Beberapa bulan setelah lamaran Andra, Ratna akhirnya mengambil keputusan besar: dia menerima lamaran tersebut dan berencana menikah dalam waktu enam bulan ke depan. Kabar itu disampaikan kepada Faiz dengan hati-hati, mengingat besarnya dampak yang akan ditimbulkan terhadap kehidupan Alea, terutama soal kemungkinan mereka akan pindah rumah setelah pernikahan.
"Faiz," kata Ratna saat mereka bertemu di kafe yang sama seperti biasa, "gue terima lamaran Andra. Tapi ada satu hal yang perlu kita bicarakan bareng-bareng, soal rencana kita yang mungkin bakal pindah ke rumah baru Andra setelah nikah nanti."
Kabar itu membuat dada Faiz kembali terasa sesak, meski dia telah berusaha keras untuk ikhlas menerima perkembangan hubungan mantan istrinya dengan Andra selama ini. "Pindah ke mana?" tanyanya, mencoba menjaga suaranya tetap tenang.
"Rumahnya Andra di daerah Bekasi," jawab Ratna. "Agak jauh dari sini, tapi masih terjangkau kalau kamu mau tetep sering ketemu Alea."
Jarak yang lebih jauh itu menjadi kekhawatiran baru bagi Faiz, yang selama ini telah berjuang keras untuk memastikan kehadirannya tetap konsisten dalam kehidupan Alea meski status mereka sudah bercerai. Malam itu, Faiz membawa kegelisahan tersebut ke warung Bang Udin, mencari dukungan dari keempat sahabatnya.
"Kalau mereka pindah ke Bekasi, gue takut waktu gue sama Alea bakal makin berkurang," kata Faiz, menghela napas panjang. "Apalagi kalau macet, perjalanan ke sana bisa makan waktu dua jam lebih."
Fadillah, yang kini semakin bijak dalam memberikan nasihat setelah melalui berbagai pengalaman emosionalnya sendiri, mencoba menenangkan Faiz. "Faiz, jarak itu tantangan, tapi bukan penghalang mutlak. Yang penting sekarang, coba diskusiin sama Ratna soal jadwal yang lebih fleksibel, mungkin kunjungan yang lebih jarang tapi lebih lama, misalnya nginep di akhir pekan, daripada cuma mampir sebentar tiap hari."
Saran itu masuk akal bagi Faiz, yang kemudian memutuskan untuk membicarakan hal tersebut secara terbuka dengan Ratna dalam pertemuan berikutnya. Namun, komplikasi baru muncul ketika Alea, yang mulai memahami bahwa dia akan segera pindah rumah dan sekolah, menunjukkan tanda-tanda kecemasan yang tidak biasa.
"Ayah," kata Alea suatu sore saat Faiz menjemputnya dari sekolah, wajahnya terlihat murung berbeda dari biasanya, "Alea nggak mau pindah sekolah. Alea udah punya banyak temen di sini."
Kekhawatiran Alea itu membuat hati Faiz semakin teriris, menyadari bahwa perubahan besar ini tidak hanya berdampak pada hubungannya dengan Alea, tetapi juga pada kestabilan emosional putrinya yang masih kecil.
"Alea," Faiz berjongkok menyejajarkan dirinya dengan Alea, "Ayah ngerti perasaan kamu. Pindah itu emang nggak gampang. Tapi Ayah janji, di mana pun kamu tinggal nanti, Ayah akan selalu ada buat kamu."
"Tapi kalau jauh, gimana Ayah bisa dateng terus?" tanya Alea, matanya berkaca-kaca.
Pertanyaan polos namun menohok itu membuat Faiz kembali merenung. Malam itu, dia memutuskan untuk berbicara langsung dengan Ratna dan Andra bersama-sama, mencari solusi yang benar-benar mempertimbangkan kesejahteraan emosional Alea di atas segalanya.
Pertemuan tiga arah itu berlangsung penuh pengertian, dengan Andra sendiri menunjukkan sikap yang cukup bijaksana. "Pak Faiz," kata Andra, "saya ngerti kekhawatiran Bapak. Gimana kalau kita atur, Alea tetap sekolah di sini sampai lulus SD, biar nggak terlalu banyak perubahan sekaligus buat dia? Saya bisa antar-jemput kalau perlu, atau kita cari solusi lain yang lebih nyaman buat semua."
Tawaran itu meredakan sebagian kekhawatiran Faiz, menyadari bahwa Andra ternyata memiliki niat baik yang tulus untuk mendukung kesejahteraan Alea, bukan sekadar berusaha menggantikan posisinya sebagai figur ayah.
"Makasih, Andra," kata Faiz, menerima tawaran itu dengan lapang dada. "Gue apresiasi banget usaha kalian buat mikirin kenyamanan Alea."
Malam itu di warung Bang Udin, Faiz menceritakan hasil pertemuan tersebut kepada keempat sahabatnya dengan perasaan lega yang jelas terlihat di wajahnya. "Ternyata Andra orangnya lebih baik dari yang gue kira," katanya. "Kita udah sepakat Alea tetep sekolah di sini dulu, biar nggak terlalu banyak perubahan buat dia."