4in1: Empat Duda, Satu Perjaka

Bobby Mahmud
Chapter #17

BAB 15 — PERTEMUAN YANG TERTUNDA

Seminggu berlalu dengan cepat, diselingi berbagai persiapan mental yang dilakukan Fadillah untuk menghadapi pertemuan pertamanya dengan Bagus. Keempat sahabatnya, menyadari betapa pentingnya momen ini, menawarkan diri untuk menemani meski akhirnya Fadillah memutuskan untuk menghadapi pertemuan itu sendirian, merasa ini adalah momen yang harus dia lalui tanpa perantara siapa pun.

Hari yang ditunggu pun tiba. Fadillah memilih sebuah kafe tenang di kawasan Jakarta Selatan sebagai tempat pertemuan, jauh dari keramaian yang bisa mengganggu percakapan penting yang akan mereka lakukan. Dia datang lebih awal, duduk gelisah sambil terus melirik pintu masuk setiap kali ada orang yang datang.

Tepat pukul yang telah disepakati, seorang laki-laki berusia sekitar tujuh puluh tahun memasuki kafe itu, rambutnya sudah memutih seluruhnya, namun sorot matanya masih tajam dan penuh emosi. Begitu matanya bertemu dengan Fadillah, langkahnya terhenti sejenak, seolah waktu berhenti berputar untuk beberapa detik.

"Fadillah?" tanya laki-laki itu, suaranya bergetar.

"Iya, Pak," Fadillah berdiri, tidak yakin harus bersikap seperti apa—memeluk, berjabat tangan, atau sekadar berdiri kaku seperti sekarang.

Bagus mendekat, matanya sudah berkaca-kaca sejak awal melihat sosok Fadillah. "Kamu... kamu mirip banget sama Ibu kamu waktu muda. Terutama matanya."

Mereka duduk berhadapan, suasana canggung menyelimuti beberapa menit pertama sebelum akhirnya Bagus memulai pembicaraan dengan suara yang masih bergetar menahan emosi.

"Fadillah, Bapak minta maaf, sebesar-besarnya, atas semua yang terjadi. Bapak nggak pernah tau Sri hamil waktu itu. Keluarga Bapak memisahkan kita dengan sangat cepat, dan surat-surat yang Bapak kirim nggak pernah sampai. Kalau Bapak tau ada kamu, Bapak nggak akan pernah ninggalin kalian berdua."

Fadillah mendengarkan dengan seksama, mencoba mencerna setiap kata yang keluar dari mulut laki-laki yang secara biologis adalah ayahnya itu. "Kenapa Bapak nggak coba cari tau lagi setelah itu? Empat puluh lima tahun itu waktu yang panjang, Pak."

Bagus menunduk, rasa bersalah terlihat jelas di wajahnya yang mulai keriput. "Bapak pengecut, Nak. Setelah menikah dengan perempuan pilihan keluarga Bapak, Bapak mencoba melupakan semuanya, termasuk Sri, demi menjalani hidup yang 'normal' sesuai harapan keluarga. Itu keputusan yang sangat Bapak sesali sepanjang hidup Bapak."

Percakapan itu berlangsung berjam-jam, membahas berbagai hal—dari kehidupan Bagus setelah menikah, tiga anak yang dia miliki dari pernikahan tersebut yang berarti adalah saudara tiri Fadillah, sampai penyesalan mendalam yang selama puluhan tahun dia simpan tanpa pernah berani mencari kejelasan tentang nasib Sri dan kemungkinan anak yang mungkin lahir dari hubungan mereka.

"Bapak nggak nuntut apa-apa dari Bapak," kata Fadillah di penghujung pertemuan mereka, "Bapak cuma butuh kejelasan ini buat diri Bapak sendiri, buat ngerti siapa Bapak sebenarnya."

Bagus mengangguk, matanya masih basah. "Bapak ngerti, Nak. Dan Bapak berharap, meski terlambat, kita bisa membangun hubungan, sekecil apapun itu, ke depannya. Bapak juga pengen kamu kenalan sama saudara-saudara tirimu, kalau kamu berkenan."

Lihat selengkapnya