Beberapa minggu setelah pertemuan emosional antara Sri dan Bagus, Fadillah menerima undangan dari Bagus untuk bertemu dengan ketiga anaknya dari pernikahan resminya—yang berarti adalah saudara tiri Fadillah yang selama ini tidak pernah dia ketahui keberadaannya.
Perasaan Fadillah campur aduk menghadapi undangan tersebut. Di satu sisi, dia penasaran dengan sosok-sosok yang secara biologis memiliki hubungan darah dengannya. Di sisi lain, dia juga khawatir bagaimana reaksi mereka mengetahui keberadaan seorang saudara yang lahir dari hubungan gelap ayah mereka di masa muda.
"Menurut kalian, gue harus gimana?" tanya Fadillah kepada keempat sahabatnya malam itu di warung Bang Udin, mencari dukungan moral sebelum menghadapi pertemuan besar tersebut.
"Bersikap wajar aja, Bang," saran Faiz. "Nggak usah maksain diri buat langsung akrab. Biarin aja hubungan itu berkembang natural, sesuai kenyamanan masing-masing."
Hendra, dengan gaya khasnya yang selalu mencoba mencairkan suasana tegang, menambahkan candaan ringan. "Yang penting, Bang, kalau mereka nanya kenapa Bang Dil belum nikah, jangan jawab 'belum waktunya' lagi. Kasian mereka bingung kayak kita dulu."
Candaan itu berhasil membuat Fadillah tertawa kecil, sedikit meredakan ketegangan yang dia rasakan menjelang pertemuan besar tersebut. "Makasih udah selalu bisa bikin gue ketawa di saat kayak gini, Hen."
Pertemuan itu berlangsung di rumah Bagus, sebuah rumah besar dan nyaman di kawasan elite Surabaya yang mencerminkan kesuksesan finansial yang telah dicapai Bagus sepanjang hidupnya. Ketiga anak Bagus—dua laki-laki dan satu perempuan, semuanya sudah berkeluarga dan memiliki kehidupan mapan masing-masing—menyambut Fadillah dengan reaksi yang beragam.
Anak sulung Bagus, seorang laki-laki bernama Anton yang berusia sekitar empat puluh dua tahun, tampak paling berhati-hati dan skeptis terhadap kehadiran Fadillah. "Jadi, Bapak punya anak lagi yang selama ini disembunyiin?" tanyanya dengan nada yang terdengar sedikit sinis, meski berusaha tetap sopan.
"Anton," Bagus menegur pelan, "Bapak nggak pernah tau soal Fadillah sampai beberapa minggu lalu. Ini bukan sesuatu yang Bapak sembunyiin sengaja."
Anak kedua, seorang perempuan bernama Dewi yang tampak lebih terbuka, mencoba mencairkan suasana. "Nggak apa-apa, Pak. Kita semua butuh waktu buat nyesuaiin diri sama kabar sebesar ini. Tapi bukan berarti kita nggak mau kenal sama Mas Fadillah."
Fadillah, yang merasakan ketegangan di antara saudara-saudara barunya itu, mencoba bersikap rendah hati dan tidak memaksakan diri. "Gue ngerti kalau kalian butuh waktu. Gue sendiri juga masih dalam proses nyesuaiin diri sama semua kenyataan baru ini. Gue nggak ke sini buat nuntut apa-apa, cuma pengen kenal, kalau kalian berkenan."
Sikap rendah hati itu perlahan mencairkan kecurigaan Anton, yang akhirnya mulai bersikap lebih terbuka sepanjang pertemuan tersebut. Anak bungsu Bagus, seorang laki-laki muda bernama Rendy yang berusia sekitar tiga puluh lima tahun, bahkan menunjukkan antusiasme yang cukup besar untuk mengenal Fadillah lebih jauh.
"Mas Fadillah pengusaha warung kopi ya, kata Bapak?" tanya Rendy dengan nada penasaran. "Keren juga, saya sendiri kerja di bidang keuangan, kadang pengen juga punya usaha sendiri kayak gitu."