Setelah rekonsiliasi yang mengharukan di warung Bang Udin, kelima sahabat itu memasuki babak baru dalam persahabatan mereka—babak di mana mereka benar-benar belajar untuk saling melibatkan diri dalam kebahagiaan masing-masing, alih-alih membiarkan kesibukan pribadi menciptakan jarak seperti yang sempat terjadi sebelumnya. Persiapan pernikahan Fadillah dan Dara pun menjadi proyek bersama yang melibatkan seluruh anggota "Keluarga 4in1" tanpa terkecuali.
"Bang Dil," kata Hendra suatu malam saat mereka berkumpul untuk membahas detail pernikahan, "gue udah dapet vendor katering baru yang jauh lebih bagus dari yang batal kemarin. Harganya juga lebih murah, karena kebetulan salah satu kenalan gue."
Fadillah tersenyum lega mendengar kabar tersebut. "Makasih banyak, Hen. Nggak kebayang kalau gue harus cari sendiri tanpa bantuan lo."
Faiz, dengan keahliannya di bidang logistik dan manajemen, mengambil peran sebagai koordinator utama untuk memastikan seluruh persiapan berjalan sesuai jadwal, mulai dari pemesanan dekorasi hingga pengaturan tempat duduk tamu undangan. Saputra, yang memiliki keahlian teknis, menawarkan diri untuk mengurus segala hal terkait peralatan sound system dan pencahayaan untuk acara resepsi.
"Gue juga mau bantu apa aja yang gue bisa," kata Rifky penuh semangat. "Nadia juga udah setuju buat nyediain kue pengantin dari toko roti kita, gratis, sebagai kado buat kalian berdua."
Tawaran tulus tersebut membuat Fadillah dan Dara terharu, menyadari betapa beruntungnya mereka memiliki lingkaran pertemanan yang begitu solid dan saling mendukung, jauh melampaui sekadar hubungan pertemanan biasa.
Di sisi lain, persiapan pernikahan tersebut juga melibatkan keluarga besar Bagus dari Surabaya. Anton, yang telah sepenuhnya menerima Fadillah sebagai saudara, menawarkan diri untuk membantu mengurus akomodasi bagi keluarga besar yang akan datang dari luar kota, sementara Dewi sibuk membantu Dara mempersiapkan berbagai keperluan pernikahan dari sisi perempuan.
"Kak Fadillah," kata Dewi suatu hari melalui video call, "Kak Dara udah pilih gaun pengantinnya? Kalau belum, aku ada beberapa rekomendasi desainer bagus di Surabaya."
Keterlibatan aktif keluarga besar tersebut semakin memperkuat rasa kebersamaan yang telah lama dirindukan Fadillah, sebuah kebersamaan yang dulu tidak pernah dia bayangkan bisa dia miliki mengingat masa lalunya yang penuh misteri dan kesendirian.
Beberapa minggu menjelang hari besar tersebut, Anton—saudara tiri tertua yang telah lama berdamai dengan Fadillah sejak pertemuan pertama mereka—tiba-tiba menghubungi Fadillah dengan permintaan yang mengejutkan sekaligus mengharukan.
"Fadillah," kata Anton melalui telepon, suaranya terdengar hangat dan penuh kesungguhan, "gue udah mikir lama soal ini. Gue tau dulu gue yang paling susah nerima kehadiran lo di keluarga ini. Makanya, gue pengen nebus itu."
"Nebus gimana, Bang?" tanya Fadillah penasaran.
"Gue mau nanya," lanjut Anton, "boleh nggak gue jadi salah satu yang nganterin lo ke pelaminan? Sebagai simbol, kalau kita beneran udah jadi saudara sekarang, dan gue nggak nyesel udah nerima lo jadi bagian keluarga ini."
Permintaan tersebut membuat Fadillah tidak bisa menahan air matanya, sebuah momen yang menandakan bahwa perjalanan panjangnya menemukan dan diterima oleh keluarga kandungnya akhirnya mencapai puncak yang paling indah, tepat menjelang hari pernikahannya sendiri.