Minggu-minggu setelah kepergian Sri terasa berat bagi Fadillah, meski dia berusaha keras untuk tetap menjalankan rutinitas sehari-harinya mengelola warung bersama Bang Udin. Keempat sahabatnya, menyadari betapa dalamnya duka yang sedang dia rasakan, secara bergantian menemaninya lebih sering dari biasanya, memastikan Fadillah tidak merasa sendirian menghadapi masa berkabung tersebut.
"Bang Dil, gimana kabarnya hari ini?" tanya Faiz suatu sore, mendapati Fadillah sedang duduk melamun di teras warung yang belum dibuka.
"Lumayan," jawab Fadillah pelan, tersenyum tipis meski matanya masih menyiratkan kesedihan yang mendalam. "Masih suka kepikiran Sri, tapi udah mulai bisa nerima kalau dia emang udah waktunya pergi."
Faiz duduk di sebelahnya, tidak terburu-buru mengisi keheningan dengan kata-kata, membiarkan Fadillah memproses emosinya dengan caranya sendiri. Setelah beberapa saat, Fadillah kembali membuka suara.
"Lo tau, Faiz, sebelum Sri meninggal, dia minta gue buat berani buka hati lagi, buat nikah," kata Fadillah, matanya menerawang jauh. "Gue janji ke dia, tapi sekarang, gue bahkan nggak tau harus mulai dari mana."
"Nggak usah buru-buru, Bang," jawab Faiz bijak. "Yang penting sekarang, lo kasih waktu buat diri lo sendiri buat berduka dulu. Soal janji itu, bisa dipenuhi pelan-pelan, nggak harus sekarang juga."
Seiring berjalannya waktu, kehidupan kelima sahabat itu perlahan kembali ke ritme normalnya, meski bayang-bayang kesedihan atas kepergian Sri masih terasa dalam beberapa bulan ke depan. Faiz semakin dekat dengan Alea, bahkan mulai membicarakan kemungkinan mengubah jadwal kunjungan menjadi lebih fleksibel dengan persetujuan Ratna. Hendra semakin akrab dengan Kayla, bahkan telah menerima kehadiran Bimo sebagai bagian dari kehidupan anaknya dengan lapang dada. Rifky dan Nadia semakin serius merencanakan usaha roti kecil mereka, sementara Saputra masih dalam proses mempertimbangkan tawaran Mira untuk memulai hubungan mereka kembali dari awal.
Suatu sore, ketika Fadillah sedang mengunjungi makam Sri untuk memberikan penghormatan rutin, dia bertemu dengan seorang perempuan yang juga sedang berziarah di makam yang berdekatan. Perempuan itu, yang terlihat berusia sekitar akhir tiga puluhan, tampak sedang menangis pelan di depan sebuah nisan.
"Maaf," Fadillah menyapa dengan sopan setelah melihat perempuan itu kesulitan membawa peralatan ziarahnya, "boleh saya bantu?"
Perempuan itu menoleh, sedikit terkejut namun kemudian mengangguk dengan senyum tipis. "Terima kasih. Nama saya Wulandari, biasa dipanggil Wulan—eh, bukan, maksud saya Dara, biar nggak ketuker sama nama lain," katanya sedikit gugup, menyadari kekeliruannya sendiri.
Fadillah tersenyum kecil mendengar kegugupan itu. "Fadillah," dia memperkenalkan diri sambil membantu membawakan beberapa peralatan ziarah perempuan tersebut menuju area parkir.
Percakapan singkat itu, meski sederhana, entah kenapa meninggalkan kesan tersendiri di benak Fadillah. Ada sesuatu dari cara Dara berbicara, dari tatapan matanya yang penuh kehangatan meski sedang berduka, yang membuat Fadillah merasa sedikit berbeda—perasaan yang sudah lama sekali tidak dia rasakan terhadap siapa pun.