Kereta yang membawa Fadillah dan Saputra menuju Surabaya baru saja melewati Semarang ketika Fadillah untuk ketiga kalinya membuka kembali foto surat yang dikirimkan Anton beberapa hari lalu, seolah berharap ada detail baru yang akan muncul dari layar ponselnya yang sama. “Bang Dil, lo udah liat itu ratusan kali kayaknya,” kata Saputra, menyeruput kopi kemasan yang dibelinya dari petugas kereta. “Nggak akan ada yang berubah dari fotonya.”
“Gue tau,” Fadillah menghela napas, menyandarkan kepalanya ke jendela kereta yang menampilkan pemandangan sawah yang berlarian ke belakang. “Tapi entah kenapa, tiap gue baca lagi, selalu ada perasaan kayak ada yang kelewat gue tangkep.”
Surat tersebut, yang ditulis dengan tinta yang mulai memudar, berisi kalimat-kalimat yang meski singkat, menyimpan begitu banyak pertanyaan yang belum terjawab. “Untuk kakakku tersayang, Sri, aku titipkan amanah ini padamu. Jaga baik-baik, jangan sampai ada yang tahu, demi kebaikannya sendiri.”
Kalimat tersebut, yang ditandatangani oleh Ratih Kusuma, tidak menyebutkan secara eksplisit “amanah” apa yang dimaksud, namun nada permintaan tersebut terasa begitu mirip dengan situasi yang pernah dialami Sri sendiri terhadap Fadillah puluhan tahun lalu. “Menurut lo, ‘amanah’ yang dimaksud itu apa, Put?” tanya Fadillah, meski dia tahu Saputra pun tidak memiliki jawaban pasti. Saputra terdiam sejenak, mempertimbangkan kata-katanya dengan hati-hati seperti biasa. “Kalau pola pikirnya sama kayak yang kejadian sama Sri dan lo, kemungkinan besar itu soal anak, Bang. Entah anak Ratih sendiri, atau anak orang lain yang dititipin ke dia, terus dia titipin lagi ke Sri.”
“Kalau bener begitu,” kata Fadillah pelan, “berarti ada orang lain yang ngalamin apa yang gue alamin. Hidup penuh pertanyaan tanpa tau harus nyari jawaban ke mana.”
Saputra menyeruput kopinya, matanya masih menatap lurus ke jendela kereta. “Bang, gue baru sadar sesuatu. Keluarga besar lo ini kayak sinetron, tapi budgetnya production house kelas warung kopi. Baru kelar season satu—ketauan siapa bapak kandung siapa—eh, season dua langsung buka lagi sama misteri baru. Kapan tamatnya coba?”
“Daripada lo, Put. Diem-diem tapi sekalinya ngomong pedes,” balas Fadillah, akhirnya tertawa kecil untuk pertama kalinya sejak keberangkatan mereka dari Jakarta. Kereta terus melaju menuju Surabaya, kota yang telah menjadi saksi pertemuan mengharukan Fadillah dengan Bagus dan keluarga besarnya beberapa tahun sebelumnya. Kali ini misinya berbeda —bukan lagi mencari jati diri sendiri, melainkan mengungkap rahasia yang mungkin menyangkut kehidupan orang lain yang belum pernah mereka temui. Sesampainya di stasiun, Anton telah menunggu dengan mobilnya, wajahnya menunjukkan campuran antara antusiasme dan kegugupan yang sama seperti yang dirasakan Fadillah. “Fadillah, Saputra, selamat datang,” sapanya sambil membantu membawakan salah satu tas mereka. “Gue udah siapin semua dokumen yang gue temuin di gudang, sekalian ngundang Bapak buat ikut diskusi kita nanti.”
Fadillah memperhatikan map plastik tebal yang dijepit Anton di ketiaknya, lengkap dengan sticky note warnawarni menempel di beberapa sisi. “Ton, itu map apaan? Kayak mau presentasi ke investor.”
“Ini gue susun semalaman, Bang,” jawab Anton bangga, membuka map tersebut sedikit untuk memamerkan isinya yang tertata rapi per kategori. “Ada timeline, ada daftar nama, bahkan gue bikin diagram keluarga pake spidol warna beda-beda.”
Saputra mengintip sekilas dari balik bahu Fadillah. “Niat banget, Ton. Kirain lo cuma mau jemput kita, ternyata udah siapin bahan buat gelar perkara.”
“Namanya juga baru punya hobi baru,” Anton menyeringai tanpa rasa bersalah sedikit pun. “Lagian, siapa tau kita nemu kasusnya gede, terus ada yang nawarin bikin serial dokumenter. Gue mau kebagian jadi narasumber utama.”
“Ton,” Fadillah menepuk pundaknya sambil menahan tawa, “ini masih tahap nyari sepupu, bukan syuting Mata Najwa.”
Perjalanan menuju rumah keluarga besar dipenuhi obrolan tentang berbagai kemungkinan seputar misteri Ratih Kusuma, meski semuanya masih spekulasi tanpa bukti kuat. Sesampainya di rumah, Bagus—rambutnya kini semakin memutih dimakan usia—menyambut mereka di ruang tamu dengan sebuah kotak kayu tua yang telah lama tersimpan di gudang. “Ini kotak yang gudang temuin bareng surat itu,” jelas Bagus sambil membuka kotak tersebut perlahan, mengeluarkan beberapa dokumen dan foto lama yang telah menguning dimakan waktu. “Bapak sendiri kaget pas liat isinya. Selama ini Bapak nggak pernah tau soal Ratih ini.”
Fadillah memilah dokumen-dokumen tersebut satu per satu. Di antara tumpukan kertas tua tersebut, dia menemukan sebuah foto hitam putih yang menampilkan dua perempuan muda berdiri berdampingan di depan sebuah rumah sederhana— salah satunya, dari raut wajah yang familiar, tampak seperti Sri di usia muda, sementara yang lainnya, meski wajahnya agak mirip, memiliki senyum yang berbeda, lebih berani dan penuh percaya diri. “Ini pasti Ratih,” gumam Fadillah, menunjukkan foto tersebut kepada Saputra dan Anton. “Liat, dia mirip banget sama Sri, tapi ekspresinya beda.”