4in1: Empat Duda, Satu Perjaka

Bobby Mahmud
Chapter #25

BAB 23 — SAPUTRA, MIRA DAN RESTU KELUARGA

Proses konseling yang dijalani Saputra dan Mira berjalan dengan baik selama beberapa minggu, membantu mereka membangun pola komunikasi yang lebih sehat dibanding masa pernikahan mereka sebelumnya. Namun, tantangan baru muncul ketika keluarga besar Mira, yang masih menyimpan kekecewaan atas perceraian mereka di masa lalu, menunjukkan penolakan terhadap rencana rujuk tersebut.

"Put," kata Mira suatu sore dengan wajah gelisah, "Ibu gue nggak setuju kalau kita balikan. Katanya, takut sejarah bakal keulang lagi, apalagi kondisi kesehatan gue juga belum sepenuhnya pulih."

Kabar itu membuat Saputra terdiam, memahami kekhawatiran yang wajar dari pihak keluarga Mira, namun juga merasa sedih karena usaha keras yang telah mereka lakukan untuk memperbaiki hubungan sepertinya terhambat oleh faktor eksternal yang berada di luar kendali mereka berdua.

"Menurut lo gimana, Mir?" tanya Saputra hati-hati. "Apa kita harus berhenti, atau tetep lanjutin meski keluarga lo belum restu?"

Mira menghela napas panjang, mempertimbangkan jawabannya dengan hati-hati. "Gue nggak mau langsung nyerah, Put. Tapi gue juga ngerti kekhawatiran Ibu. Mungkin kita perlu waktu buat yakinin mereka, nunjukkin kalau kita emang udah berubah."

Malam itu di warung Bang Udin, Saputra membagikan kekhawatirannya kepada keempat sahabatnya, mencari pandangan objektif dari luar mengenai situasi rumit yang sedang dia hadapi.

"Menurut gue," kata Faiz setelah mendengarkan cerita tersebut, "restu keluarga itu penting, tapi bukan berarti kalian harus langsung nyerah. Coba aja tunjukkin secara konsisten, lewat tindakan nyata, bahwa kalian emang serius berubah. Waktu biasanya bisa ngeyakinin orang lebih baik dari sekadar kata-kata."

Fadillah, yang telah belajar banyak dari pengalamannya sendiri menghadapi penolakan awal dari saudara-saudara tirinya, menambahkan perspektif yang relevan. "Bener, Put. Inget kan gimana Anton awalnya skeptis banget sama gue? Tapi lama-lama, dengan sikap yang konsisten dan sabar, dia akhirnya bisa nerima. Mungkin ini juga akan berlaku sama buat keluarga Mira."

Saran itu memberikan Saputra keberanian baru untuk melanjutkan proses tersebut dengan lebih sabar, memutuskan untuk secara rutin mengunjungi keluarga Mira, menunjukkan itikad baik dan konsistensi dalam mendukung pemulihan Mira, tanpa terburu-buru menuntut restu resmi untuk rujuk.

Beberapa minggu kemudian, usaha keras Saputra mulai membuahkan hasil. Ibu Mira, yang awalnya bersikap dingin, perlahan mulai melunak melihat betapa telatennya Saputra mendampingi putrinya dalam setiap sesi konseling dan pemulihan kesehatan.

"Put," kata Ibu Mira suatu hari, "Ibu liat, kamu emang beda dari dulu. Lebih sabar, lebih perhatian. Ibu masih perlu waktu, tapi setidaknya Ibu udah mulai bisa liat, mungkin kalian emang layak dapet kesempatan kedua."

Kata-kata itu, meski belum sepenuhnya menjadi restu penuh, memberikan harapan besar bagi Saputra dan Mira bahwa proses yang mereka jalani dengan penuh kesabaran perlahan mulai menunjukkan hasil positif, sebuah langkah kecil namun berarti menuju masa depan yang mereka harapkan bersama.

Malam itu di warung Bang Udin, Saputra membagikan kabar baik tersebut kepada keempat sahabatnya dengan senyum lega yang jarang terlihat di wajahnya. "Ibu Mira mulai melunak," katanya singkat, namun sarat makna.

"Alhamdulillah, Put," kata Rifky gembira. "Usaha lo emang nggak sia-sia."

Beberapa minggu setelah perkembangan positif tersebut, Ibu Mira mengundang Saputra untuk makan malam bersama keluarga besar mereka, sebuah undangan yang menjadi tanda semakin terbukanya pintu penerimaan dari pihak keluarga Mira. Saputra menyambut undangan itu dengan penuh rasa syukur, meski tetap mempersiapkan diri dengan hati-hati mengingat pentingnya momen tersebut.

Makan malam itu berlangsung di rumah orang tua Mira, dihadiri oleh beberapa anggota keluarga besar termasuk kakak dan adik Mira yang selama ini juga menyimpan kekhawatiran serupa dengan sang ibu. Suasana di awal terasa sedikit kaku, namun perlahan mencair seiring berjalannya percakapan.

Lihat selengkapnya