4in1: Rahasia yang Tertinggal

Bobby Mahmud
Chapter #5

Bab 2 - Cerita Mbah Painah

“Kami cucu jauh dari keluarga Kusuma, Bu,” jawab Fadillah cepat, mencoba terdengar meyakinkan meski jantungnya berdebar kencang. “Kami lagi nyari tau soal riwayat keluarga, khususnya soal Ibu Ratih.”

Nenek tua tersebut, yang belakangan mereka ketahui bernama Painah, menatap ketiganya lama sebelum akhirnya mengangguk pelan, seolah memutuskan bahwa tamu-tamu asing di depannya ini pantas dipercaya. “Ratih,” gumamnya lagi, kali ini dengan nada yang lebih lembut. “Sudah empat puluh lima tahun lebih saya nggak denger nama itu disebut. Ayo, masuk. Nggak enak ngobrol berdiri-diri di depan warung begini.”

Mereka bertiga mengikuti Mbah Painah masuk ke dalam rumahnya yang sederhana, berlantai tanah dengan dinding anyaman bambu yang sudah dimakan usia. Seorang perempuan muda—cucunya, seperti yang kemudian dijelaskan Mbah Painah— menyediakan teh hangat untuk para tamu sebelum kembali sibuk di dapur. “Jadi,” Mbah Painah memulai setelah semua orang duduk, “kalian mau tau apa soal Ratih?”

“Apa aja yang Ibu inget, Bu,” jawab Fadillah. “Kami denger, ada kejadian besar di keluarga itu sekitar tahun tujuh puluh delapan.”

Mbah Painah menghela napas panjang, matanya menerawang jauh seolah menembus waktu kembali ke masa mudanya. “Waktu itu saya masih remaja, seumuran sama Ratih. Kami temenan, walau nggak terlalu deket. Ratih itu anaknya berani, beda sama kakaknya, Sri, yang lebih pendiam dan penurut.”

“Ratih pergi ke kota waktu masih muda, itu yang kami denger,” Anton menambahkan, mencoba memancing lebih banyak cerita. “Betul,” Mbah Painah mengangguk. “Dia pergi ikut truk sayur, katanya cuma mau lihat-lihat kota. Tapi lama-lama dia nggak pernah bener-bener pulang lagi. Kerja jadi pelayan di rumah makan, terus ketemu sama orang asing, pelaut kalau nggak salah, dari negeri seberang.”

Fadillah dan Saputra saling pandang, informasi ini mulai membangun gambaran yang semakin jelas, meski masih banyak potongan yang belum tersambung. “Terus, Bu? Apa yang terjadi setelah itu?”

“Nah, ini yang jadi rahasia gede waktu itu,” Mbah Painah menurunkan suaranya, meski hanya mereka berempat yang ada di ruangan itu. “Ratih hamil. Tapi bapaknya si anak itu pelaut yang udah balik ke negerinya, nggak pernah tau soal kehamilan itu, atau mungkin tau tapi nggak peduli, saya nggak yakin persis. Yang jelas, Ratih pulang ke Sumbersari dalam keadaan hamil tua, dan itu jadi aib besar buat keluarga kami waktu itu.”

“Terus gimana keluarganya nyikapin itu?” tanya Saputra, suaranya tenang namun penuh perhatian. “Ayah Ratih, kakek buyut kalian kalau bener kalian masih keturunan Kusuma,” Mbah Painah menatap mereka bertiga bergantian, “orangnya keras banget soal nama baik keluarga. Dia sampe nggak mau ngakuin Ratih sebagai anak lagi. Untungnya Sri, kakaknya, yang selalu jadi penengah, berusaha keras ngelindungin Ratih dari amukan bapaknya.”

Lihat selengkapnya