Malam sebelum hari pernikahan yang telah dinanti-nantikan tersebut, suasana di rumah Fadillah dipenuhi dengan kesibukan dan kehangatan yang jarang terjadi sebelumnya. Keempat sahabatnya sengaja menginap untuk menemani Fadillah menghadapi momen besar dalam hidupnya, sebuah tradisi kecil yang mereka ciptakan sendiri sebagai bentuk dukungan terakhir sebelum babak baru kehidupan Fadillah dimulai secara resmi.
"Bang Dil, lo gugup nggak?" tanya Rifky sambil membantu menata beberapa perlengkapan yang akan digunakan untuk acara akad nikah keesokan harinya.
"Gugup banget," aku Fadillah jujur, tangannya sedikit gemetar saat mencoba merapikan jas pengantin yang akan dia kenakan. "Padahal gue udah nunggu momen ini seumur hidup, tapi tetep aja rasanya kayak mau ujian besar."
Hendra, yang duduk santai sambil menikmati kopi malam itu, mencoba mencairkan suasana dengan candaan khasnya. "Wajar aja, Bang. Lo kan baru pertama kali ngerasain jadi pengantin, beda sama kita yang udah pengalaman—walau pengalaman kita berakhir cerai sih."
Candaan tersebut berhasil membuat Fadillah tertawa, sedikit meredakan ketegangan yang dia rasakan menjelang hari besar tersebut. "Makasih, Hen, selalu bisa bikin gue ketawa di saat-saat kayak gini."
Saputra, yang biasanya paling sedikit berbicara, menyempatkan diri memberikan nasihat yang mendalam menjelang momen penting tersebut. "Bang Dil, dari pengalaman gue sendiri, pernikahan itu bukan soal jadi sempurna. Ini soal komitmen buat terus belajar bareng, ngadepin apapun bareng-bareng. Selama itu diinget, insya Allah semuanya bakal baik-baik aja."
Kata-kata bijak tersebut memberikan Fadillah ketenangan tambahan, mengingatkannya bahwa pernikahan bukanlah akhir dari sebuah cerita sempurna, melainkan awal dari perjalanan baru yang penuh dengan proses pembelajaran bersama pasangan hidupnya.
Faiz, yang selama ini menjadi sosok paling bijaksana di antara mereka, menambahkan perspektif yang menyentuh. "Bang Dil, gue inget banget waktu pertama kali lo cerita soal Sri, soal semua kerumitan masa lalu lo. Sekarang liat lo di sini, siap buat nikah dengan hati yang utuh. Itu perjalanan yang luar biasa."
Mendengar nama Sri disebut, Fadillah terdiam sejenak, teringat akan ibu kandungnya yang telah tiada namun perannya begitu besar dalam membentuk perjalanan hidupnya menuju kebahagiaan yang dia rasakan saat ini. "Gue harap, Sri bisa liat ini dari atas sana," katanya pelan, suaranya bergetar menahan haru. "Gue harap dia bangga sama gue."
Keheningan sejenak menyelimuti ruangan tersebut, sebuah keheningan yang penuh makna, menghormati kenangan tentang perempuan yang telah mengorbankan begitu banyak hal demi kebahagiaan anaknya, meski dia sendiri tidak sempat menyaksikan hari bahagia tersebut secara langsung.
"Dia pasti bangga, Bang," kata Rifky lembut, memecah keheningan tersebut. "Dan dia pasti seneng banget liat lo dikelilingi orang-orang yang beneran sayang sama lo, baik itu keluarga kandung maupun keluarga yang lo bangun sendiri kayak kita."
Malam itu berlanjut dengan obrolan hangat yang bercampur antara canda tawa dan momen-momen reflektif, sebuah malam yang akan selalu dikenang oleh kelima sahabat tersebut sebagai salah satu momen paling berkesan dalam perjalanan panjang persahabatan mereka. Menjelang tengah malam, sebelum akhirnya mereka semua tertidur untuk mempersiapkan energi bagi hari besar esok, Fadillah menyempatkan diri untuk mengirim pesan singkat kepada Bagus.