4in1: Empat Duda, Satu Perjaka

Bobby Mahmud
Chapter #18

BAB 16 — PERTEMUAN SETELAH EMPAT PULUH TAHUN

Beberapa hari setelah pertemuan emosional antara Fadillah dan Bagus, sebuah ide muncul di benak Fadillah yang membuatnya gelisah sekaligus penuh harap: mempertemukan kembali Sri dan Bagus, dua orang yang telah dipisahkan paksa oleh keadaan selama lebih dari empat puluh tahun.

Malam itu di warung Bang Udin, Fadillah menyampaikan rencananya kepada keempat sahabatnya, mencari pendapat mereka sebelum benar-benar mengambil langkah besar tersebut.

"Menurut kalian, ini ide bagus atau malah bikin runyam?" tanya Fadillah, sedikit ragu dengan rencananya sendiri.

Faiz, yang selalu berpikir matang sebelum bertindak, mempertimbangkan dengan hati-hati. "Kalau menurut gue, itu tergantung apa tujuannya, Bang. Kalau buat kasih penutupan yang baik buat mereka berdua, apalagi mengingat kondisi Sri yang makin menurun, itu bisa jadi hal yang indah. Tapi kalau ada harapan buat mereka balikan atau semacamnya, itu mungkin nggak realistis."

"Bukan buat balikan," Fadillah menjelaskan cepat. "Gue cuma pikir, mereka berdua berhak dapet kesempatan buat saling minta maaf secara langsung, sebelum semuanya terlambat."

Hendra, yang biasanya paling ekspresif, mengangguk setuju. "Gue setuju sama Bang Dil. Lagian, kalau Sri emang udah nggak lama lagi, sayang banget kalau kesempatan ini dilewatin gitu aja."

Saputra, yang memiliki pengalaman serupa dengan situasi kesehatan seseorang yang dia sayangi, memberikan masukan berharga. "Tapi pastiin dulu, Bang, tanyain langsung ke Sri, apa dia emang mau ketemu Bagus lagi. Jangan sampai kita yang maksa, padahal dia sendiri belum siap."

Keesokan harinya, Fadillah mengunjungi Sri untuk menanyakan langsung keinginannya. Sri, yang kondisinya sudah semakin lemah, mendengarkan usulan itu dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

"Kamu yakin, Nak?" tanya Sri pelan, suaranya semakin lirih dari hari ke hari. "Ibu udah lama nggak lihat wajahnya. Takut Ibu malah nangis terus kalau ketemu."

"Nangis nggak apa-apa, Sri," jawab Fadillah lembut. "Yang penting, Sri dapet kesempatan buat ngomong semua yang selama ini dipendem, sebelum semuanya terlambat."

Sri terdiam lama, menimbang-nimbang keputusan besar itu, sebelum akhirnya mengangguk pelan. "Baiklah, Nak. Atur aja pertemuannya. Ibu siap."

Pertemuan itu diatur berlangsung di kamar rawat Sri, dengan Fadillah dan Bagus datang bersama-sama, sebuah momen yang terasa begitu berat bagi ketiganya. Begitu Bagus memasuki ruangan dan melihat sosok Sri yang telah menua dan sakit terbaring lemah di ranjang, air matanya langsung tumpah tanpa bisa ditahan.

"Sri..." suara Bagus bergetar hebat, melangkah pelan mendekati ranjang. "Maafin Bapak, Sri. Maafin Bapak yang udah ninggalin kamu sendirian ngadepin semuanya."

Lihat selengkapnya