Sumbersari, Maret 1979
Hujan turun sejak sore, tipis tetapi tak mau berhenti, seperti sesuatu yang sengaja menahan diri agar tidak menjadi badai.
Sri duduk di teras rumah kayu itu dengan lampu minyak di sampingnya. Di pangkuannya ada bungkusan kain batik yang hangat dan bergerak pelan. Bayi perempuan itu baru beberapa hari melihat dunia, dan ia tertidur dengan kepalan kecil menempel di dagunya, tak tahu bahwa malam itu hidupnya akan dipindahkan dari satu rumah ke rumah lain.
Di ambang pintu, Ratih berdiri dengan koper kecil di tangan. Wajahnya pucat, matanya sembab, tetapi punggungnya tegak, seakan ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak runtuh di depan kakaknya.
“Mobil Pak Hardjo sebentar lagi sampai,” kata Sri pelan. “Keluarga di Malang itu orang baik. Pak Hardjo sudah bertahun-tahun kenal mereka.”