Hubungan Fadillah dengan Dara terus berkembang dengan indah selama beberapa bulan terakhir, namun suatu hari, sebuah kejadian tak terduga membuat Fadillah kembali dihadapkan pada ketakutan lama yang telah lama dia pendam sejak mengetahui kebenaran tentang asal-usulnya.
Keluarga besar mendiang suami Dara, yang selama ini belum banyak dilibatkan dalam kehidupan Dara pasca kematian suaminya, tiba-tiba muncul dan menunjukkan sikap tidak setuju terhadap hubungan baru Dara dengan Fadillah.
"Dara," kata ibu mertua Dara suatu hari melalui telepon, "Ibu denger kamu udah deket sama laki-laki lain. Ibu nggak setuju kalau kamu buru-buru cari pengganti anak Ibu, apalagi Yudha masih butuh waktu buat move on dari kehilangan bapaknya."
Kabar itu membuat Dara merasa tertekan, terjebak di antara keinginannya untuk melanjutkan hidup dan kebahagiaan barunya bersama Fadillah, dengan rasa hormat terhadap keluarga mendiang suaminya yang masih berduka.
"Fadillah," kata Dara dengan wajah gelisah saat mereka bertemu, "keluarga mertua gue nggak setuju sama hubungan kita. Gue bingung harus gimana."
Kabar itu membuat ketakutan lama Fadillah kembali muncul ke permukaan—ketakutan bahwa cinta yang dia bangun akan berujung pada penolakan dan komplikasi, sama seperti yang dialami kedua orang tua kandungnya di masa lalu.
"Gue ngerti perasaan lo, Dara," jawab Fadillah, meski hatinya bergejolak dengan berbagai ketakutan yang sulit dia ungkapkan. "Tapi gue juga takut, jangan-jangan hubungan kita emang bakal terus dihadang sama berbagai rintangan, kayak yang dialami orang tua kandung gue dulu."
Kekhawatiran itu, yang selama ini berhasil dia tekan, kini kembali muncul dengan intensitas yang lebih besar, membuat Fadillah mulai mempertanyakan apakah dia benar-benar siap untuk melanjutkan hubungan ini atau justru harus mundur untuk menghindari kemungkinan patah hati yang lebih besar.
Malam itu di warung Bang Udin, Fadillah membagikan kegelisahannya kepada keempat sahabatnya dengan raut wajah yang jauh lebih murung dari beberapa bulan terakhir sejak dia mulai dekat dengan Dara.
"Gue takut, guys," kata Fadillah jujur. "Takut sejarah orang tua gue keulang lagi sama gue. Takut cinta ini berakhir sama kayak cinta mereka dulu, dihalangi restu keluarga."
Keempat sahabatnya terdiam sejenak, memahami beratnya ketakutan yang sedang dihadapi Fadillah, sebuah ketakutan yang berakar jauh lebih dalam dibanding sekadar kekhawatiran biasa dalam menjalani hubungan baru.
"Bang Dil," kata Faiz akhirnya, "situasi lo emang mirip, tapi nggak berarti hasilnya bakal sama. Zaman udah beda, dan yang paling penting, lo sama Dara punya kesempatan buat komunikasi langsung sama keluarganya, nggak kayak orang tua lo dulu yang dipisahin paksa tanpa kesempatan buat ngejelasin apa-apa."
Fadillah terdiam, mempertimbangkan kata-kata bijak dari sahabatnya itu. "Mungkin lo bener, Faiz. Tapi tetep aja, ini berat."
"Coba deh, Bang," tambah Saputra, "ajak ngobrol langsung sama keluarga mertua Dara. Jelasin niat baik lo, jangan biarin mereka cuma denger cerita sepihak yang mungkin bikin salah paham."
Saran itu memberikan Fadillah sedikit keberanian baru, meski dia tahu jalan di depannya masih akan penuh tantangan. Malam itu ditutup dengan keprihatinan yang mendalam dari keempat sahabatnya, menyadari bahwa perjalanan Fadillah menuju kebahagiaan yang telah lama dia tunda, kini kembali dihadapkan pada ujian besar yang akan menentukan apakah dia benar-benar siap melangkah maju atau akan kembali terjebak dalam bayang-bayang ketakutan masa lalu yang telah mendefinisikan hidupnya selama puluhan tahun.
Beberapa hari setelah percakapan tersebut, dengan keberanian yang dikumpulkan dari dukungan keempat sahabatnya, Fadillah memutuskan untuk mengunjungi keluarga mendiang suami Dara secara langsung, sebuah langkah berani yang tidak pernah dia bayangkan akan dia ambil sebelumnya.