Beberapa hari setelah pertemuan singkat di pemakaman, Fadillah kembali mengunjungi makam Sri seperti rutinitasnya, meski kali ini dengan sedikit harapan tersembunyi untuk bertemu kembali dengan Dara. Harapan itu, meski dia coba sangkal di dalam hatinya sendiri, ternyata benar-benar terwujud ketika dia melihat sosok yang sama sedang berdiri di dekat nisan yang berdekatan dengan makam Sri.
"Dara?" Fadillah menyapa dengan sedikit ragu, tidak yakin apakah perempuan itu masih mengingatnya.
Dara menoleh, wajahnya langsung menunjukkan senyum ramah begitu mengenali Fadillah. "Oh, Pak Fadillah, kan? Yang bantuin saya kemarin."
"Iya, betul," Fadillah tersenyum, merasa sedikit lega karena diingat. "Lagi ziarah lagi?"
"Iya, ini makam suami saya," jawab Dara, senyumnya sedikit meredup mengingat kesedihan tersebut. "Udah tiga tahun beliau meninggal karena kecelakaan kerja."
Kabar itu membuat Fadillah merasakan simpati yang mendalam, menyadari bahwa Dara juga telah melalui kehilangan besar dalam hidupnya, sebuah pengalaman yang membuatnya merasa memiliki kesamaan emosional dengan perempuan tersebut.
"Turut berduka," kata Fadillah tulus. "Kalau boleh tau, siapa yang Bapak ziarahi di sini?"
"Ibu saya," jawab Fadillah, memilih untuk tidak menjelaskan cerita panjang di baliknya untuk saat ini. "Baru meninggal beberapa bulan lalu."
Percakapan itu berlanjut lebih panjang dari yang mereka duga, membahas berbagai hal ringan seputar kehidupan masing-masing. Dara ternyata bekerja sebagai guru sekolah dasar di daerah yang tidak terlalu jauh dari warung Bang Udin, dan tinggal bersama satu anak semata wayangnya yang kini berusia sepuluh tahun.
"Kalau boleh tau, Pak Fadillah kerja di mana?" tanya Dara, penasaran.
"Punya warung kopi kecil," jawab Fadillah sambil tersenyum. "Sederhana aja, tapi cukup buat hidup."
Sebelum berpisah sore itu, Fadillah memberanikan diri menawarkan sesuatu yang sudah lama tidak pernah dia lakukan terhadap siapa pun sejak perceraiannya sendiri—meski dalam kasusnya, ini adalah pertama kalinya dia menawarkan hal semacam ini kepada siapa pun dalam hidupnya.
"Dara, kalau nggak keberatan, boleh saya minta nomor teleponnya? Siapa tau bisa ngobrol lagi lain waktu, di luar suasana ziarah kayak gini."
Dara tampak sedikit terkejut dengan tawaran itu, namun kemudian tersenyum dan mengangguk. "Boleh, Pak Fadillah. Saya juga seneng ngobrol sama Bapak tadi."
Setelah bertukar nomor telepon, Fadillah pulang dengan perasaan yang campur aduk antara canggung dan senang, sebuah perasaan yang sudah lama sekali tidak dia rasakan. Malam itu di warung Bang Udin, dia menceritakan pertemuan kedua itu kepada keempat sahabatnya dengan nada yang lebih terbuka dari sebelumnya.
"Gue dapet nomornya," kata Fadillah, mencoba terdengar santai meski senyum di wajahnya sulit disembunyikan.