4in1: Empat Duda, Satu Perjaka

Bobby Mahmud
Chapter #20

BAB 18 — PERPISAHAN YANG TAK TERELAKKAN

Kondisi kesehatan Sri terus menurun seiring berjalannya waktu, meski dia telah mendapatkan kebahagiaan besar dari pertemuannya kembali dengan Bagus dan kesempatan untuk melihat Fadillah membangun hubungan dengan keluarga barunya. Dokter yang menangani Sri memberikan kabar bahwa waktu yang tersisa mungkin hanya tinggal beberapa minggu, sebuah kenyataan pahit yang harus dihadapi Fadillah dengan hati yang berat.

Setiap hari sepulang kerja, Fadillah menyempatkan diri mengunjungi Sri di rumah sakit, menghabiskan waktu sebanyak mungkin bersama perempuan yang telah melahirkannya, meski mereka baru benar-benar saling mengenal dalam beberapa bulan terakhir. Setiap kunjungan itu dipenuhi dengan cerita-cerita yang dibagikan Sri tentang masa mudanya, tentang harapan-harapan yang dia miliki untuk Fadillah, dan tentang rasa syukur yang mendalam karena akhirnya bisa menghabiskan waktu berkualitas bersama anaknya sebelum ajal menjemput.

"Fadillah," kata Sri suatu sore, suaranya semakin lemah namun matanya masih menyiratkan ketenangan yang mendalam, "Ibu pengen minta satu hal terakhir dari kamu."

"Apa, Sri?" Fadillah menggenggam tangan Sri yang semakin kurus dan dingin.

"Ibu pengen liat kamu bahagia, Nak. Ibu pengen liat kamu berani buka hati buat cinta, buat berkeluarga. Jangan biarin ketakutan Ibu jadi ketakutan kamu juga."

Kalimat itu membuat Fadillah terdiam, merasakan beratnya permintaan tersebut namun juga memahami betapa tulusnya harapan itu datang dari hati seorang ibu yang ingin melihat anaknya bahagia sebelum dia pergi selamanya.

"Gue akan coba, Sri," jawab Fadillah pelan, suaranya bergetar menahan tangis. "Gue janji."

Beberapa hari setelah percakapan itu, kondisi Sri semakin memburuk. Keempat sahabat Fadillah bergantian menemaninya di rumah sakit, memberikan dukungan moral yang sangat dibutuhkan Fadillah dalam menghadapi masa-masa berat tersebut. Bagus juga rutin datang mengunjungi, menghabiskan waktu terakhirnya bersama perempuan yang pernah menjadi cinta pertamanya di masa muda.

Pada suatu malam yang tenang, dengan Fadillah, Bagus, dan keempat sahabatnya berada di sisinya, Sri menghembuskan napas terakhirnya dengan tenang, sebuah kepergian yang meski menyisakan duka mendalam, juga membawa kedamaian karena dia pergi dengan hati yang telah menemukan penutupan atas semua penyesalan yang dia pendam selama puluhan tahun.

Fadillah menangis sejadi-jadinya di sisi ranjang, menggenggam tangan Sri yang telah dingin, merasakan kehilangan yang begitu mendalam meski waktu kebersamaan mereka sebagai ibu dan anak yang saling mengakui hanya berlangsung dalam hitungan bulan. Keempat sahabatnya, yang berdiri di sekelilingnya, ikut menitikkan air mata, merasakan duka yang sama mendalamnya karena telah menyaksikan seluruh perjalanan emosional yang dilalui Fadillah selama beberapa bulan terakhir.

Bagus, yang juga menangis melihat kepergian cinta pertamanya, mendekati Fadillah dan memeluknya erat. "Nak, Ibu kamu pergi dengan tenang, dengan hati yang bahagia karena udah bisa liat kamu dan bisa minta maaf sama Bapak. Itu adalah hadiah terbesar yang bisa dia dapetin di akhir hidupnya."

Pemakaman Sri berlangsung sederhana namun penuh haru, dihadiri oleh keluarga dekat, termasuk Bagus dan ketiga anaknya yang telah mulai menerima kehadiran Fadillah sebagai saudara mereka, serta keempat sahabat Fadillah yang telah menjadi keluarga keduanya selama bertahun-tahun terakhir.

Lihat selengkapnya