nanti, entah dia mau ketemu atau nggak, itu bukan cerminan dari nilai diri lo sebagai manusia."
"Gue tau," Fadillah mengangguk, meski matanya masih menyiratkan kecemasan yang tidak bisa disembunyikan sepenuhnya. "Tapi tetep aja, ada bagian dari diri gue yang berharap dia mau ketemu, mau denger cerita gue, mau tau gimana gue tumbuh besar tanpa dia."